Light Dark

Melestarikan Tari Cepet: Kisah Nawi Saman dan Asal Usul Warga Ciracap Sukabumi

Video | 11 Dec 2021, 15:50 WIB 11 Dec 2021, 15:50 WIB

SUKABUMIUPDATE.com - Tahun ini (2021) Tari Cepet Sukabumi berstatus Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Salah satu Seni helaran yang mendapatkan sertifikat WBTb dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Teknologi, harus dilestarikan karena terkait Budaya dan sejarah keberadaan warga Pesisir Sukabumi khususnya di Ciracap.

Cepet sebagai Seni helaran berawal dari kisah dua pemuda yang mendirikan sanggar Purwajati pada tahun 1974. Mereka adalah Saman dan Nawi, yang berinisiatif melestarikan ritual cepet dari leluhur mereka kepada generasi penerus.

Saat itu Nawi dan Saman menetap di Kampung Waluran, yang saat itu masuk wilayah administrasi Desa Gunung Batu Kecamatan Ciracap. Tahun 2008, kampung Waluran menjadi bagian dari Desa Pangumbahan yang baru dibentuk oleh pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi.

Hingga kini sanggar Tari Cepet yang didirikan Nawi dan Saman masih berdiri. Nawi wafat di tahun 2010 pada usia 62 tahun, meninggalkan banyak warisan Seni bagi warga setempat. 

Ada puluhan topeng atau cepet peninggalan leluhur yang digunakan untuk ritual ngabungbang yang masih tersimpan dengan baik oleh keturunannya. Selain pimpinan sanggar, Nawi berperan menjadi pelatih tari, sekaligus seniman pembuat topeng atau cepet dari pohon randu dan lame. 

Seiring waktu, Purwajati beberapa kali mengalami perubahan nama. Pada tahun 1990 berganti menjadi Fajar, dan saat itu dipimpin Saman. 

Di tahun 2000, namanya kembali berubah menjadi sanggar Seni Fajar Muda dan bertahan hingga saat ini. Setelah Saman, tahun 2008 sanggar dipimpin Maryono, yang kemudian digantikan oleh Mbah Karsono pada 2012. Selanjutnya dipimpin oleh Lamijan dari tahun 2014 hingga sekarang.

"Semangat Purwajati masih bertahan, bersatu padu dengan sanggar Seni Kuda Lumping Fajar Muda karena memang penari kuda lumping dan penari cepet masih itu-itu saja penarinya," kata Lamijan (62 tahun) kepada sukabumiupdate.com, Jumat 10 Desember 2021.

Menurut Samijan, pada periode 1974-1990 penari cepat merupakan orang dewasa atau yang sudah berkeluarga, alat musik yang digunakan hanya kentongan dari bambu, goong dari bambu, kendang , serta tempat kerupuk kaleng. 

"Saat itu Tari Cepet hanya tampil untuk memeriahkan HUT RI," kenanganya.

Setelah tahun 1990 an, cepet merakyat banyak tampil di acara hajatan dan lainnya. Hingga saat ini undangan tampil memang masih dominan di wilayah pesisir Ciracap dan sekitarnya. 

Sekali tampil, rombongan cepet Fajar Muda terdiri dari banyak orang. Pemain musik 6 orang, penari cepet 10 orang, pawang 1, tukang sajen seorang dan 1 orang lagi tugasnya pengamanan.

"Tarian disesuaikan dengan karakter cepet (topeng) seperti buta hejo, buto cakil, buta merah, kera putih (anoman), kera hitam, kakek, nenek serta perawan cantik," bebernya.

Ini adalah kreasi pengembangan dari cepet sebagai tarian ritual leluhurnya. Menurut lamijan dulu cepet hanya dibuat untuk satu karakter saja sesuai penarinya, baik postur tubuh maupun peran. 

"Sekarang ada beberapa cepet yang mirip dan dimainkan sama siapa saja sehingga jumlahnya bisa mencapai 28 penari. Dulu hanya 12 karakter atau 12 penari cepet dan tidak ada satupun sanggar Seni waktu itu yang bisa memainkan tari cepet.

Lamijan juga menjelaskan bahwa topeng cepet dulu tidak bisa dibuat sembarangan karena ada ritual khusus. Ini yang membuat topeng cepet dari leluhurnya tidak diperjual-belikan.

"Dari tahun ke tahun kami bersama pendahulu yang masih ada tetap berusaha menjaga dan melestarikan tari cepet. Alhamdulilah loyalitas warga lingkungan dan pecinta seni, membuat cepet bertahan hingga saat ini. Tidak mudah, perlu waktu dan juga dana agar bisa berkembang," pungkasnya.

Reporter: Ragil Gilang

Redaktur: Fit NW

Video Editor: Nadia

Image

Admin SUpdate

Image

Budiono