Light Dark

Dua Proyek Besar di Sukabumi yang Menduplikasi Teknologi Negara Lain

Sukabumi | 17 Sep 2021, 10:37 WIB
Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko saat meninjau lokasi proyek Bukit Algoritma di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Minggu, 18 April 2021. | Sukabumiupdate.com/Oksa Bachtiar Camsyah

SUKABUMIUPDATE.com - Sebagai daerah yang tak terlalu jauh dari ibu kota negara, Kabupaten Sukabumi dilirik berbagai pihak menjadi lokasi pengembangan Proyek berbasis terknologi. Tak tanggung, setidaknya ada dua rencana pembangunan besar yang menduplikasi karya di negara lain: Bukit Algoritma dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Ciemas.

Bukit Algoritma merupakan Proyek pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta sumber daya manusia yang mengadaptasi Silicon Valley di Amerika Serikat. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Bayu atau PLTB di Ciemas adalah calon sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan yang akan mencontoh kincir angin di Belanda.

Kedua Proyek itu dianggap akan mengakselerasi pembangunan di Sukabumi. Betapa tidak, anggaran puluhan triliun rupiah siap digelontorkan untuk menyelesaikan Bukit Algoritma dan PLTB Ciemas. Anggapan itu didukung keberadaan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark dan Tol Bogor - Ciawi - Sukabumi atau Bocimi, yang akan mengintegrasi potensi wisata dan teknologi di Sukabumi.

Bukit Algoritma

Pembangunan Bukit Algoritma resmi dimulai pada Rabu, 9 Juni 2021, ditandai dengan groundbreaking atau peletakan batu pertama di kawasan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Ini menjadi awal dimulainya pengerjaan tahap pertama selama tiga tahun oleh Badan Usaha Milik Negara PT Amarta Karya selaku main contractor.

Direktur Utama PT Amarta Karya Nikolas Agung saat itu mengatakan pada tahap pertama pihaknya akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan, pengairan, dan listrik. "Infrastruktur ini dimulai dari Seksi II Tol Bocimi," kata Nikolas. "Kami pun akan membangun akses ke lokasi ini dan jalan di dalam kawasan," tambah dia. Di tahap pertama ini juga akan dilakukan pembangunan jaringan internet, patung Presiden Ir Soekarno, renovasi enam gedung, hotel, dan 120 rumah kebun.

Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya Kerja Sama Operasional Budiman Sudjatmiko ketika itu turut menginformasikan perkembangan investasi yang resmi masuk ke Proyek Bukit Algoritma. Ia menyebut ada investor baru dari beberapa negara Asia yang menanamkan modalnya untuk pengembangan riset sensor pencari ikan bagi nelayan di Indonesia. "Untuk bidang ini nilainya Rp 1,7 triliun," kata Budiman usai peletakan batu pertama.

photoDesain Bukit Algoritma yang akan dibangun di wilayah Cikidang dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. - (Dokumentasi PT Amarta Karya)

Angka tersebut menambah nilai investasi yang sebelumnya telah lebih dulu masuk ke Proyek Bukit Algoritma, yakni Rp 18 triliun dari Kanada untuk pembangunan klaster fase pertama yang digarap PT Amarta Karya berupa pembangunan infrastruktur dan investasi ekosistem energi terbarukan yang berasal dari Jerman sebesar Rp 1,4 triliun--yang kata Budiman pengerjaan investasi energi terbarukan ini dilakukan di luar Sukabumi.

Berdasarkan kabar terakhir, Direktur Utama PT Bintang Raya Lokalestari Dhanny Handoko mengatakan lonjakan kasus Covid-19 dalam beberapa waktu ke belakang mengakibatkan pembangunan Bukit Algoritma ditunda untuk sementara waktu. Penundaan ini ditambah dengan dimulainya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyakarat atau PPKM Darurat, yang selanjutnya berubah berdasarkan levelisasi kedaerahan.

"Informasi PPKM Darurat banyak kerjaan tim di Jakarta pada tertunda. Jaga sehat dulu, banyak relasi-relasi di grup WhatsApp yang isoman dan bahkan yang kritis," kata Dhanny, Jumat, 9 Juli 2021. Hingga akhir Agustus lalu, Dhanny masih menunggu kabar dari pihak Jakarta alias Badan Usaha Milik Negara PT Amarta Karya dan PT Kiniku Bintang Raya.

Seperti diketahui, Bukit Algoritma merupakan Proyek pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta sumber daya manusia seperti Silicon Valley di Amerika Serikat yang digagas PT Kiniku Nusa Kreasi dan PT Bintang Raya Lokalestari di Kecamatan Cikidang dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Keduanya membuat perusahaan Kerja Sama Operasional bernama PT Kiniku Bintang Raya, yang ketua pelaksananya diisi Budiman Sudjatmiko, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sekaligus Komisaris PT Perkebunan Nusantara V.

