Pola BAB Tidak Teratur pada Bayi: Ketahui 6 Penyebab dan Solusinya

Sukabumiupdate.com
Selasa 25 Mar 2025, 11:38 WIB
Ilustrasi penyebab bayi BAB tidak teratur (Sumber: Freepik/@pikisuperstar)

Ilustrasi penyebab bayi BAB tidak teratur (Sumber: Freepik/@pikisuperstar)

SUKABUMIUPDATE.com - Bagi ibu muda, perubahan pola buang air besar (BAB) pada bayi sering menjadi sumber kekhawatiran. Tidak seperti orang dewasa yang cenderung BAB setiap hari, pola BAB bayi, terutama yang baru lahir, bisa sangat berbeda. Hal ini sering kali bergantung pada makanan utama mereka, seperti ASI eksklusif atau susu formula.

Pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, tidak BAB hingga tiga hari atau lebih masih dianggap normal, asalkan bayi terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala lain. Namun, pola BAB yang tidak teratur pada bayi berusia di atas 6 bulan bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius, terutama jika disertai gejala lain seperti perut kembung, lemas, atau berat badan sulit bertambah.

Berikut adalah penyebab umum BAB tidak teratur pada bayi serta cara menanganinya: 

1. Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung adalah kondisi bawaan yang menyebabkan gangguan pada saraf di usus besar, sehingga menghambat pergerakan feses. Tanda-tandanya meliputi:

  • Perut bengkak.
  • Kesulitan BAB dalam 48 jam setelah lahir.
  • Muntah, termasuk muntahan berwarna hijau atau cokelat.
  • Sembelit kronis.
  • Kenaikan berat badan yang buruk.

Jika bayi menunjukkan tanda-tanda ini, segera konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi dan pengobatan.

Baca Juga: Mimisan pada Balita: Penyebab, Penanganan, dan Pencegahan

2. Intususepsi

Intususepsi terjadi ketika sebagian usus masuk ke dalam bagian usus lainnya, sehingga menyebabkan sumbatan. Kondisi ini sering terjadi pada bayi usia 3 bulan hingga 6 tahun, dengan puncaknya pada usia 5-10 bulan.

Gejalanya meliputi:

  • Nyeri perut hebat hingga bayi menarik kaki ke arah dada.
  • Gelisah, lemas, atau syok.
  • Muntah yang mengandung empedu.

Jika bayi Anda menunjukkan gejala ini, segera bawa ke fasilitas kesehatan karena intususepsi memerlukan penanganan darurat.

3. Atresia Intestinal

Atresia intestinal adalah kelainan bawaan di mana sebagian saluran cerna tidak terbentuk sempurna, sehingga terjadi sumbatan. Gejalanya meliputi:

  • Perut kembung dan membesar.
  • Muntah yang mengandung empedu.
  • Riwayat air ketuban berlebihan selama kehamilan.

Kondisi ini memerlukan intervensi medis, seperti operasi, untuk memperbaiki saluran pencernaan bayi.

4. Dehidrasi

Dehidrasi bisa menyebabkan konstipasi pada bayi. Hal ini sering terjadi saat bayi sedang tumbuh gigi, sakit, atau menolak minum susu. Kekurangan cairan membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.

Pastikan bayi mendapatkan cairan yang cukup, baik dari ASI, susu formula, atau air jika sudah mulai mengkonsumsi makanan padat.

5. Perkenalan Makanan Padat

Saat bayi mulai mencoba makanan padat, sistem pencernaannya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Perubahan ini dapat menyebabkan konstipasi sementara.

Baca Juga: 5 Langkah Praktis Atasi Gigitan Serangga pada Anak Tanpa Panik

  • Perkenalkan makanan padat secara bertahap.
  • Pastikan makanan bayi kaya serat, seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Berikan cukup cairan untuk membantu melunakkan feses.

6. Pergantian Susu

Pergantian dari ASI ke susu formula, atau perubahan merek susu formula, dapat mempengaruhi pola BAB bayi. Susu formula lebih sulit dicerna dibandingkan ASI, sehingga dapat menyebabkan konstipasi.

  • Lakukan pergantian susu secara bertahap.
  • Jangan langsung menghentikan pemberian ASI.
  • Konsultasikan dengan dokter jika bayi terus mengalami konstipasi setelah pergantian susu.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Setiap bayi memiliki pola BAB yang berbeda. Namun, segera konsultasikan ke dokter jika bayi Anda mengalami:

  • Tidak BAB lebih dari 1 minggu (pada bayi ASI eksklusif).
  • Tidak BAB setidaknya sekali sehari (pada bayi susu formula).
  • Menangis kesakitan saat BAB.
  • Kotoran berwarna merah marun, berdarah, putih, abu-abu, atau hitam.
  • Banyak lendir di tinja.
  • Perubahan signifikan pada pola BAB yang disertai gejala lain, seperti demam atau lemas.

BAB tidak teratur pada bayi bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi normal seperti adaptasi makanan hingga masalah kesehatan serius. Dengan memahami penyebab dan cara menanganinya, orang tua dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan bayi. Jika ragu atau menemukan gejala yang mencurigakan, selalu konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran medis yang tepat.

Sumber: healthychidlren

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini