Light Dark

Gunung Anak Krakatau Siaga III, Pemudik Lewat Merak-Bakauheni Diharap Tenang

Video | 26 Apr 2022, 11:46 WIB 26 Apr 2022, 11:46 WIB

SUKABUMIUPDATE.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan radius bahaya atas potensi kenaikan aktivitas gunung anak krakatau yang berada di Selat Sunda masih jauh dari jalur mudik. Sehingga diharapkan bagi warga yang mudik lewat rute penyeberangan Merak-Bakauheni untuk tetap tenang.

“Diharapkan masyarakat tetap tenang karena kegiatan aktivitas masyarakat masih jauh dari radius yang direkomendasikan Badan Geologi untuk tidak masuk dalam radius 5 kilometer,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan dikutip dari Tempo, Senin (25/4/2022).

Hendra mengatakan daerah bahaya yang berpotensi terjadi dalam erupsi gunung anak krakatau yang saat ini berstatus siaga III berada relatif jauh dari lintasan transportasi pelayaran kapal di Selat Sunda. Lalu lintas kapal di Selat Sunda antara Pelabuhan Merak dan Bakauheni diperkirakan akan meningkat pada mudik Lebaran.

“Dalam kaitan dengan potensi bahaya saat ini, jarak dalam radius 5 kilometer dari pusat Gunung Anak Krakatau, sehingga masyarakat yang ada di luar, saya kira kalau transportasi dari Merak ini, dari Jawa ke Lampung ini masih jauh. Itu puluhan kilometer, jadi relatif aman. Tapi untuk menjaga kehati-hatian, tetap mengikuti update informasi yang dikeluarkan Badan Geologi,” kata Hendra.

Dia juga memastikan aktivitas gunung anak krakatau saat ini dalam pemantauan ketat. “Badan Geologi sudah berkoordinasi dengan semua KL (kementerian-lembaga) terkait, BNPB, BPBD, dan BMKG dalam menangani bila ada suatu eskalasi, katakanlah ke depan. Kita melakukan koordinasi semua dan juga tim tanggap darurat dari Badan Geologi di lokasi di Pos Pasauran, di sana ada petugas pos yang memantau 24 jam dibantu tim tanggap darurat serta juga melakukan penguatan dari sisi alat monitoring,” kata dia.

Selain itu, rapat koordinasi dengan BMKG juga sudah dilakukan. “Kemarin malam kita rakor dengan Kepala BMKG dalam cara menghadapi mitigasi ancaman dari bahaya letusan Gunung Anak Krakatau. Salah satunya minggu ini kita akan melakukan latihan gabungan dengan  membuat skenario hanya lontaran pijar, sampai terburuk adalah bahaya sekunder (tsunami) yang mungkin bahaya peringatannya ada di BMKG,” kata dia.

Hendra menjelaskan koordinasi tersebut untuk mensinergikan peringatan dini atas potensi bahaya erupsi Gunung Anak Krakatau. “Dengan skenario latihan bersama ini minggu ini kita harapkan bisa menjadi sinergi dalam memberikan early warning dimana bencana yang dihadapi ini memang ada bahaya primer dan sekunder,” kata dia.

Menurutnya, Kementerian ESDM ke depan akan melakukan modernisasi peralatan pemantau gunung api, yang salah satunya termasuk peralatan yang terpasang untuk memantau Gunung Anak Krakatau.

“Sesuai arahan Menteri ESDM bahwa ke depan Badan Geologi akan memodernisasi peralatan-peralatan di gunung api, salah satunya di Gunung Anak Krakatau. Kami akan memberdayakan hasil-hasil dari BPTKG, peralatan yang dikembangkan teknologinya untuk membantu sisi monitoring yang sudah ada di Gunung Anak Krakatau,” kata dia.

Sejak 15 April 2022, menurutnya, kenaikan aktivitas gunung anak krakatau sudah terlihat secara visual. “Baik embusan asap, maupun tinggi letusan kolom yang bervariasi dari 1.000-2.000 meter dari muka air laut. Tiga hari terakhir sudah sampai 3.000 meter,” kata dia.  

Hendra mengatakan, aktivitas kegempaan gunung juga menunjukkan peningkatan. Aktivitas yang terpantau visual tersebut sejalan dengan yang terlihat di peralatan pemantau.

“Kondisi tekanan yang ada di dalam tubuh gunung anak krakatau mulai terekam intensif sejak tanggal 21 April 2022, jadi sekitar empat hari lalu. Ini artinya berkorelasi dengan meningkatnya tinggi kolom abu yang menjadi 3.000 meter dari muka air laut,” kata dia.

Sementara indikator emisi gas SO2 bahkan melonjak tajam. “Kalau dilihat dari pemantauan emisi gas SO2 ini terjadi peningkatan, di mana pada 15 April, fluks gas SO2 yang dikeluarkan itu 68 ton per hari, kemudian tanggal 17 April meningkat jadi 181 ton per hari. Dan terakhir tanggal 23 April meningkat menjadi 9.000 ton per hari,” kata dia.

Seluruh data pengamatan menunjukkan indikasi kecenderungan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. “Kita tidak pernah bisa memprediksi kondisi gunung, tapi yang bisa kita lihat adalah pola kecenderungan meningkat, itu yang menjadi dasar pada tanggal 24 April pukul 18.00 Badan Geologi, ditandatangani oleh Pak Kepala Badan Geologi, menaikkan status aktivitas dari Level 2 atau kita sebut Waspada menjadi Level 3 atau Siaga,” kata dia.

Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat tidak memasuki areal dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. “Masyarakat di luar radius 5 kilometer agar tetap tenang, tidak panik, dan selalu update informasi kebencanaan dari sumber yang resmi,” tandasnya.

SUMBER: TEMPO.CO

Redaktur: Denis Febrian

Video Editor: Farhan Saputra

Image

Admin SUpdate

Image

Budiono