Bukit Algoritma akan dibangun di atas lahan seluas 888 hektare, yang mencakup tiga desa di Kecamatan Cikidang: Cicareuh, Pangkalan, dan Taman Sari. Sementara satu desa di Kecamatan Cibadak adalah Desa Neglasari. Proyek ini terbagi menjadi tiga tahap dengan masa pengerjaan tiga tahun untuk tahap pertama, tiga tahun untuk tahap kedua, dan empat tahun untuk tahap ketiga.

Lahan 888 hektare lokasi Bukit Algoritma adalah milik PT Bintang Raya Lokalestari. Dalam laporan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK tahun 2018, perusahaan itu tercatat mengusulkan tanah tersebut untuk menjadi KEK Sukabumi dengan kegiatan utamanya: pariwisata, fusi sains, dan teknologi.

Sayangnya, angan kawasan 888 hektare untuk menjadi KEK Sukabumi masih kandas. Dewan Nasional KEK mengatakan kawasan itu belum memenuhi syarat administratif sehingga berkas pengajuan dikembalikan ke PT Bintang Raya Lokalestari selaku pihak pemohon. Dalam data mutakhir pada 6 Juli 2021, ada 12 KEK yang telah beroperasi di Indonesia dan tujuh KEK yang masih tahap pembangunan. Namun di daftar keduanya belum memasukkan kawasan Cikidang atau Sukabumi. 

Situasi ini dijelaskan kembali Direktur Utama PT Bintang Raya Lokalestari Dhanny Handoko dalam acara groundbreaking. Ia mengakui pihaknya masih menjalani proses untuk penetapan KEK. Namun Dhanny juga menyebut ada alternatif lain untuk menumbuhkan iklim berusaha di Bukit Algoritma, yakni penerapan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Pernyataan Dhanny itu disambut Kementerian Investasi Republik Indonesia. Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi Nurul Ichwan mengatakan pihaknya akan memberikan kemudahan perizinan untuk Proyek Bukit Algoritma melalui Online Single Submission terbaru. Namun di sisi lain, Staf Ahli Bupati Sukabumi Dana Budiman berharap groundbreaking tersebut tetap menjadi jawaban atas pengusulan KEK Sukabumi agar bisa segara ditetapkan oleh Dewan Nasional KEK.

PLTB Ciemas

Proyek ini kembali mencuat saat Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum meninjau lokasi eksplorasi pembangkit listrik tenaga bayu atau angin di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Rabu, 8 September 2021. PLTB Ciemas telah dimulai sejak 2016 dan kini sedang menyelesaikan tahap pembukaan eksplorasi yang telah menghabiskan dana Rp 70 miliar. Total investasi PLTB Ciemas sendiri adalah Rp 3,3 triliun.

Menukil siaran pers Humas Pemprov Jawa Barat, PLTB Ciemas berdiri di atas lahan milik pibadi, Badan Usaha Milik Negara, dan Kehutanan. Memiliki turbin tipe EN145 3,3 MW dengan ketinggian hub 127 meter dan panjang baling-baling 72,5 meter, PLTB Ciemas dapat menghasilkan listrik dengan kapasitas 100-150 MW. "Dari eksplorasi pembangunannya dilanjut. Dari sini sudah dipastikan akan dibangun pembangkit listrik tenaga bayu," ujar Uu Ruzhanul Ulum.

PLTB Ciemas akan menjadi sumber energi terbarukan ramah lingkungan yang dimiliki Jawa Barat. "Manfaatnya Jawa Barat memiliki sumber listrik, membantu masyarakat di tingkat nasional (Jawa - Bali) sebagai energi terbarukan," katanya. "Juga ramah lingkungan tidak ada polusi yang ditimbulkan," tambah Uu. 

Uu mengatakan feasibility study PLTB Ciemas telah diserahkan ke Perusahaan Listrik Negara atau PLN pada Agustus 2019 dan diperbarui awal 2021. Ia berharap PLTB Ciemas dapat membawa benefit ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat. Menurutnya, setidaknya dari pengerjaan proyek, akan ada 1.000 orang tenaga kerja, dan 300 orang saat PLTB beroperasi. Ditambah pemanfaatan sebagai objek wisata maka akan ada tambahan tenaga kerja dan lapangan usaha.

"Pengemasan PLTB Ciemas sangat mungkin karena sudah ada bukti nyata di Belanda. Dari aktivitas pembangkit listrik tenaga bayu Belanda sampai dijuluki Negeri Kincir Angin," kata Uu.

photoCalon lokasi dibangunnya PLTB di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. - (Sukabumiupdate.com/Ragil Gilang)

PLTB Ciemas berdekatan dengan Puncak Darma yang merupakan bagian kawasan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark. Pemilihan lokasi ini melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI dan Badan Tenaga Nuklir Indonesia. "Di luar negeri ada Negeri Kincir Angin, Ciemas juga akan dijadikan sebagai objek wisata kincir angin. Kami berharap pembangunan PLTB ini berjalan dan segera beroperasi," harap Uu.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun mendorong percepatan peraturan presiden tentang PLTB. Perpres PLTB mengemuka setelah Presiden Joko Widodo meresmikan PLTB di Sidrap, Sulawesi Selatan, yang merupakan PLTB pertama di Indonesia.

"Presiden menyatakan akan ada PLTB di Sukabumi, maka kami tinggal menagih. Ciemas ini juga akan menjadi PLTB terbesar di Asia Tenggara. Ini Anugerah dari Allah SWT karena Jawa Barat punya potensi luar biasa," ucapnya.

Diketahui, lahan PT Perkebunan Nusantara VIII yang terletak di jalan kabupaten, ruas Ciemas - Tamanjaya, tepatnya di Kampung Cipancar, Kadusunan Ciemas 1, Desa Ciemas, Kecamatan Ciemas, menjadi salah satu lokasi pembangunan PLTB tersebut.

Senior Projeck Devlover UPC Sukabumi Bayu Energi, Kalla Primista mengatakan rencana pembangunan akan dimulai pada 2024 dengan lahan seluas kurang lebih 250 hektare, yang tersebar di Desa Ciemas, Mandrajaya, Mekarjaya, dan Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

"Kehadian Pak Wakil Gubernur Jawa Barat menjadi dorongan percepatan ke pemerintah pusat. PLTB ini menjadi Proyek strategis nasional," kata Kalla. "Kami berharap Pak Presiden Joko Widodo menghabiskan masa jabatannya dengan bisa meresmikan PLTB di Ciemas."

Kalla menyebut sejak 2013 pihaknya sudah melakukan studi kelayakan di lokasi tersebut. Selama lima tahun dilakukan studi untuk menyusun dan memastikan apakah wilayah itu layak dijadikan lokasi PLTB. "Berkoordinasi dengan semua pihak, mulai Muspika Ciemas, Muspida Kabupaten Sukabumi, dan Pemprov Jawa Barat," ujar dia. "Tidak kalah menarik juga, akan dibangun pelabuhan dermaga di Pantai Cikeueus Desa Girimukti," imbuhnya.

Progres Tol Bocimi Seksi II

Proyek Bukit Algoritma dan PLTB Ciemas tak bisa dilepaskan dari pembangunan Tol Bocimi Seksi II ruas Cigombong-Cibadak. Pasalnya, ruas ini disebut akan memangkas jarak selama beberapa jam dan mempercepat sirkulasi ekonomi antara ibu kota dan Sukabumi. Namun nyatanya, progres Tol Bocimi Seksi II malah mengalami kemunduran.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan progres konstruksi Jalan Tol Bocimi Seksi II ruas Cigombong - Cibadak telah mencapai 75,55 persen--dari total panjang 11,9 kilometer. Itu termuat dalam website resmi kementerian yang diunggah pada 6 Agustus 2021.

Jalan Tol Bocimi sendiri memiliki panjang 54 kilometer. Rinciannya, Seksi I Ciawi-Cigombong (15,35 kilometer) dan sudah beroperasi pada Desember 2018. Seksi II Cigombong-Cibadak (11,9 kilometer). Seksi III Cibadak-Sukabumi Barat (13,7 kilometer). Terakhir, Seksi IV Sukabumi Barat-Sukabumi Timur (13,05 kilometer).

Menukil laporan dari laman Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Jalan Tol Bocimi Seksi II ini akan terkoneksi dari Bogor menuju Sukabumi dengan waktu tempuh dari yang sebelumnya 3 hingga 4 jam, menjadi 1 sampai 2 jam lebih cepat. Konstruksi Seksi II ditargetkan rampung pada akhir 2021.

"Saat ini progres konstruksinya (Seksi II) telah mencapai sebesar 75,55 persen," tulis laporan tersebut pada 6 Agustus 2021. Jalan tol ini nantinya akan terkoneksi dari Jakarta menuju Kota dan Kabupaten Sukabumi yang terhubung dengan Jalan Tol Jagorawi di sebelah Utara.

photoKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membeberkan progres konstruksi Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi Seksi II ruas Cigombong - Cibadak. - (Dokumentasi Badan Pengatur Jalan Tol)

Tetapi, muncul keganjilan dalam penelusuran sukabumiupdate.com. Pasalnya, progres kontruksi yang disampaikan pada 6 Agustus 2021, mengalami penurunan dari laporan beberapa bulan sebelumnya. Masih dalam website yang sama, pada 23 Februari 2021 dikatakan progres konstruksi Jalan Tol Bocimi Seksi II mencapai 75,50 persen. Bahkan saat itu disebutkan ruas ini akan rampung pada pertengahan 2021.

Kemudian pada 25 Februari 2021 atau dua hari selanjutnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di akun Instagram resminya mengatakan progres konstruksi Seksi II telah mencapai 76,50 persen dan ditargetkan rampung pada Agustus 2021. Lalu pada Maret 2021, dikatakan progres konstruksi Seksi II mencapai 77,32 persen dan ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021.

Berdasarkan data-data tersebut, ditemukan penurunan progres, yakni dari Maret 2021 (77,32 persen), menurun sekira 1,77 persen, menjadi 75,55 persen pada Agustus 2021. Selain itu, ada pula perpanjangan target, dari semula Seksi II ini akan rampung pada pertengahan 2021, menjadi akhir 2021.

Image

Admin SUpdate

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur