Menu

Sabtu, 14 September 2019, 14:30 WIB

Temuan Baru Penyebab Keracunan Bantargadung, Ada Bakteri dari Hewan

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Harun Alrasyid (kanan, memakai batik) dan Camat Bantargadung. | Sumber Foto:Nandi

SUKABUMIUPDATE.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi membeberkan hasil investigasi di lapangan yang dilakukan untuk mengetahui penyebab ratusan orang mengalami keracunan massal di Kampung Pangkalan, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi.

BACA JUGA: Pengajian Berujung Musibah, Cerita Aef Sebelum Keracunan Nasi Uduk Bantargadung Terjadi

Plt Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Harun Alrasyid menyebut, fakta-fakta yang ditemukan dari identifikasi lapangan, serta hasil investigasi melalui penyelidikan epidemologi, ditemukan beberapa rekomendasi, khususnya dalam hal perbaikan sanitasi dasar.

"Sanitasi dasar ini bisa dicapai melalui STBM, atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Dari hasil pemeriksaan sementara, diambil dari sediaan feses atau tinja, itu ditemukan bakteri Campylobacter Jejuni (Kampilobakter). Bakteri ini akan sangat cepat perkembangannya pada suhu di musim kemarau," beber Harun kepada sukabumiupdate.com, Jumat (13/9/2019).

BACA JUGA: Keracunan Massal Bantargadung, Bupati Minta Dinkes Telusuri Sumber Bahan Menu Nasi Uduk

Lanjut Harun, Campylobacter Jejuni salah satunya bisa menyebar melalui hewan. Harun mengacu pada sediaan feses yang diambil. Bakteri bisa pada daging ayam dan telur.

"Kita lihat di lapangan masih ada tinja-tinja tikus. Mungkin dari hewan itu. Kemudian kita lihat ada perubahan warna yang signifikan pada telur. Yang harusnya warna kekuningan jadi warna merah. Itu yang memicu Guillain-Barre Syndrome (GBS)," lanjutnya.

BACA JUGA: Keracunan Massal Bantargadung, Sumber Makanan Pengolahan dan Penyajian yang Salah?

Masih kata Harun, GBS merupakan sebuah gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf. GBS bisa memicu rasa sakit kepala, pusing, nyeri badan yang luar biasa kepada penderitanya. Disusul mual, muntah dan mencret.

"Dan yang paling berbahaya itu bisa mematikan atau melumpuhkan syaraf di dalam tubuh kita. Yang mungkin akhirnya, karena kecepatan berkembang biak dari suhu musim panas, bisa menimbulkan kematian. Hal itu dibuktikan setelah kemarin ada dua orang meninggal dunia. Meski dari dua orang yang meninggal tersebut ditemukan penyakit penyerta. Jadi keracunan ini hanya sebagai pemicunya," pungkas Harun.

Reporter : NANDI
Redaktur : HERLAN HERYADIE
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Penyebab keracunan massal yang dialami warga Kampung Babakan, Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan masih dalam penyelidikan polisi. Sebelumnya puluhan warga Kampung Babakan mendadak mual, pusing hingga muntah. Kejadian tersebut...

SUKABUMIUPDATE.com - 15 orang warga Babakan, Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Cibuntu, Senin (16/9/2019) malam. BACA JUGA: Kondisi Terkini KLB Keracunan...

SUKABUMIUPDATE.com - Kondisi warga Kampung Pangkalan, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, mulai membaik pasca peristiwa keracunan massal. Kendati demikian masih ada warga yang harus dirujuk ke RSUD Palabuhanratu pada Minggu...

SUKABUMIUPDATE.com - Praktisi hukum sekaligus Sekretaris Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum, Universitas Nusa Putra (NPU) Sukabumi, CSA Teddy Lesmana menegaskan, mahasiswa wajib memiliki mental disiplin sebagai ciri utama insan...

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya