Light Dark

Eropa, Asia hingga Amerika Utara, Daftar Calon Investor di KEK Cikidang Sukabumi

Keuangan | 12 Apr 2021, 15:17 WIB
Budiman Sudjatmiko mengatakan salah satu negara di Amerika Utara telah menyatakan komitmennya untuk menjadi investor proyek di KEK Cikidang Sukabumi. | Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko mengatakan salah satu negara di Amerika Utara telah menyatakan komitmennya untuk menjadi Investor proyek Silicon Valley atau Bukit Algoritma di Cikidang dan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Kontrak pekerjaan rencana Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK pengembangan teknologi dan industri 4.0 sebelumnya telah ditandatangani PT Amarta Karya bersama Kiniku Bintang Raya dan PT Bintang Raya Loka Lestari di Jakarta, Rabu, 7 April 2021.

"Investor sudah bertemu dengan kami untuk mengerjakan kawasannya," ujar Budiman dikutip dari Tempo, Senin, 12 April 2021.

Indonesia menawarkan nilai investasi awal sebesar Rp 18 triliun atau sekira 1 miliar euro. Nilai tersebut dapat ditingkatkan sesuai dengan pengembangan ekosistem value chain yang akan dikerjakan secara bertahap.

Budiman masih enggan memperjelas nama Investor dan asal pasti negara yang akan menjadi pemodal. Namun ia menyebut, selain negara di Amerika Utara, ada beberapa pihak lainnya yang diklaim telah menyatakan minat ikut mengembangkan Silicon Valley di Sukabumi.

"Yang sudah menyatakan minat ada salah satu negara Eropa Barat, kemudian Timur Tengah, dan dua negara Asia," katanya.

Satu dari dua negara di Asia tersebut berniat mengisi tenan untuk pengembangan riset energi baru dan terbarukan. Sedangkan satu negara lainnya berminat menanamkan modal untuk mengembangkan kawasan dengan nilai investasi sebesar 200 juta euro.

Silicon Valley Sukabumi itu akan dibangun di lahan seluas 888 hektare. Proyek ini terbagi menjadi tiga tahap dengan masa pengerjaan tiga tahun untuk fase pertama, tiga tahun untuk fase kedua, dan lima tahun untuk fase ketiga. Pembangunan proyek pada fase pertama akan merampungkan kawasan seluas 353 hektare. Rencananya, groundbreaking atau pelatakan batu pertama digelar pada Mei mendatang.

Budiman menyebutkan, setelah selesai dibangun pada tahap pertama, Bukit Algoritma akan mulai beroperasi. Di kawasan ini nantinya berdiri pusat sains, theme park, pusat kesehatan, pusat pertanian untuk makanan dan gizi, pusat kebugaran, serta plaza inovasi. Ada pula health center atau pusat kesehatan yang dibangun seperti medical city.

"Nanti juga akan ada pusat kajian ruang udara yang meliputi riset tentang drone kargo, drone penumpang, satelit nano. Kita akan punya banyak satelit nano ukuran kecil," ujar Budiman soal Bukit Algoritma.

photoDesain Bukit Algoritma yang akan dibangun di wilayah Cikidang dan Cibadak Kabupaten Sukabumi. - (Dok. PT Amarta Karya)

Sebelumnya External Affairs PT Amarta Karya Hilmi Dzakwan Shodiq membagikan rencana desain Bukit Alogritma kepada sukabumiupdate.com. Meski ia mengaku belum bisa mempublikasikan rincian lokasi apa saja yang nanti ada di kawasan ini, namun dalam desain yang diterima tampak lanskap yang dipenuhi dengan sejumlah bangunan modern berukuran luas dan replika ikon dunia seperti menara Eiffel.

Selain itu ada pula semacam kompleks taman hiburan berserta danau buatan yang terlihat megah di kawasan itu. "Untuk pemetaan rincian lokasi apa aja di Bukit Algoritma masih rahasia jadi belum bisa dipublikasikan," katanya.

Dikutip dari website resmi PT Amarta Karya, penandatanganan kontrak kerja sama di Jakarta tersebut dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Amarta Karya Nikolas Agung, Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko, dan Direktur Utama PT Bintang Raya Loka Lestari Dani Handoko.

Dalam kesempatan itu hadir pula Direktur Keuangan PT Amarta Karya Hidayat Wahyudi, Corporate Secretary Brisben Rasyid, Kepala Divisi Keuangan Pandhit Seno Aji, dan Business Development Advisor PT Amarta Karya Oki Fahreza.

"PT Amarta Karya dipercaya sebagai mitra infrastruktur "Bukit Algoritma" pada tahap pertama selama tiga tahun ke depan, dengan nilai total diperkirakan 1 miliar euro atau setara Rp 18 triliun," jelas Direktur Utama PT Amarta Karya Nikolas Agung.

Proyek ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas ekonomi 4.0, peningkatan pendidikan dan penciptaan pusat riset dan development untuk menampung ide anak bangsa terbaik demi Indonesia bangkit, serta meningkatkan sektor pariwisata di kawasan setempat.

Selain itu, pengembangan KEK Sukabumi ini pun diharapkan dapat meningkatkan infrastruktur pertumbuhan tangguh berkelanjutan dan pembangunan sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan salah satu alat dukung penuh pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Nikolas, optimalisasi bonus demografi Indonesia menjelang tahun 2045 serta partisipasi dalam upaya mitigasi middle income trap dapat ditempuh melalui peningkatan daya saing, produktivitas inovasi, dan penguatan sumber daya manusia.

"Sebab itu, PT Amarta Karya berkomitmen untuk mengambil peran dan andil yang besar dalam rencana proyek pengembangan KEK Sukabumi ini," ucapnya dalam keterangan tersebut.

Business Development Advisor PT Amarta Karya Oki Fahreza menambahkan pembangunan KEK Sukabumi sangat strategis karena memiliki infrastruktur pendukung, seperti akses Tol Bocimi (seksi II Cibadak), Pelabuhan Laut Pengumpan Regional atau PLPR wisata dan perdagangan Palabuhanratu, bandara Sukabumi Cikembar yang akan dibangun, dan double track kereta api Sukabumi.

"Karena itu kami akan melakukan best effort dan best practice, serta bergandengan tangan dengan pihak-pihak yang berkepentingan agar proyek yang dipercayakan pada PT Amarta Karya ini bisa dilaksanakan dengan lancar."

Silicon Valley sendiri adalah tempat Apple, Google, Facebook, Netflix, dan banyak perusahaan serupa berada, yang jika digabung nilai mereka bisa mencapai triliunan dolar.

Jika dilihat dari data, Valley adalah kawasan seluas 4.801 kilometer persegi dengan tiga juta orang, di mana 38 persen di antaranya dilahirkan di luar Amerika Serikat. Dihitung per kapita, Silicon Valley adalah salah satu tempat terkaya di dunia, lebih kaya dari banyak negara.

Penduduknya rata-rata menghasilkan $125.580 per tahun atau sekira Rp 1,7 miliar. Pada 2015, kawasan ini berada di nomor tiga, setelah Zurich dan Oslo, dari sisi produk domestik bruto.

Image

Admin SUpdate

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur