Light Dark

Gunung Gede : Pusat Kosmos Suku Sunda

Travel | 08 Jun 2021, 07:00 WIB
(Ilustrasi) Gunung Gede dan masyarakat Sunda | Commons Wikimedia

SUKABUMIUPDATE.com - Masyarakat Sunda yang berada di wilayah Jawa Barat memiliki hubungan transendental khusus dengan Gunung Gede selama berabad-abad silam. Gunung purba yang tengah tertidur ini menjadi salah satu objek pendakian favorit bagi para pendaki, hingga muncul sebuah peribahasa di kalangan pendaki yang mengatakan, belum afdol rasanya jika belum menaklukkan Gunung Gede ini.

Gunung Gede atau yang kini disebut Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), merupakan sebuah objek wisata alam yang terkenal di wilayah Jawa Barat. Gunung ini berada di dua wilayah perbatasan antara Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. 

Tercatat hingga tahun 2020, menurut informasi yang diunggah oleh akun Instagram @ayoketamannasional yang dikelola Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, TNGGP berhasil menduduki peringkat pertama sebagai taman nasional yang paling banyak dikunjungi.  

Baca Juga :

Salah Satu Taman Nasional Pertama di Indonesia

photoGunung Gede Pangrango - (Pinterest)

Pada tahun 1980, diwakili oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Soedarsono Hadisapoetro, saat itu Indonesia mengumumkan memiliki lima kawasan suaka alam yang kemudian dikenal sebagai Taman Nasional. 

Pemilihan suaka alam tersebut berdasarkan pertimbangan keanekaragaman hayati serta satwa-satwa endemik dan ikonik yang dimiliki oleh kelima kawasan tersebut. 

Lima Taman Nasional tersebut adalah Gunung Leuser (Aceh dan Sumatera Utara), Ujung Kulon (Banten), Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), Baluran (Jawa Timur) dan Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur).

Baca Juga :

Kondisi Geografis Gunung Gede 

photoPemandangan Gunung Gede dari atas puncak - (catatanmuslim.com)

TNGGP diselimuti oleh hutan pegunungan yang mencakup zona montana (hutan pegunungan atas antara 1.000 - 2.400 Mdpl, red), sub montana (sub-pegunungan atau disebut juga hutan pegunungan bawah antara ketinggian 1.000 - 1.500 Mdpl, red) dan sub alpin (di atas ketinggian 2.400 Mdpl, red).

Hutan TNGGP memiliki berbagai aneka ragam flora. Di sana bisa ditemukan berbagai habitat dan spesies tumbuhan unik dan langka, serta ditinggali oleh satwa-satwa langka dan dilindungi seperti Owa Jawa, Lutung dan Elang Jawa. 

TNGGP tidak hanya diperuntukan bagi para pendaki saja, Anda yang menginginkan berwisata alam bersama teman atau keluarga bisa menikmati keindahan alam yang disajikan gunung ini. 

Ada Curug Cibeureum, Telaga biru, Kandang batu dan kandang Badak, puncak dan kawah Gunung Gede serta hamparan bunga Edelweiss di padang savana alun-alun Suryakencana.

Alun-alun Suryakencana

photoAlun-alun Suryakencana Gunung Gede - (Pinterest)

Alun-alun Suryakencana berada di atas ketinggian 2.750 Mdpl di puncak Gunung Gede Pangrango. 

Padang savana seluas 50 hektar ini dilengkapi panorama bunga Edelweiss yang tak pernah berhenti memancarkan pesonanya. 

Sekadar pengingat, jika Anda berkesempatan datang dan melihat bunga edelweiss, jangan mencoba untuk memetiknya, karena bunga Edelweiss adalah bunga langka yang dilindungi habitatnya. 

Bahkan ada yang menyebut, alun-alun Suryakencana dijuluki sebagai 'Pecahan Surga' yang tersisa di Bumi. 

