Light Dark

Hanjeli Waluran Mandiri Sukabumi, Jadi Jawara Ajang One Village One Story

Sukabumi | 27 Aug 2021, 09:00 WIB
Ladang Hanjeli di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi. | Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Pangan lokal Hanjeli dari Desa Waluran Mandiri terpilih sebagai juara pertama dalam lomba One Village One Story yang digelar Yayasan Duta pariwisata dan Kebudayaan Indonesia Sukabumi bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 24 hingga 26 Agustus 2021 di Hotel Augusta.

Peserta ajang One Village One Story atau OVOS berasal dari seluruh desa di Kabupaten Sukabumi. Tetapi, yang masuk sebagai nominasi hanya 33 desa, di mana selanjutnya ikut penjurian. Dalam lomba ini, setiap peserta mempresentasikan potensi yang ada di desanya, baik pangan, seni budaya, maupun wisata.


Advertisement

"Desa Waluran Mandiri bercerita tentang pangan lokal Hanjeli, pemberdayaan lokal buruh migran, dan rumah baca Saung Sauyunan Literasi," kata peserta dari Waluran Mandiri Asep Hidayat kepada sukabumiupdate.com, Kamis, 26 Agustus.

Menurut Asep, potensi lokal Hanjeli sebagai pangan alternatif terus mengonservasi agar panganan lokal tidak punah. Termasuk soal pemberdayaan yang berbasis zero rupiah alias tanpa biaya. "Juga ada kolaborasi pentahelix dengan unsur akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media, salah satunya sukabumiupdate.com karena telah mengekspos hanjeli," kata dia.

Asep mengaku telah melakukan riset tentang Hanjeli sejak 2010, yang selanjutnya dikembangkan menjadi usaha mikro kecil menengah atau UMKM pada 2013, dan mulai pemberdayaan pada 2015 dengan konsep eduwisata. "Dulu luas kebun Hanjeli hanya sekira satu hektare, sekarang lima hektare lebih yang tersebar di beberapa kampung dan desa lain, dengan pola tanam tumpang sari," paparnya. "Bahkan ada yang dari Kecamatan Lengkong dan Desa Bojonglopang, Kecamatan Jampang Tengah."

Selain Hanjeli, Desa Waluran Mandiri juga berbicara ihwal pemberdayaan, terutama buruh migran, lewat konsep Pirus atau Pipir Imah Diurus. Ini menjadi bagian dari ketahanan pangan skala keluarga, salah satunya dengan menanam sayuran. Sementara juara kedua lomba OVOS diraih Desa Waluran lewat Tari Liliuran. Juara ketiga dari Desa Cisande, Kecamatan Cicantayan.


Advertisement

photoPenganugerahan One Village One Story di Hotel Augusta, Kabupaten Sukabumi. - (Istimewa)

Baca Juga :

Apa Manfaat Hanjeli?

Menukil penjelasan di website Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Hanjeli (Coix lacyma-Jobi L.) merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian tropis dari suku padi-padian atau Poaceae. Tanaman ini berasal dari Asia Timur dan Malaya, namun sekarang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa varietas memiliki biji yang dapat dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan obat.

Hanjeli adalah nama populer di daerah Jawa Barat (Sunda), sedangkan nama popular Indonesia adalah Jali atau Jali-jali. Tanaman ini menyebar di berbagai ekosistem lahan pertanian yang beragam dari daerah iklim kering, basah, lahan kering, maupun lahan basah di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa.

Ada dua varietas yang ditanam orang, yaitu Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi yang memiliki cangkang keras berwarna putih, bentuk oval dan dipakai untuk mani-manik. Varietas yang lainnya adalah Coix lacryma-jobi var. mayuen yang dimakan orang dan juga menjadi bagian dari tradisi pengobatan di Tiongkok.

Jali merupakan rumpun setahun, rumpunnya banyak, batangnya tegak dan besar, tinggi 1-3 meter, akarnya kasar dan sulit dicabut. Letak daunnya berseling, helaian daun berbentuk pita, ukuran daun 8-100x1-5 sentimeter, ujung daun runcing, pangkalnya memeluk batang, dan tepinya rata.

Bunga keluar dari ketiak daun dan ujung percabangan, berbentuk bulir. Buahnya berbentuk buah batu, bulat lonjong, pada varietas mayuen berwarna putih/biru-ungu dan berkulit keras apabila sudah tua. Jenis buah yang dibudidayakan lunak dan dapat dibuat bubur, sedangkan jenis liar keras dan dapat digunakan untuk manik-manik pada kalung.

Di Jawa Barat, tanaman ini masih ditanam secara konvensional sebagai tanaman langka dan dapat ditemukan di Punclut Kabupaten Bandung, Cipongkor, Gunung Halu, Kiarapayung, Rancakalong, Tanjungsari Kabupaten Sumedang, Sukabumi, Garut, Ciamis, dan Indramayu.

Masyarakat setempat sudah biasa menikmati hasil olahan Hanjeli sebagai bubur, tape, dodol, dan sebagainya. Bagian biji dari varietas mayuen mengandung gisi setara beras, yaitu dalam 100 gram bahan mengandung karbohidrat (76,4 persen), protein (14,1 persen), lemak nabati (7,9 persen), dan kalsium (54 miligram).

Sebagai bahan makanan, beberapa potensi pemanfaatan biji Hanjeli adalah: sebagai campuran beras ataupun digunakan nasi Hanjeli; campuran makanan sereal lainnya, misalnya campuran havermut (oatmeal), seperti produk yang dibuat oleh salah satu produsen makanan sereal terkemuka Taiwan; bubur Hanjeli (dengan rasa manis seperti bubur kacang hijau), dan sebagai teman kolak; difermentasi seperti tape ketan berbeda dengan beras ketan yang bersifat lengket, karena Hanjeli memiliki tekstur yang kenyal namun tidak lengket, sehingga sangat berpotensi untuk diolah menjadi alternatif makanan yang enak.

Selain sebagai sumber pangan pokok, Hanjeli juga sangat potensial sebagai tanaman obat. Sebagai bahan obat herbal, Hanjeli dipercaya memiliki berbagai khasiat seperti peluruh air seni dan antitumor (kanker). Sumber zat aktif obat diperoleh baik dari biji maupun ekstrak akarnya. Khasiat sebagai antitumor telah diteliti secara ilmiah. Zat aktif dalam Hanjeli disebut coixenolide.

Image

Ragil Gilang

Reporter

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur