Light Dark

Mengenal Sindrom Putri Tidur, Remaja Ini Pernah Terlelap Selama 13 Hari

Sehat | 06 Apr 2021, 19:03 WIB
Echa, remaha Banjarmasin, Kalimantan Selatan terlelap. ia diduga menderita Kleine-Levin syndrome (KLS), atau sindrom putri tidur. | (Foto: Facebook/Moel Ya Lo Ve)

SUKABUMIUPDATE.com - Seorang remaja putri berusia 16 tahun di Banjarmasin sudah tertidur pulas selama empat hari. Siti Raisa Miranda alias Echa mengalami sindrom putri tidur, rekornya terlelap selama 13 hari. 

Tahun ini, Echa sudah dua kali tertidur pulas dengan durasi lebih lama dibanding orang kebanyakan. “Sebelumnya pada bulan Februari juga sempat tertidur selama satu setengah hari,” ujar ayah Echa, Mulyadi, di kediamannya Jalan Pangeran, Kecamatan Banjarmasin Utara, Senin (5/4/2021) petang, dilansir dari Kanal Kalimantan.com, jaringan Suara.com.

“Kalau untuk waktu tidurnya itu tidak menentu, kadang 1 hari, 3 hari, 4 hari, bahkan pernah sampai 13 hari pada tahun 2017 silam. Ia akan bangun dengan sendirinya,” sambung Mulyadi.

Echa dikabarkan menderita Kleine-Levin syndrome (KLS), lebih dikenal dengan sebutan sindrom putri tidur. Penderita sindrom ini dapat tertidur lebih dari 20 jam selama beberapa hari. 

Ini adalah sebuah kondisi langka yang ditandai dengan hipersomnia atau tidur dalam jangka waktu lama. Umumnya, KLS menyerang remaja dengan kecenderungan penderita sebanyak 70% dialami kaum pria.  Namun tak menutup kemungkinan kondisi ini juga dapat menyerang siapa saja di segala usia. 

Dikutip dari Alodokter, penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti. Namun, ahli menduga ada gangguan di beberapa bagian otak, tepatnya di hipotalamus dan talamus, pada penderita.

photoEcha, putri tidur Banjarmasin, Kalimantan Selatan terlelap - (Kanalkalimantan.com)

Kedua bagian otak tersebut mengatur nafsu makan, pola tidur, dan suhu tubuh. Faktor keturunan dan penyakit autoimun juga diyakini dapat menyebabkan sindrom putri tidur. 

Penelitian tentang ini masih terus berlanjut hingga saat ini. Selama periode tidur penderita mungkin akan terbangun sesekali untuk ke kamar mandi atau makan, lalu setelahnya ia akan kembali tertidur.

Pada beberapa kasus, gejala kelainan langka ini akan hilang seiring bertambahnya usia. Tetapi dapat muncul kembali di kemudian hari.

Tetapi memang mendiagnosis KLS cukup sulit lantaran gejala utamanya mirip dengan penyakit lain, seperti penyakit saraf dan gangguan kejiwaan. Untuk mendiagnosisnya, biasanya memerlukan waktu hingga bertahun-tahun.

SUMBER: SUARA.COM

Image

Admin SUpdate

Image

Fit NW

Redaktur