Betapa tidak, selain keindahan bunga Edelweiss dan hamparan savana yang hijau, di sebelah Utara alun-alun Suryakencana ada juga Lembah Mandalawangi. 

Lembah Mandalawangi atau lebih dikenal dengan 'Lembah Kasih', adalah sebuah lembah yang keberadaannya dituliskan seorang penulis terkenal, Soe Hok Gie dalam salah satu karya puisinya.

Proses Terbentuknya Gunung Gede dari Zaman Purba

photoKawah Gunung Gede - (Pinterest)

Menurut sejarawan Sukabumi, Irman Firmansyah, Gunung Gede Pangrango yang dikenal saat ini merupakan 'Gunung Muda' aktif yang terbentuk sekira tiga juta tahun yang lalu.  

Gunung Gede Pangrango sendiri terbentuk dari benturan lempeng Oseanik, lalu tertindih oleh lempeng kontinental. Lempeng kontinental terangkat ke atas lalu membentuk pegunungan. 

Lava yang bergerak di dalam perut bumi memperbesar diameter dan ketinggian gunung. Maka muncul gunung-gunung besar dan berapi di wilayah Sukabumi, di antaranya ada Gunung Gede, Pangrango dan Salak.

Beberapa gunung juga tercipta akibat muntahan dari lahar Gunung Gede, seperti contohnya Gunung Parang. 

Sejarah Letusan Gunung Gede

photoGunung Gede Meletus - (conandole.files.wordpress.com)

Periode tahun 1747 hingga 1957, Gunung Gede tercatat mengalami letusan sebanyak 50 kali. Dalam penelitian yang dilakukan Irman, catatan pertama tentang letusan Gunung Gede dibuat pada tahun 1747, saat itu terjadi letusan hebat yang menyebabkan dua aliran lava tumpah sepanjang dua kilometer. 

Kemudian terjadi letusan lagi pada tahun 1761, kali ini berupa letusan kecil yang disertai abu vulkanik dan pada tahun 1780 juga terjadi sebuah letusan kecil.

Periode tahun 1780 hingga 1946, Gunung Gede mengalami berbagai letusan besar dan kecil di hampir setiap tahunnya. 

Hujan abu dan letusan lava menjadi fenomena alam yang sering dijumpai pada saat itu. Terakhir di tahun 1957, Gunung Gede mengalami lima kali ledakan disertai asap tebal yang membumbung hingga 500 meter ke atas langit.

Terakhir kali Gunung Gede memperlihatkan aktivitasnya pada tahun 1972 dengan memunculkan asap tebal di atas puncaknya. 

Setelah itu, Gunung Gede tak pernah lagi memperlihatkan tanda-tanda bahaya akan meletus. 

Para pendaki dan pengurus TNGGP akhirnya memutuskan bahwa Gunung Gede menjadi gunung yang aman untuk didaki dan dijadikan objek wisata alam. 

Mitos Tentang Gunung Gede

photoGunung Gede Berkabut - (Pinterest)

Gunung Gede Pangrango memiliki tempat yang kerap kali dijadikan berbagai kegiatan spiritual seperti di alun-alun Suryakencana dengan kisah Leuit Salawe Jajar, Batu Kursi, Batu Dongdang, Gua Lawa (walet) dan Lawang Sakeuteung. 

Hal ini diperkuat juga dengan anggapan bahwa Gunung Gede Pangrango merupakan tempat sakral menurut naskah Bujangga Manik.

Dalam naskah itu disebutkan, Gunung Gede Pangrango atau disebut dengan nama Bukit Ageung karena menjadi "hulu wano na Pakuan" (tempat paling tinggi di Pakuan).  

Bahkan dalam keyakinan masyarakat suku Sunda, Gunung Gede Pangrango merupakan sebuah pusat atau Datum Point (ceremonial center, red) yang disebut Mayapada. 

