Light Dark

Tiga Strategi Pulihkan IKM Kabupaten Sukabumi yang Babak Belur Dipukul Pandemi

Wawancara | 06 Dec 2020, 05:15 WIB

Tiga Strategi Pulihkan IKM Kabupaten Sukabumi yang Babak Belur Dipukul Pandemi

Wawancara | 06 Dec 2020, 05:15 WIB
Ujang Zulkifli | Budiono

SUKABUMIUPDATE.com - Delapan bulan lebih Pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Hal itu menyebabkan ekonomi resmi resesi pada Kuartal III tahun 2020. Industri Kecil Menengah (IKM) sebagai salah satu tulang punggung penggerak ekonomi nasional, menjadi salah satu sektor yang paling cepat terpukul pandemi.

Lalu bagaimana kondisi IKM di Kabupaten Sukabumi saat ini? Apa upaya yang telah dan akan dilakukan Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk memulihkan kembali usaha IKM ini? Berikut wawancara dengan Kepala Bidang Industri Non Agro DPESDM Kabupaten Sukabumi, Ujang Zulkifli di acara tamu mang Koko, Sabtu (5/12/2020).

Masyarakat banyak yang belum tahu apa bedanya IKM dengan UMKM, bisa dijelaskan?

IKM ini, kelompok usaha yang memproduksi bahan baku menjadi bahan setengah jadi menjadi bahan jadi. Tapi kalau UMKM, ditambah, bisa dengan dagang bisa dengan yang lain. Saya ulangi, setiap IKM pasti UMKM tapi belum tentu UMKM itu IKM.

Jadi IKM itu kelompok usaha yang memproduksi bahan baku, jadi bahan setengah jadi atau bahan jadi yang nilainya lebih dari bahan baku.

Berapa jumlah IKM di Kabupaten Sukabumi dan bagaimana kondisinya di tengah pandemi?

Dari data, IKM kita berjumlah 19.418. Dari jumlah itu, memang dimasa kuartal pertama sangat terpukul. Hampir semua terhenti proses produksi, karena masyarakat ada ketakutan, kemudian industri susah mencari bahan baku, distribusi juga tidak jalan. Sehingga di data ekonomi secara makro di pusat pun kuartal pertama itu kita minus di 5 koma sekian persen. 

Ketika kuartal kedua mulai tumbuh lagi, sehingga pertumbuhan pun tidak minus 5 tapi 2,97 persen berarti ada perkembangan tapi masih dibawah minus. Sehingga pada waktu ini produksi sudah mulai jalan. Saya terus menggali data karena memang kita terus terang kuartal kedua dan ketiga tidak punya dana untuk mengecek bagaimana [kondisi IKM] sehingga keterwakilan untuk menyerap data berapa sih yang kena pandemi, kita hanya [andalkan] telepon. 

Sehingga saya melihat data survei BPS, ternyata UMKM yang terdampak itu hampir 82 persen di seluruh Indonesia termasuk Sukabumi. IKM pun sama.

Kalau jenis usaha IKM yang paling terdampak apa saja?

Yang produk dengan bahan baku yang didatangkan dari luar. Seperti alas kaki, kebanyakan [bahan baku] impor, ini sama sekali terhenti. Tapi kalau bahan bakunya dari lokal, itu masih bisa. Yang kedua akses modal, karena IKM modalnya terbatas ketika [usahanya] stagnasi, uang tabunganya dipakai biaya hidup sehingga ketika ingin bangkit itu agak susah.

Pemerintah pusat menjalankan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), paket apa saja PEN khusus IKM?

Pertama program rekturisasi yang dilakukan apabila teman-teman pelaku IKM membeli permesinan yang berasal dari dalam negeri itu mendapat pengembalian atau cashback 30 persen. Misalkan IKM membeli mesin seharga Rp 100 juta dan transaksinya melalui perbankan dia akan dikembalikan sebesar 30 persen. Tapi kalau membelinya dari luar negeri itu akan dikembalikan sebesar 25 persen. Ini masih terus dilakukan.

Di [Sukabumi] IKM kita ada beberapa yang mengusulkan tapi hanya satu yang mendapatkan pengembalian, mudah-mudahan ke depan makin banyak. Ini kan sangat membantu untuk mengembalikan permodalan mereka [pelaku IKM]

Yang kedua, dari sisi pendamping-pendampingan itu diberikan kepada IKM-IKM yang terdampak, bagaimana mereka meningkatkan kualitas produksinya kemudian bisa mendiversivikasi produk misalnya begini awalnya menjalankan usaha dalam produk pakaian, tapi di masa Pandemi ini yang paling dibutuhkan adalah masker dan melakukan diversivikasi. Dan IKM-IKM yang seperti yang survive. 

Saya tambahan IKM yang terdampak [pandemi] itu yang memang bahan bakunya dari luar. Ini yang sekarang di Cibatu itu banyak [IKM] yang begerak di logam terutama banyak yang begerak di [produksi] spareparts kendaraan. Sehingga akibat Pandemi hampir tidak bisa melakukan usahanya kemudian tidak ada pesanan. Itu terjadi, sehingga mereka sangat merasakan dampak pandemi. Dan ini yang menjadi PR kita, bagaimana kondisi seperti ini di kuartal keempat tidak makin jatuh.

Yang ketiga e-commerce, jadi karena pangsa pasar global kita berikan pembekalan [kemampuan] para IKM itu untuk menggunakan teknologi e-commerce untuk menjual. 

Simak selengkapnya di Tamu Mang Koko Edisi 5 Desember 2020.

Image

Andri Somantri

Redaktur

Image

Andri Somantri

Redaktur

Image

Reporter