Light Dark

Berusia 1.000 Tahun, Ilmuwan Temukan Kerangka Korban Ritual

Science | 07 Mar 2022, 16:57 WIB
Ilustrasi Kerangka Korban Ritual Berusia 1.000 Tahun | Unsplash

SUKABUMIUPDATE.com - Sekira 20 keangka yang menjadi korban Ritual pengorbanan di temukan oleh para Ilmuwan di dekat sebuah mumi di Peru. 

Dikutip dari Suara.com, Mumi yang berjenis kelamin lelaki itu ditemukan pada 2021 di sebuah makam bawah tanah di kota kuno Cajamarquilla.


Advertisement

Lelaki tersebut berbaring dalam posisi seperti janin dan memiliki tingkat pelestarian yang luar biasa.

Para arkeolog percaya bahwa mumi itu berusia antara 18 dan 22 tahun ketika meninggal.

photoKerangka korban ritual berusia 1.000 tahun ditemukan di Cajamarquilla - (via Suara.com)

Tapi penelitian baru menemukan, lelaki tersebut berusia sekitar 35 tahun pada saat mumifikasi. Para ilmuwan menamai mumi itu sebagai "Chabelo".


Advertisement

Sementara itu, jenazah yang baru ditemukan termasuk Kerangka delapan anak yang dibungkus dalam bundel serta 12 Kerangka orang dewasa.

Beberapa anak memiliki jejak bukti kekerasan, seperti patah tulang dan ada kemungkinan beberapa anak dikorbankan sebagai bagian dari Ritual pemakaman.

"Kita tahu bahwa masyarakat Andes memiliki serangkaian praktik pemakaman, ritual, dan mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda dari kita. Konsep kematian sangat penting bagi mereka," kata Pieter Van Dalen Luna, profesor arkeologi di National University of San Marcos, dikutip dari Live Science, Senin (7/3/2022).

Tim ilmuwan berencana menganalisis DNA dan penanggalan radiokarbon baru pada sisa-sisa Kerangka tersebut untuk mempelajari lebih lanjut.

Baca Juga :

Pada saat mumi lelaki itu masih hidup, Kota Cajamarquilla sendiri memiliki empat piramida berusia sekitar 1.000 tahun yang lalu.

Itu adalah tempat penting untuk perdagangan antara orang-orang yang tinggal di daerah pesisir dan pegunungan Peru. Namun, hanya sekitar satu persen dari situs yang telah digali.

Para arkeolog tidak menemukan jejak sistem penulisan yang berasal dari periode tersebut di Peru, sehingga para ahli memiliki keterbatasan dalam memahami peninggalan arkeologis tersebut.

Sumber: Suara.com

Image

Admin SUpdate

Image

Noity