Sebagian besar masyarakat Sukabumi mempercayai kisah Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi adalah sosok yang menjaga Gunung Gede dari dulu hingga saat ini. 

Jalur Pendakian ke Puncak Gunung Gede

1. Jalur Cibodas

photoJalur pendakian Cibodas menuju puncak Gunung Gede - (Dok. Payung Rimba)

Jalur Cibodas adalah jalur terfavorit yang biasa dilewati oleh para pendaki. Cibodas berlokasi di wilayah Kabupaten Cianjur. Akses untuk sampai di basecamp atau pintu masuk pendakian Cibodas cukup mudah. 

Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau umum, Anda bisa langsung menuju basecamp atau shelter pertama dengan membayar tiket masuk seharga Rp 35.000. 

Memulai Pendakian

  • Pos Pendaftaran - Telaga Biru (Waktu tempuh 30 Menit)

Setelah melakukan pendaftaran di pos, Anda akan diminta memeriksa kembali barang bawaan dan perlengkapan mendaki oleh petugas. Selain itu, Anda juga akan diperingatkan untuk mematuhi aturan yang berlaku saat mendaki Gunung Gede. 

15 menit pertama perjalanan Anda, akan tampak banyak wisatawan yang mondar-mandir melakukan pemotretan atau sekedar menikmati suasana di sekitaran kaki Gunung Gede.. 

Kemudian perjalanan 15 menit selanjutnya, Anda akan dipertemukan dengan sumber air atau telaga kecil yang dinamakan "Telaga Biru". 

Telaga Biru memiliki warna air yang jernih kebiru-biruan, efek dari gangga yang ada di dasar dan pinggiran telaga.

  • Talaga Biru - Rawa Denok (Waktu tempuh 30 Menit)

20 menit dari Telaga Biru, Anda akan menuju Rawa Panyangcangan, tempat ini adalah tempat persimpangan menuju dua tujuan puncak. Yakni puncak Gede dan puncak Pangrango. 

Setelah melewati persimpangan tersebut, Anda akan menjumpai jalan yang cukup besar dan nyaman dilalui karena sudah dibenahi menggunakan jalanan beton. 

Setelah melewati Rawa Denok, Anda akan mulai merasakan jalanan menuju puncak gunung yang sesungguhnya. 

  • Pondok Pemandangan - Air Panas (Waktu tempuh 2 jam 20 menit) 

Perjalanan menuju puncak dimulai dari Rawa Denok. Di sini Anda akan disuguhi berbagai kelok tanjakan dengan jalan yang lumayan terjal. Jalanan tersebut adalah:

Rawa Denok 1 – Rawa Denok 2

Rawa Denok 2 – Batu Kukus 1

Batu Kukus 1 – Batu Kukus 2

Batu Kukus 2 – Batu Kukus 3

Batu Kukus 3 – Pondok Pemandangan

Trek yang dilalui sangat ekstrim, oleh karena itu Anda harus berhati-hati. Anda akan berjalan di atas aliran air panas yang sempit dan hanya berpegangan dengan seutas tali, kemudian di bawah aliran tersebut adalah jurang yang curam sehingga harus sangat memperhatikan langkah kaki agar tidak tergelincir. 

Sebagai tempat pemberhentian, Anda akan menemukan semacam shelter untuk merebahkan badan dan berselonjor sambil merasakan kehangatan air panas belerang yang membantu melemaskan kaki yang pegal. 

  • Air Panas - Kandang Batu (Waktu tempuh 1 jam)

Dari air panas menuju Kandang Batu memakan waktu kurang lebih satu jam, ini tergantung pada kecepatan pendaki dalam berjalan. 

Kandang Batu merupakan lapangan yang lumayan luas, bisa menampung beberapa tenda untuk istirahat. 

