Light Dark

Mengapa Harga Minyak Dunia Menjadi Naik?

Internasional | 19 Jan 2022, 09:23 WIB
(Ilustrasi) Tambang minyak. | via oilandgasiq.com

SUKABUMIUPDATE.com - Harga Minyak dunia di seluruh pasar global pada perdagangan hari Rabu (19/1/2022) naik ke level tertinggi sejak 2014. 

Melansir dari tempo.co, sejumlah investor bahkan khawatir dengan situasi ketegangan politik global yang melibatkan produsen utama seperti Uni Emirat Arab dan Rusia, dapat memperburuk prospek pasokan Minyak yang kini sudah ketat.

Harga Minyak mentah berjangka Brent naik 1.03 USD atau 1,2 persen, menjadi 87.51 USD per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir naik 1.61 USD atau 1,9 persen lebih tinggi pada 85.43 USD per barel.


Advertisement

Kenaikan Minyak mentah Brent dan WTI telah menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2014. Beberapa sumber OPEC seperti dikutip Reuters mengatakan, Minyak 100 USD per barel tidak di luar jangkauan.

Baca Juga :

photoStatistik harga minyak dunia selama periode Desember 2021 - Januari 2022. - (via tradingeconomics.com)


Advertisement

Kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan Minyak meningkat pada pekan ketiga bulan Januari 2022 ini terjadi setelah kelompok Houthi Yaman menyerang Uni Emirat Arab. Hal ini mengakibatkan naiknya tensi permusuhan antara kelompok yang berpihak pada Iran dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

"Kerusakan pada fasilitas Minyak UEA di Abu Dhabi tidak signifikan, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang gangguan pasokan yang lebih banyak lagi di kawasan itu pada 2022," kata analis senior pasar Minyak Rystad Energy, Louise Dickson.

Perusahaan Minyak UEA ADNOC mengatakan, telah mengaktifkan rencana kesinambungan bisnis untuk memastikan pasokan produk yang tidak terputus ke pelanggan lokal dan internasional setelah insiden di depot bahan bakar Mussafah.

Rusia mengirimkan pasukan dalam jumlah besar di dekat perbatasan Ukraina yang diperkirakan memicu kekhawatiran terjadinya invasi. Sementara, pejabat AS dan Jerman telah membahas cara untuk menghalangi Rusia yang mencakup berhentinya pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia ke Eropa tengah.

Pada saat yang sama, produsen dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sedang berjuang untuk memompa produksi Minyak pada kapasitas yang diizinkan, berdasarkan perjanjian OPEC+ dengan Rusia dan sekutunya untuk menambah 400.000 barel per hari setiap bulan.

OPEC berpegang pada perkiraannya bahwa ada pertumbuhan yang kuat dalam permintaan Minyak dunia pada tahun 2022, meskipun varian virus corona Omicron semakin merebak dan perkiraan bahwa Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga.

Analis Goldman Sachs memperkirakan, persediaan Minyak di negara-negara OECD turun ke level terendah sejak 2000 pada musim panas, dengan harga Minyak Brent naik menjadi 100 USD per barel pada akhir 2022.

Sumber: tempo.co

Image

Admin SUpdate

Image

Muhammad Gumilang

Redaktur