Light Dark

Pesona Cikidang Sukabumi, Gutta Percha Zaman Belanda hingga Bukit Algoritma

Sukabumi | 22 Apr 2021, 19:25 WIB
Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko saat meninjau lokasi proyek Bukit Algoritma di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Minggu, 18 April 2021. | Sukabumiupdate.com/Oksa Bachtiar Camsyah

SUKABUMIUPDATE.com - Kawasan Cikidang mendadak populer setelah muncul rencana pembangunan Bukit Algoritma di lahan seluas 888 hektare yang meliputi tiga desa di Kecamatan Cikidang dan satu desa di Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Proyek yang dikomandoi politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko ini akan mereplikasi Silicon Valley di Amerika Serikat.

Gutta Percha Cikidang di Mata Dunia

Pesona Cikidang tidak muncul dalam semalam. Jauh sebelum wacana Bukit Algoritma lahir ke permukaan, kawasan ini telah menarik perhatian dunia dengan getah perca atau palaquium gutta. Pengamat sejarah Sukabumi Irman Firmansyah mengatakan, getah perca atau gutta percha merupakan pohon yang menghasilkan karet dan digunakan oleh orang-orang Melayu sejak dulu.

"Gutta percha berbeda dengan karet yang disebut orang Belanda dengan caoutchouc atau pohon menangis karena mengeluarkan getah mirip cucuran air mata. Sebab, gutta percha yang baru diketahui orang Eropa di Singapura pada 1822 diambil daun dan rantingnya," kata Irman kepada sukabumiupdate.com, Kamis, 22 April 2021.

Irman yang juga penulis buku Soekaboemi the Untold Story ini menutukan, salah seorang pejabat East Indies Company bernama William Montgomery melakukan penelitian tentang gutta percha yang banyak berkembang di kepulauan Melayu seperti Sumatera dan Kalimantan. Pasca dikenalkan Montgomery pada 1843, mulailah kebutuhan gutta percha berkembang pesat yang menyebabkan penebangan secara massal.

"Penguasa Belanda di Hindia Belanda pun mulai mencoba menanam gutta percha dalam skala kecil di Banyumas, Jawa Tengah, meski belum bisa dibilang berhasil," ujar Irman yang kini aktif sebagai Kepala Riset dan Kesejarahan Soekaboemi Heritages.

Perhatian dunia ilmiah pada gutta percha pertama terjadi usai Kongres Listrik di Paris pada 1881. Hindia Belanda melakukan investigasi melalui Dr. Burck yang menyimpulkan gutta percha terbaik terdapat di kepulauan Melayu hingga ke Malaka. Jenis ini tidak ditemukan di tempat lain, bahkan di Amerika Serikat maupun Afrika. Ini membuat Hindia Belanda merasa harus membudidayakannya.

Permintaan gutta percha saat itu meningkat tajam, terutama dari Amerika Serikat, Jerman, dan Perancis. Sultan Johor dari Negeri Jiran, bahkan sampai menjanjikan satu dolar untuk setiap satu benih gutta percha yang bisa tumbuh. Selain itu, di Kuala Lumpur, Melaka, Singapura, dan Wellesley (seberang Penang) diusahakan pembudidayaan massal gutta percha, namun belum memuaskan.

Khawatir kehilangan kesempatan, melalui Dr Treub, dilakukan upaya pembudidayaan gutta percha di Hindia Belanda yang sedikit sulit, mengingat gutta percha tumbuh puluhan tahun dan hanya bisa cepat besar jika tumbuh di semak belukar. Uji coba dalam skala besar pun dilakukan di Cikeumeuh (Kota Bogor) dan Cipetir (Cikidang, Kabupaten Sukabumi) pada 1885. Hasil dari kebun percobaan di Cipetir ini cukup memuaskan meski dilakukan dengan sangat rahasia.

Pada 1901, Hindia Belanda terus menyempurnakan hasil penelitian Gutta Percha Tjipetir, dibantu pengelolaannya oleh Direktur dari Perusahaan Karet Langsa (Aceh), Tromp De Haas, yang juga mantan perwira Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger atau KNIL. Lahan kebun kemudian diperluas menjadi 1.000 hektare pada 1906 dan bertambah lagi menjadi 1.322 hektare dengan menambah lahan di daerah Giriawas dan Panjindangan (sekarang Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi).

