Light Dark

Vaksin Covid-19 Bikin Mandul? Simak Penjelasan Pakar

Sehat | 11 Jan 2021, 05:00 WIB

Vaksin Covid-19 Bikin Mandul? Simak Penjelasan Pakar

Sehat | 11 Jan 2021, 05:00 WIB
Botol kecil berlabel stiker "Vaccine COVID-19" dan jarum suntik medis dalam foto ilustrasi yang diambil pada 10 April 2020. | REUTERS / Dado Ruvi

SUKABUMIUPDATE.com - Banyak kekhawatiran efek samping Vaksin COVID-19, salah satunya bisa menyebabkan keMandulan. Dokter dan ilmuwan mengatakan dugaan ini tidak benar. Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan vaksin akan mempengaruhi kemampuan untuk memiliki anak atau Mandul.

Informasi menyesatkan seputar Vaksin COVID-19 dan kesuburan mengklaim vaksin mengandung protein lonjakan atau disebut syncytin-1, yang terkait dengan fungsi plasenta atau organ yang berkembang selama kehamilan untuk memberikan oksigen dan nutrisi pada bayi. Informasi ini tidak benar karena protein lonjakan virus corona sama sekali tidak mirip dengan syncytin-1, begitu kata dokter spesialis kandungan di Pusat Medis Wexner Universitas Ohio, Michael Cackovic, seperti dikutip dari Shape.

Dia menegaskan tidak ada alasan untuk percaya memblokir syncytin-1 menyebabkan keMandulan dan hal senada diungkapkan pakar penyakit menular di Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A. Adalja. Intinya, tidak ada bukti yang mendukung anggapan Vaksin COVID-19 berdampak pada kesuburan.

Para ahli kesehatan dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) setuju mengenai hal ini. ACOG merekomendasikan vaksinasi bagi individu yang berusaha untuk hamil atau sedang mempertimbangkan untuk hamil dan memenuhi kriteria untuk vaksinasi. Anda tidak perlu menunda kehamilan setelah menyelesaikan kedua dosis vaksin COVID-19.

Lebih lanjut, beberapa wanita yang berpartisipasi dalam uji klinis untuk dua vaksin (Pfizer dan Moderna) hamil selama percobaan dan tidak ada bukti ada masalah kesuburan. Selama uji coba vaksin Moderna, 13 peserta hamil, dan selama uji coba vaksin Pfizer, terjadi 23 kehamilan. Sementara satu dari kelompok Pfizer mengalami keguguran, dan orang tersebut menerima plasebo, bukan vaksin.

Dokter spesialis penyakit menular di Sekolah kedokteran Universitas Vanderbilt, William Schaffner, mendesak wanita yang ingin hamil untuk mempertimbangkan risiko tidak mendapatkan vaksinasi, yang mencakup potensi penyakit parah dan persalinan prematur jika hamil.

Jika masih khawatir tentang bagaimana vaksin COVID-19 dapat mempengaruhi kesuburan di masa depan, Schaffner merekomendasikan untuk berbicara dengan dokter agar mendapatkan kepastian langsung dari penyedia medis, bukannya internet.

Dia menambahkan vaksin COVID-19, baik itu dari Pfizer maupun Moderna, menggunakan bahan genetik yang disebut mRNA, yang memicu respons imun dalam tubuh, dan sebagai hasilnya Anda mengembangkan antibodi terhadap virus. Tubuh kemudian menghilangkan protein bersama dengan mRNA, tetapi antibodi tetap ada.

sumber: tempo.co

Image

Andri Somantri

Redaktur