Light Dark

Jurnalisme Perubahan Perilaku Dilanjutkan, 3.030 Wartawan Siap Kabarkan Soal Pandemi

Gaya Hidup | 11 May 2021, 19:16 WIB
Program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku atau FJPP kembali dilanjutkan. | Pixabay

SUKABUMIUPDATE.com - Program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku atau FJPP kembali dilanjutkan. Pada Senin, 10 Mei 2021 kemarin pembukaan FJPP periode dua dilakukan secara virtual oleh Ketua Satuan Tugas Penanganan Pandemi Covid-19 Doni Monardo dan Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh.

Dikutip dari keterangan Dewan Pers, sebanyak 3.030 wartawan dari seluruh Indonesia akan mengikuti program ini selama delapan bulan, antara Mei hingga Desember 2021. Sebagai fellow, para jurnalis peserta akan secara rutin membuat berita yang mengampanyekan pentingnya perubahan perilaku yang kondusif untuk pencegahan penyebaran Covid-19.

Program FJPP sendiri merupakan kerja-sama antara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Dewan Pers yang sebelumnya telah berlangsung pada periode Oktober-Desember 2020. Dewan Pers pun memberikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan FJPP. 

Sikap kritis pers terhadap cara pemerintah menangani Pandemi Covid-19 tetap relevan, bahkan semakin relevan. Namun hal ini tidak menghalangi pers berkolaborasi dengan pemerintah untuk mewujudkan nilai yang lebih tinggi, yakni visi kemanusiaan membantu menyelamatkan masyarakat dari wabah Virus Corona melalui sarana komunikasi dan informasi massa.

FJPP adalah momentum bersejarah yang jarang terjadi. Pemerintah berkomitmen membantu para wartawan yang sedang menghadapi krisis ekonomi akibat Pandemi Covid-19. Pers sebaliknya, membantu pemerintah mengarusutamakan perubahan perilaku dalam masyarakat untuk menanggulangi pandemi. 

"Kedua pihak menyadari FJPP tidak dimaksudkan untuk mengurangi sikap kritis pers terhadap pemerintah. Apresiasi yang tinggi dalam hal ini perlu kami berikan kepada pemerintah, khususnya Satuan Tugas Penanganan Covid-19," bunyi keterangan tersebut.

Para wartawan peserta FJPP secara berkelanjutan akan memberitakan Pandemi Covid-19 dengan menekankan pentingnya pelaksanaan protokol kesehatan sebagai budaya baru dalam masyarakat: menggunakan masker secara benar, mencuci tangan, menjaga jarak, menjaga asupan gizi, dan berolahraga secara cukup untuk mendukung pencegahan penyebaran Covid-19.

"Atas kontribusi tersebut, para peserta akan mendapatkan renumerasi setiap bulan yang dialokasikan dari APBN. Dewan Pers menjamin renumerasi ini tidak menghalangi pers untuk bersikap kritis terhadap pemerintah."

FJPP periode pertama Oktober-Desember 2020 menunjukkan para peserta masih tetap bersikap kritis terhadap unsur-unsur pemerintahan lain yang lalai dalam melaksanakan protokol kesehatan. Wartawan tetap bisa kritis, bahkan diharapkan tetap bersikap kritis dalam memberitakan isu-isu protokol kesehatan dan perubahan perilaku.

FJPP merupakan bagian dari insentif ekonomi yang diberikan negara kepada sektor media. Pada masa awal pandemi Covid-19, unsur asosiasi perusahaan media dan asosiasi wartawan mengajukan beberapa opsi insentif ekonomi kepada pemerintah.

Dewan Pers memfasilitasi proses tersebut. Untuk para individu wartawan, insentif tersebut diwujudkan dalam program FJPP. Insentif ekonomi untuk wartawan tidak diwujudkan dalam bentuk bantuan tunai langsung, melainkan secara programatik dalam fellowship penulisan karya jurnalistik.

"Ini lebih mendidik dan profesional. Program FJPP melibatkan 26 wartawan senior dari berbagai latar-belakang media untuk menjadi editor. Mereka bertugas memeriksa dan menilai kelayakan karya-karya para peserta dengan bertolak dari pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik dan kesesuaian dengan tema perubahan perilaku dan pelaksanaan protokol kesehatan," tutup keterangan Dewan Pers. 

Image

Admin SUpdate

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur