Light Dark

Misteri 'Gerbang Neraka' di Hierapolis Turki

Science | 11 May 2021, 20:08 WIB
Bagian dalam gua atau pintu gerbang neraka di Hierapolis, Turki | propertyturkey.com

SUKABUMIUPDATE.com - Sejumlah ilmuwan mengungkapkan misteri di balik gua maut yang diyakini orang Romawi kuno sebagai 'Gerbang Neraka'. Gua tersebut dipercaya dapat membunuh siapapun yang masuk ke dalamnya, tanpa terkecuali manusia atau hewan.

Melansir dari The Sun, dalam catatan Romawi kuno, 'Gerbang Neraka' tersebut terletak di kota Hierapolis - Pamukkale, Turki (Lokasi penemuan kota bersejarah pada zaman Romawi-Yunani kuno, red). 

Ilmuwan memperkirakan, gua tersebut telah ada sejak 2.200 tahun yang lalu dan merupakan sebuah tempat suci di masanya. Selama lebih dua ribu tahun, gua itu terkubur dan tak pernah tersentuh oleh siapapun.

Satu dekade lalu, sejumlah arkeolog dari Universitas Salento mencoba menggalinya, mereka akhirnya mengungkap misteri mengerikan dari Gua yang kerap kali disebut sebagai pintu ‘Gerbang Neraka' itu.

Baca Juga :

Teks-teks Romawi kuno menyebutkan, siapapun yang masuk ke dalam gua tersebut tidak akan pernah mencapai bagian dalam atau kembali hidup-hidup. Manusia yang mencoba masuk baru empat atau lima langkah saja akan langsung mati. 

Selain itu, penelitian tahun 2018 menyimpulkan, ada sebuah gas beracun yang dipancarkan dari dinding di dalam gua yang menyebabkan siapa pun yang masuk ke dalam gua dapat keracunan gara-gara menghirup gas tersebut.

Kesimpulan lain, gua ini dulunya digunakan sebagai fasilitas ritual pengorbanan hewan. Penduduk Romawi kuno memasukan hewan yang dikorbankan ke dalam gua sebagai persembahan kepada para dewa, lalu membiarkan hewan tersebut mati karena keracunan gas.

Tempat Ritual Mengerikan

photoArena di Hierapolis, terdapat pintu gerbang ke dalam gua dan sebuah kolam kecil di atasnya - (natgeofe.com)

'Gerbang Neraka' bukanlah gua yang terbentuk secara alami, tetapi buatan manusia. Gua tersebut dibuat dari batu dari pintu masuk hingga ke dalam. 

Sejarah Romawi kuno menyebutkan, gua tersebut digunakan untuk upacara keagamaan. Pernah suatu ketika, ritual mengerikan tersebut dilakukan oleh pendeta yang terpilih lalu ia dikebiri dan harus mengantarkan seekor hewan (biasanya hewan ternak seperti sapi, red)  masuk ke dalam gua tersebut.

Saat pendeta dan sapi yang dibawanya masuk ke dalam gua, para penduduk akan menyaksikan sebuah asap muncul dari dalam gua, tak lama keluarlah pendeta tersebut dengan selamat meskipun dengan kondisi yang memprihatinkan dan sekarat. 

Sedangkan, sapi yang dikorbankan tadi telah mati di dalam gua karena gas beracun. Menurut kepercayaan saat itu, pendeta tersebut berhasil selamat karena bantuan dari para Dewa.

Mengandung Gas Beracun

photoHierapolis, sebuah kota bersejarah zaman Romawi-Yunani kuni di wilayah Turki - (sciencemag.org)

Awalnya para peneliti tidak sengaja menemukan gua itu ketika melihat seekor burung terbang di dekat pintu masuk gua lalu terjatuh dan mati secara tiba-tiba. 

Gua tersebut masih mengeluarkan gas beracun dan dapat membunuh segala makhluk hidup yang mencoba masuk ke dalamnya. 

Tim dari Universitas Duisburg-Essen di Jerman mengaitkan semburan gas beracun di gua itu dengan aktivitas vulkanik bawah tanah.

Diketahui, bagian dalam gua tersebut melepaskan gas karbon dioksida atau CO2 dalam kadar yang sangat  tinggi.

Tim peneliti lalu mengukur jumlah gas berbahaya yang keluar dari gua tersebut. Mereka menemukan, zat kimia berbahaya itu membentuk sebuah danau lalu naik ke permukaan setinggi 40 sentimeter dan muncul di atas lantai arena situs bangunan Romawi kuno Hierapolis tersebut. 

"Kadar C02 di dalam gua tersebut berada pada konsentrasi mematikan, yaitu hingga 91 persen. Yang mengherankan, uap tersebut masih aktif dan mengancam apapun yang masuk mencoba masuk ke dalam. Bahkan bisa langsung membunuh serangga, burung dan mamalia," tulis ilmuwan dalam Archaeological and Anthropological Sciences. 

Konsentrasi gas paling mematikan terjadi saat fajar karena konsentrasi gas CO2 meningkat hingga 50 persen. Namun, saat siang hari tiba, kemampuan membunuh gas tersebut akan berkurang karena konsentrasi gas CO2 dihamburkan oleh sinar matahari. 

Disebut Juga Gerbang Pluto

photoPintu masuk gua atau pintu Gerbang Neraka - (newsweek.com)

Tim juga menemukan, 'Gerbang Neraka' itu dinamakanan Plutonium atau Pluto. Dalam mitologi Romawi kuno, Pluto adalah Dewa Dunia Bawah. 

Penduduk saat itu mempercayai, mengorbankan hewan atau ternak ke dalam gua tersebut merupakan sebuah persembahan dan wujud rasa syukur kepada dewa-dewa mereka. 

Para pendeta akan mencari sapi atau banteng dengan tinggi badan 60 sampai 90 cm atau tidak boleh lebih tinggi dari tinggi manusia normal.

Hewan tersebut lalu berdiri di atas kubangan danau yang berada di lantai arena. Para pendeta berdiri di posisi yang lebih tinggi dari arena agar tidak menghirup gas berbahaya tersebut. 

"Jika ada pendeta yang mengetahui gas telah mencapai hidung, mereka akan mencari batu besar atau tempat yang lebih tinggi selama prosesi tersebut," tulis tim itu.

Gerbang Pluto ini pertama kali dijelaskan oleh dua orang sejarawan Romawi - Yunani kuno bernama Strabo dan Plinius.

"Di kawasan arena dan pintu gerbang gua, penuh dengan uap berbahaya, kondisinya sangat berkabut dan padat, hingga orang tidak bisa melihat tanah," tulis Strabo (64 SM - 24 SM) dalam catatannya.

Strabo melanjutkan, "Hewan apa pun yang masuk ke dalam akan langsung mati. Saya melempar burung pipit, burung tersebut tak sempat terbang, tapi jatuh dan mati," pungkasnya.

Image

Teguh Setiawan

Reporter

Image

Muhammad Gumilang

Redaktur