"Pengiriman mulai dilakukan dari Cipetir ke luar negeri sebagai produk mentah yang sangat laris. Perusahaan milik negara Gutta Percha Tjipetir adalah satu-satunya produsen kepingan gutta percha di Hindia Belanda," ujar Irman.

photoPabrik Gutta Percha Tjipetir - (KITLV via Soekaboemi Heritages)

Irman menyebut Tjipetir terus mendapat perhatian. Pada 1911, Tjipetir bahkan dijadikan sebagai stasiun pengamatan cuaca modern. Pendirian pabrik karet skala modern di Tjipetir dilakukan sejak 1912 dengan anggaran diajukan sebesar 75.000 Netherland Gulden atau NLG.

Sayangnya, anggaran sebesar itu ditolak pihak kamar dagang Belanda. Pada 1913, Direktur Perusahaan Gutta Percha Tjipetir Tromp de Haas, yang juga bekerja di Departemen Landbouw, mengajukan kredit ke pemerintah untuk peningkatan kapasitas Pabrik Gutta Percha di Tjipetir. 

Proposal diajukan untuk mendapatkan beberapa mesin baru senilai 100.000 NLG, mengingat fasilitas mesin yang ada sudah tidak layak pakai. Namun kembali, tepat pada 27 November 1914, permohonan kredit tersebut ditolak, sehingga pembaharuan pabrik kembali terhambat.

Di saat yang sama, kata Irman, Tromp de Haas juga mengajukan permohonan paten atas merek Gutta Percha Tjipetir. Namun, pengajuan paten ini mendapat penentangan dari Dutch Gutta Percha Mij yang sudah berdiri sejak 1845 di Den Haag, sehingga menimbulkan sengketa yang berkepanjangan. Selain merek dagang, Haas juga bermaksud mematenkan proses pengolahan Gutta Percha Tjipetir yang dinilai sebagai cara baru dalam mengolah gutta percha.

Upaya pertama memisahkan getah perca secara mekanis dari daunnya dilakukan di Singapura oleh Arnaud. Setelah itu, Dr. Ledeboer juga menemukan cara pemrosesan lebih baik dengan menggunakan bahan kimia. Proses tersebut juga dilakukan di Hindia Belanda melalui pabrik kecil di kepulauan Riau dan pabrik lebih besar yaitu Gutta Percha Maatschappij Singapura. Namun secara modern, Tjipetir melakukannya dengan lebih sempurna sehingga hasilnya lebih berkualitas. 

"Sayangnya keputusan memenangkan Dutch Gutta Percha Mij, sehingga sengketa ini menyebabkan kucuran dana pembangunan pabrik Tjipetir menjadi terhambat. Baru pada 1921 pabrik modern bisa diselesaikan oleh administratur baru yaitu Van Lennep. Pabrik bisa dikatakan besar karena dibuat hingga tiga tingkat dengan dilengkapi laboratorium," kata Irman.

Kelengkapan terus dilakukan, seperti membangun jalur kereta gantung untuk distribusi hasil panen daun gutta percha ke pabrik. Sementara proses terus diperbaiki di laboratorium Tjipetir, sehingga tahun 1940, menurut sang administratur di Drechsler, Tjipetir menjadi satu-satunya perusahaan gutta percha di dunia yang memurnikan proses kelembapan daunnya.

Perkebunan Tjipetir menjadi daya tarik tersendiri bagi para pegunjung, tak terkecuali Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg pada 4 Desember 1912. Sang gubernur jenderal berkunjung bersama rombongan, empat mobil ke Tjipetir, sekaligus mengunjungi Teluk Wijnkoops (Palabuhanratu). Mereka disambut administratur pabrik, Tromp De Haas dan para staf.

Penyambutan sepanjang perjalanan, dari Cibadak hingga lokasi pabrik, cukup mengesankan bagi Idenburg karena disambut anak-anak lengkap dengan bendera-bendera kertas yang dibawanya. Selain itu, para pejabat juga acap kali mengunjungi Tjipetir, seperti JG Hoskman (Direktur Pertanian) dan de Vries (warga Preanger Barat) yang disambut kepala administratur, Van Lennep pada 20 Maret 1926. 

"Bahkan saking tersohornya, pabrik Tjipetir sempat dikunjungi Raja dan Ratu Siam (Thailand), Raja Prajatipok Paramintara atau Rama VII dan Ratu Siam Ramphaiphanni yang melakukan napak tilas sang kakek (Rama V/Cuhalangkorn) yang sempat mengunjungi Sukabumi pada 20 Juni 1896," ujar Irman.

"Kemudian putra mahkota Belgia Pangeran Leopold dan istrinya putri Astrid juga pada Januari 1928. Koran Batavia Nieuwsblaad memberitakan tentang pengaspalan sementara supaya kendaraan keduanya bisa nyaman menuju pabrik Tjipeti," tambahnya.

Sebelum masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada Oktober 1940, pabrik Gutta Percha Tjipetir sempat dikunjungi perwakilan perusahaan di bawah pengawasan Mr H J van Holst Pellekaan. Rombongan disambut H Carbasius, pimpinan perusahaan pemerintah Gutta Percha Tjipetir dan membawanya berkeliling untuk melihat proses pengolahan gutta percha. 

Pada tahun yang sama, produksi gutta percha mulai menurun akibat perkembangan radio yang tidak lagi membutuhkan kabel bawah laut. 

Namun demikian, gutta percha masih diperlukan industri lain seperti olahraga golf dan keperluan pembuatan peralatan medis. Penggunaan gutta percha sebagai pelapis kabel bawah laut kemudian benar-benar tergantikan oleh polietilena yang mulai diperkenalkan pada 1930-an. 

"Pada masa keemasannya, perusahaan Gutta Percha Tjipetir telah menanam di lahan seluas 1.400 hektare dan sekira 1.000 hektare pohon karet. Pasca Kemerdekaan Indonesia, pabrik ini sempat menjadi basis para pejuang pimpinan Komandan Batalyon I Mayor Yahya Bahram Rangkuti," ujar Irman.

Pabrik ini juga sempat dibumihanguskan para pejuang pada 1947 saat Belanda melakukan agresi militer. Pasukan Belanda tiba 30 Juli 1947 ke Tjipetir atau tiga hari sejak agresi ke Sukabumi.

Tahun 1948, Pabrik Tjpetir juga sempat diserang para pejuang. Meski sebagian bangunan pabrik sudah menjadi puing dan hanya tersisa rangkanya saja, namun sebagian bangunan masih utuh. Kondisi tersebut cukup menyulitkan bagi sekira 500 pegawai yang bekerja dua shift, pagi dan siang.

Irman mengatakan, saat ini kondisi perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara VIII tersebut hanya beroperasi ketika ada permintaan. "Jika tidak ada order, hanya standby aja dijaga security," katanya.

Cikidang Dilirik Jadi Silicon Valley-nya Indonesia

Sejumlah perusahaan swasta akan membangun pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta sumber daya manusia di wilayah Cikidang dan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Proyek bernama Bukit Algoritma ini akan dibangun di atas lahan seluas 888 hektare dengan dana awal senilai Rp 18 triliun.

Lahan 888 hektare tersebut mencakup tiga desa di Kecamatan Cikidang: Cicareuh, Pangkalan, dan Taman Sari. Sementara satu desa di Kecamatan Cibadak adalah Desa Neglasari. Sebagai informasi, pabrik Gutta Percha Tjipetir juga berlokasi di Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang.

Dua perusahaan swasta yang berencana membangun proyek tersebut adalah PT Kiniku Nusa Kreasi dan PT Bintang Raya Lokalestari. Keduanya telah membuat sebuah perusahaan kerja sama operasional atau KSO bernama PT Kiniku Bintang Raya, yang ketua pelaksananya diisi Budiman Sudjatmiko, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang merupakan Komisaris PT Perkebunan Nusantara V. 

Bukit Algoritma akan disulap bak Silicon Valley di Amerika Serikat, yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan teknologi global. Mereka juga menggandeng salah satu Badan Usaha Milik Negara bidang konstruksi sebagai main contractor, PT Amarta Karya dan telah menandatangani kontrak pada 7 April lalu. 

Penandatanganan kontrak kerja sama ini dilakukan langsung Direktur Utama PT Amarta Karya Nikolas Agung, Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko, dan Direktur Utama PT Bintang Raya Lokalestari Dhanny Handoko di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Direktur Keuangan PT Amarta Karya Hidayat Wahyudi, Corporate Secretary Brisben Rasyid, Kepala Divisi Keuangan Pandhit Seno Aji, dan Business Development Advisor PT Amarta Karya Oki Fahreza.

photoDesain Bukit Algoritma yang akan dibangun di wilayah Cikidang dan Cibadak Kabupaten Sukabumi. - (Dok. PT Amarta Karya)

Proyek ini terbagi menjadi tiga tahap dengan masa pengerjaan tiga tahun untuk fase pertama, tiga tahun untuk fase kedua, dan lima tahun untuk fase ketiga. Pembangunan proyek pada fase pertama akan merampungkan kawasan seluas 353 hektare. Rencananya, groundbreaking atau peletakan batu pertama digelar pada Mei mendatang. Setelah selesai dibangun pada tahap pertama, Bukit Algoritma akan mulai beroperasi.

