Light Dark

Karaoke Masih Lockdown, Haruskah Pemandu Lagu Jual Diri Buat Makan?

Entertainment | 20 Aug 2021, 23:30 WIB
Ilustrasi, Seorang pekerja yang tergabung dalam Aliansi Karyawan Hiburan dan Pengusaha Hiburan berunjuk rasa di Balai Kota, Bandung, Jawa Barat, Senin (3/8/2020). Pemandu lagu karaoke terdampak kebijakan PPKM yang terus berlanjut | ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

SUKABUMIUPDATE.com - Usaha hiburan malam masih lockdown atau masih belum bisa dibuka selama PPKM level 4 yang terus diperpanjang hingga 23 Agustus 2021 mendatang. Selain pekerja, pemandu lagu t mengeluh, sudah tak bisa mencari uang untuk kehidupan sehari-hari.

Sebut saja Citra (inisial, akronim dari gabungan namanya) menghisap dalam rokoknya sambil memandangi layar ponsel miliknya. Mojang Bandung itu kemudian menghembuskan asap rokok sambil mulai memaki dan berkata-kata kasar.

"Belum bisa buka. Terus aing (aku) besok makan apa!," ungkapnya saat ditemui Suara.com di sebuah kafe di kawasan Bandung Utara, Kamis (19/8/2021) petan.

Citra merupakan seorang mojang Bandung yang bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke di Kota Bandung. Perempuan berkulit kuning langsat berusia 24 tahun itu sudah lima tahun menggeluti profesi sebagai pemandu lagu di beberapa tempat karaoke di Bandung, Bogor dan Banjarmasin.

Sudah hampir dua bulan lebih Citra tak masuk kerja dan mendapat penghasilan sejak karaoke tempatnya bekerja tutup sejak pemerintah menerapkan PPKM Darurat 3 Juli 2021 lalu. Tabungannya menipis karena terus dipakai untuk membiayai hidup, mulai dari bayar sewa indekos, cicilan motor hingga kebutuhan sehari-hari.

"Nih liat Kak saldo aku tinggal segini," ujar Citra sambil menunjukkan mobile banking rekeningnya di layar ponselnya.

Ia mengaku uang itu hanya cukup untuk membayar sewa indekosnya selama satu bulan yang juga setara dengan angsuran kredit motornya selama sebulan."Pilihannya kan bayar kost, bayar cicilan motor, atau mau dipakai buat makan," keluhnya.

Sebagai pekerja di sektor informal, Citra mengaku belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah selama pandemi Covid-19. Padahal kata dia, pekerjaan yang digeluti nya sering sekali terimbas kebijakan pembatasan sosial.

photoIlustrasi pemandu lagu karaoke - (istimewa)

"Dari zaman PSBB, yang duluan ditutup pasti tempat-tempat kayak di Sulanjana (Bar dan klub malam di Jalan Sulanjana, Kota Bandung), spa sama karaoke. Dibukanya belakangan," kata dia.

Ia tak menampik, banyak teman satu profesinya yang terpaksa jual diri atau menceburkan diri ke dunia prostitusi untuk memenuhi kebutuhan hidup saat tak bisa bekerja karena karaoke tutup. Bahkan banyak kawannya yang terjun kesana sudah memiliki anak atau bahkan masih bersuami.

"Cowoknya tutup mata aja. Mau gimana lagi. Ada juga yang pernah ketangkep terus rame diberitain kan," ungkapnya.

"Aku juga gak tau kalau gini terus kondisinya bakal jual diri kaya gitu juga," keluhnya.

Baca Juga :

Ia mengaku, belum memiliki pekerjaan dan penghasilan lain selama tak bisa bekerja sebagai pemandu lagu. Asa untuk dapat kembali bekerja sebagai pemandu lagu datang lagi ketika ia mengikuti vaksinasi Covid-19 khusus pekerja hiburan malam beberapa waktu lalu.

Saat itu kata Citra, ia diberitahu jika hiburan malam dan karaoke di Kota Bandung akan kembali dibuka jika pekerjanya sudah divaksinasi. Namun sehari sebelum hari Kemerdekaan Indonesia, ia terkejut saat pemerintah memutuskan memperpanjang PPKM Level 4 hingga 23 Agustus 2021.

SUMBER: SUARA.COM

Image

Admin SUpdate

Image

Fit NW

Redaktur