  • Kandang Batu - Kandang Badak (Waktu tempuh 1 Jam 10 Menit)

Setelah rehat sejenak di Kandang Batu, Anda akan melanjutkan perjalanan menuju Panca Weuleuh selama 10 menit. Panca Weuleuh merupakan air terjun kecil yang sangat indah. 

Melewati air terjun Panca Weuleuh, Anda akan bertemu dengan Kandang Badak. Kandang Badak merupakan tempat istirahat yang disediakan untuk para pendaki bermalam atau bisa saja istirahat sejenak untuk makan dan minum. 

Di sini juga tersedia air alami yang ditampung dari pegunungan, sehingga sangat segar bila dikonsumsi. 

  • Kandang Badak - Puncak Gede (Waktu tempuh 2 Jam)

Perjalanan menuju Puncak Gede merupakan perjalanan yang paling melelahkan karena harus melewati jalan yang cukup ekstrim. 

Ada dua jalur yang bisa dipilih oleh pendaki, satu melewati ‘tanjakan setan’. Kelebihan jalur ini adalah Anda bisa mencapai Puncak Gede dengan cepat, sedangkan tantangannya adalah banyaknya halangan dan rintangan ekstrim seperti kerikil dan bebatuan besar yang membuat tanjakan semakin terasa berat. 

Kemudian jalur yang kedua merupakan jalan yang memutar, jalur ini tidak terlalu ekstrim tapi memakan waktu yang jauh lebih lama untuk mencapai Puncak Gede. 

Setelah melewati jalur yang dipilih tadi, Anda akan bertemu dengan Puncak Gede yang begitu eksotis dan menawan dari ketinggian 2985 Mdpl. 

2. Jalur Gunung Putri 

photoJalur pendakian Gunung Putri menuju puncak Gunung Gede - (larutsenja.files.wordpress.com)

Jalur ini merupakan salah satu jalur menuju Puncak Gede yang cukup menantang, karena terkenal sangat berbahaya. 

Namun, jalur berbahaya tersebut akan terbayarkan dengan pemandangan indah yang didapatkan ketika tiba di salah satu pos di alun-alun Suryakencana. 

Tidak berbeda jauh dengan jalur Cibodas, akses masuk menuju jalur Gunung Putri juga bisa dilewati oleh kendaraan umum maupun pribadi.

Anda tinggal memasuki kawasan Cipanas lalu masuk ke wilayah Gunung Putri kemudian membayar tiket masuk seharga Rp 35.000. 

Memulai Pendakian 

  • Basecamp - Legok Leunca (Waktu tempuh 1 jam)

Berbeda dengan jalur Cibodas, jalur Gunung Putri didominasi dengan perjalanan yang memang sudah ekstrem sejak awal pendakian. 

Jalur ini mengharuskan pendaki langsung menuju trek pendakian ekstrim, seperti melewati perkebunan dan persawahan dengan jalan yang sangat terjal.

  • Legok Leunca - Lawang Sekateng (Waktu tempuh 3 Jam)

Perjalanan selanjutnya setelah melewati kebun dan sawah, akan dilanjutkan dengan jalanan ekstrem yang jauh dari sumber air. 

Perjalanan ini akan dirasa sangat berat karena tidak adanya sumber air yang ditemukan. 

Anda akan menuju Buntut Lutung terlebih dahulu sebelum tiba di Lawang Sekateng. Anda harus menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk menyelesaikan tahapan ini. 

  • Lawang Sekateng - Alun-alun Suryakencana (Waktu tempuh 2,5 Jam)

Anda akan bertemu dengan perjalanan yang sedikit menyeramkan, hutan yang rimbun dan gelap, selama satu setengah jam menuju Simpang Maleber. 

Setelah tiba di Simpang Maleber, Anda akan melanjutkan perjalanan menuju alun-alun Suryakencana. 

Butuh waktu kurang lebih satu jam dari Simpang Maleber menuju alun-alun Suryakencana, tempat yang dipercaya sebagai pecahan surga ini mampu menghilangkan segala rasa lelah yang dirasakan oleh para pendaki. 

  • Alun-alun Suryakencana - Puncak Gunung Gede (Waktu tempuh 30 Menit)

Jarak dari alun-alun Suryakencana ke puncak Gunung Gede bisa ditempuh hanya dengan 30 menit. 

Banyak pendaki yang memilih bersantai terlebih dahulu di Alun-alun Suryakencana untuk beristirahat sambil menghabiskan waktu di sana.

3. Jalur Selabintana

photoJalur pendakian Selabintana menuju puncak Gunung Gede - (setapakkecil.com)

Jalur Selabintana merupakan jalur terpanjang dan terlama menuju puncak Gunung Gede. 

Namun, jalur ini merupakan jalur yang paling indah dan alami dibandingkan dengan dua jalur lainnya. 

Memulai Pendakian

  • Basecamp - Cigeber (Waktu tempuh 3 Jam)

Pendakian akan diawali dengan pemandangan indah di selimuti indahnya pohon cemara. Kemudian Anda akan menyusuri bukit jalur tipis dengan kondisi kiri kanan nya terdapat jurang dengan kontur yang terus menanjak. 

Sebelum tiba di Cigeber, Anda harus sampai ke Citingar terlebih dahulu. Trek ini memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Anda akan memasuki kawasan Cigeber. Kawasan ini merupakan tempat istirahat yang bisa dihuni sementara untuk berkemah satu malam di sana. 

Sebaiknya Anda mengambil waktu istirahat yang banyak di Cigeber ini, karena setelahnya, Anda akan melalui perjalanan panjang tanpa adanya titik poin untuk beristirahat. 

  • Cigeber - Cileutik (Waktu tempuh 5 Jam)

Di tahap ini, suasana akan semakin gelap dan sepi. Layaknya uji nyali, para pendaki harus tetap berjalan di tengah kondisi hutan dengan pohon-pohon menjulang tinggi yang menutupi sinar Matahari.

Oleh karena itu, jalur ini memang tidak terlalu banyak orang yang melewatinya. Namun Anda tidak usah khawatir, karena Anda bisa beristirahat di Cileutik. 

Cileutik merupakan sebuah shelter istirahat yang berada di antara Cigeber dan Cileutik. Di sini juga, Anda akan mendapati keindahan air terjun dan udara dingin yang sangat tajam. 

  • Cileutik - alun-alun Suryakencana (Waktu tempuh 2 Jam)

Perjalanan dari Cileutik menuju alun-alun Suryakencana memakan waktu sekira dua jam. Namun, Anda harus bersiap melewati tanjakan super ekstrim yang menunggu di depan mata. 

Trek menanjak dengan kemiringan antara 45 – 60 derajat, bahkan terkadang jalur berubah seperti parit sempit yang menanjak. 

Setelah 30 menit berjalan dari tanjakan berbatu, Anda akan segera sampai di pertigaan Gunung Gemuruh. 

Arah yang harus diambil adalah arah kiri. Dari pertigaan ini jalur akan terus menurun hingga keluar hutan dan bertemu dengan padang luas yang dinamakan alun-alun Suryakencana bagian Barat.

  • Alun-alun Suryakencana - Puncak Gunung Gede (Waktu tempuh 30 Menit)

Anda bisa menikmati waktu istirahat di alun-alun Suryakencana dengan mendirikan tenda dan memakan bekal, sambil menikmati keindahan matahari terbit atau terbenam di tempat ini. 

Setelah cuaca terlihat kondusif dan memungkinkan untuk menuju Puncak Gede, silahkan melanjutkan perjalanan menuju puncak pada saat pagi atau siang hari. Hindari mendaki ke puncak saat kondisi cuaca dirasa tidak memungkinkan karena akan membahayakan keselamatan Anda.

Image

Nelis (Writer)

Reporter

Image

Muhammad Gumilang

Redaktur