Di kawasan tersebut nantinya berdiri pusat sains, theme park, pusat kesehatan, pusat pertanian untuk makanan dan gizi, pusat kebugaran, serta plaza inovasi. Ada pula health center atau pusat kesehatan yang dibangun seperti medical city.

Proyek ini disebut menjadi mimpi jangka panjang. Untuk tahap pertama selama tiga tahun, PT Amarta Karya menjadi mitra kepercayaan untuk membangun infrastruktur, termasuk akses jalan raya, fasilitas air bersih, pembangkit listrik, gedung konvensi, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko mengatakan, satu investor asal Kanada telah resmi menanamkan modalnya untuk pembangunan proyek Bukit Algoritma.

Dalam kunjungannya ke Sukabumi pada Minggu, 18 April 2021, Budiman menyebut investor asal Kanada ini menginvestasikan uangnya sejumlah Rp 18 triliun untuk pembangunan fase pertama Bukit Algoritma. "Kita juga sedang bernegosiasi dengan salah satu negara Asia, Timur Tengah, dan Eropa," kata Budiman kepada sukabumiupdate.com.

Ia mengungkapkan investasi awal untuk proyek Bukit Algoritma terbagi ke dalam dua jenis: klaster dan ekosistem. Dana Rp 18 triliun dari Kanada tersebut masuk untuk investasi klaster fase pertama yang akan digarap PT Amarta Karya berupa pembangunan infrastruktur. "Sementara untuk investasi ekosistem ini ada dari Jerman sebesar Rp 1,4 triliun," katanya.

Rencana pembangunan Bukit Algoritma ini bukan tanpa kritik. Sejumlah pihak menyebut bahwa proyek tersebut berpotensi membuka keran tenaga kerja asing karena belum siapnya sumber daya manusia dalam negeri. Tak hanya itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga menyebut kawasan Cikidang dan Cibadak merupakan wilayah rawan gempa karena diapit Sesar Citarik dan Sesar Cimandiri.

Peringatan BMKG tersebut langsung dibantah Direktur Utama PT Amarta Karya Nikolas Agung. Nikolas mengatakan akan mengadopsi teknologi bangunan tahan gempa dari Jepang dalam pengerjaan fase pertama proyek prestisius ini.

Bukit Algoritma dan Status KEK Sukabumi

Proyek Bukit Alogaritma tidak berdiri di atas lahan kosong. Lahan seluas 888 hektare tersebut adalah milik PT Bintang Raya Lokalestari. Dalam laporan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK tahun 2018, perusahaan itu tercatat mengusulkan tanah tersebut untuk menjadi KEK Sukabumi dengan kegiatan utamanya: pariwisata, fusi sains, dan teknologi.

Nama PT Bintangraya Lokalestari tidak asing di telinga warga lokal. Ketika masuk pada 2009, perusahaan milik keluarga Handoko tersebut berekspansi hingga kini mengelola lebih dari 11.000 hektare lahan di delapan kecamatan. Mayoritas izin lahan adalah hak guna usaha dan hak guna bangunan.

Sejak 2016 Pemerintah Provinsi Jawa Barat gencar mencari daerah yang akan diajukan sebagai KEK. Geopark Ciletuh menjadi kandidat pertama sebagai KEK berbarengan pengajuan statusnya sebagai Unesco Global Geopark. Pada April 2018, Ciletuh resmi menyandang status itu setelah melalui rapat Executive Board Unesco ke-204 di Paris, Prancis.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat lantas gencar berburu potensi wilayah lain. Pada 2019, ada tujuh kawasan yang bakal diajukan ke pemerintah pusat. Ketujuh kawasan tersebut adalah KEK Cikidang (Sukabumi), KEK Pangandaran, KEK Jatigede (Sumedang), KEK Walini (Bandung Barat), KEK Patimban (Subang), KEK Cirebon, dan KEK Kertajati (Majalengka).

Keluarga Handoko seperti ketiban untung ketika tim perintis KEK melirik agrowisata di Cikidang. Tim yang diketuai oleh Profesor Deny Juanda dari Institut Teknologi Bandung itu mendatangi Cikidang karena melihat prospek agrowisata di daerah tersebut.

Proses sebuah daerah menjadi KEK memakan waktu yang panjang. Ia harus melalui persetujuan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, lalu terdaftar di Dewan Nasional KEK. Keputusan finalnya adalah persetujuan presiden. Cikidang menjadi kandidat utama bersama Pangandaran. Syaratnya lumayan panjang: suatu kawasan bisa menjadi KEK ketika memiliki banyak potensi dan dukungan infrastruktur.

Direktur PT Bintang Raya Lokalestari Dhanny Handoko mengatakan, semula ada 330 hektare lahan yang disiapkan untuk KEK, sebelum diperluas menjadi 888 hektare. Usulan Cikidang sebagai pusat fusi sains dan teknologi tersebut datang dari Deny Juanda, klaim Dhanny. Sebab, suatu KEK tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis sektor usaha.

Dhanny mengaku mengikuti rapat intensif yang diadakan setiap dua minggu sekali bersama jajaran pejabat Jawa Barat selama hampir enam bulan, sebelum akhirnya berkas-berkas KEK Cikidang diajukan ke Dewan Nasional KEK.

Demi memuluskan hal tersebut, Dhanny mengaku telah menandatangani nota kesepahaman dengan Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Padjadjaran, serta telah mendapat persetujuan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bahkan ia mengaku telah menghibahkan masing-masing 25 hektare lahan untuk perguruan tinggi tersebut.

Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Sukabumi Maman Abdurrahman pada awal tahun ini menyebut KEK Cikidang sudah melalui tahap finalisasi dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi. Ia memproyeksikan investasi di Cikidang bisa mencapai Rp 300 triliun dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Sayangnya, angan kawasan Cikidang 888 hektare untuk menjadi KEK masih kandas. Sekretaris Dewan Nasional KEK, Enoh Suharto Pranoto mengatakan, Cikidang belum memenuhi syarat administratif sehingga berkas pengajuan dikembalikan ke PT Bintang Raya Lokalestari selaku pihak pemohon. Bahkan pengajuan tersebut belum masuk ke dalam tahap pembahasan di rapat Dewan Nasional KEK.

Persyaratan administrasi yang dimaksud di antaranya penguasaan lahan bukan atas nama perusahaan pengusul, kapasitas pembiayaan pembangunan KEK, dan izin lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana bisnisnya.

Dalam data mutakhir Februari 2021, ada 15 KEK yang tersebar di Indonesia. Data ini belum memasukkan kawasan Cikidang. Untuk diketahui, daerah yang ditetapkan sebagai KEK mendapatkan kemudahan fasilitas dan insentif dari pemerintah, termasuk pengurangan pajak penghasilan bisa 100 persen untuk investasi di atas Rp 1 triliun selama 10-25 tahun.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Jawa Barat Mohammad Taufiq Budi Santoso mengatakan, hingga saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum menerima satu pun surat usulan soal Bukit Algoritma yang disebut sebagai rencana KEK Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi.

Taufiq mengatakan ada sejumlah prosedur yang harus dilewati untuk mendapat rekomendasi gubernur. Rekomendasi tersebut menjadi syarat agar usulan KEK bisa dibahas oleh Dewan Nasional KEK. Rekomendasi kepala daerah menjadi salah satu syarat untuk mendapat penetapan KEK. 

Taufiq berujar, untuk rencana Bukit Algoritma yang disebut-sebut sebagai bagian usulan KEK Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi, disarankan untuk secepatnya memproses pengusulannya. Termasuk jika pengusulnya ternyata sama dengan KEK Cikidang, secepatnya diminta mengirim usulan perubahan.

Kepada sukabumiupdate.com Dhanny Handoko mengatakan pihaknya masih menunggu kebijakan pemerintah daerah dalam pengusulan KEK Bukit Algoritma. Meski begitu, Dhanny juga menyebut ada pilihan lain untuk menghadirkan kemudahan investasi dalam proyek ini, yakni UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

"Sementara kami kerja terus. Juga tergantung dari masing-masing investor karena menurut mereka sudah ditawarkan UU Cipta Kerja (Badan Koordinasi Penanaman Modal) yang sedang mereka pelajari sambil menunggu Jalan Tol Seksi 2 Cibadak," katanya, Kamis, 22 April 2021.

Sementara disinggung soal sejarah pabrik Gutta Percha Tjipetir dan proyek Bukit Algoritma, Dhanny memastikan bahwa proyek yang tengah digarapnya memiliki komitmen rasio 60:40 untuk ruang terbuka hijau dan tidak mengganggu perkebunan dan pabrik Tjipetir. "Tetap sebagai perkebunan,". "Kalau yang bukan tanah saya enggak masuk dalam perencanaan," pungkasnya.

Image

Admin SUpdate

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur