Light Dark

Geopark Ciletuh Sukabumi, Anugerah Neptunus di Selatan Jawa

Sukabumi | 21 Mar 2021, 02:00 WIB
Geopark Ciletuh Sukabumi atau Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark merupakan pesona alam Indonesia yang ada di selatan Jawa. Foto ini diambil pada tahun 2011 dan menjadi foto pertama Teluk Ciletuh dari Puncak Darma. | Dedi Suhendra

SUKABUMIUPDATE.com - Geopark Ciletuh Sukabumi merupakan kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi ikon pariwisata, tak hanya di Indonesia, namun juga dunia. Selain itu, lokasi ini pun memiliki catatan sejarah menarik yang patut ditelusuri.

Geopark Ciletuh Sukabumi atau lengkapnya Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark memiliki luas sekira 126 ribu hektar atau 30,3 persen dari luas wilayah Kabupaten Sukabumi. Taman bumi ini tersebar di 74 desa di delapan kecamatan Kabupaten Sukabumi, yakni Cisolok, Cikakak, Palabuhanratu, Simpenan, Waluran, Ciemas, Ciracap dan Surade.

Berasal dari Lautan Purba

Saat mengamati Ciletuh, kita seolah menyaksikan sebuah proses masa lampau yang terjadi sekira 60 juta tahun lalu.

Tumbukan lempeng benua menyingkapkan kerak samudera yang bercampur dengan mantel bumi sebelah atas, sehingga batuan di wilayah ini bercampur aduk dengan palung bumi yang disebut melange.

Pengamat sejarah Sukabumi, Irman Firmansyah mengatakan, singkapan tersebut berada di lembah yang menyerupai amfiteater besar (mega amfiteater) dengan bentuk tapal kuda. Ini bisa dilihat dari Puncak Darma maupun Panenjoan.

"Sebuah proses ambruknya daratan yang terjadi puluhan juta tahun yang lalu. Sementara itu, bagian dekat lautnya tenggelam ke dalam Teluk Palabuhanratu," kata Irman kepada sukabumiupdate.com, Minggu, 14 Maret 2021.

photoPeta Ciletuh tahun 1739 karya Paulus Pauluz - (Ancient Maps via Soekaboemi Heritages)

Irman yang juga penulis buku “Soekaboemi the Untold Story” ini mengungkapkan, batuan di Ciletuh merupakan batuan tertua yang tersingkap di permukaan daratan Pulau Jawa. Maka tidak heran jika berkunjung ke Ciletuh, Anda akan disuguhi berbagai batuan masa lampau, seperti batu batik dan batu tua lainnya.

Lembah Ciletuh ini dibatasi dataran tinggi Jampang yang terjal dan vertikal, sehingga Anda akan melihat pemandangan Ciletuh yang indah dari atas dataran tinggi tersebut.

Di lembah ini pun terdapat rangkaian bukit yang batuannya tersusun dari batuan purba. Bebatuan ini yang kemudian membentuk pulau-pulau kecil seperti Pulau Mandra, Kunti, Manuk, dan pulau lainnya yang terletak di sekitar Pantai Ciletuh.

Ciletuh di Masa Kolonial

Ciletuh telah dikenal sejak masa kolonial. Pada awalnya, kawasan ini disebut sebagai Tjiletoe, Cjiletoek, Tjiletoeh, atau Zandbaai. Banyak peneliti maupun pelancong yang mengunjungi wilayah ini, salah satunya peneliti berkebangsaan Jerman bernama Franz Wilhelm Junghuhn.

Irman yang kini aktif sebagai Kepala Riset dan Kesejarahan Soekaboemi Heritages menuturkan, akses menuju Ciletuh kala itu sangat sulit. Namun, beberapa orang yang berhasil mengunjungi kawasan ini akan mendapatkan pemandangan alam yang mengagumkan. Pernyataan ini sesuai dengan laporan JG Dorman pada 1 Agustus 1916 yang telah diterjemahkan oleh tim Soekaboemi Heritages.

"Pantai ini jauh ke selatan. Ada lereng gunung, rawa dan pantai, pantai berbatu di sekitar Jampang Kulon dan dekat Ciletuk memang bagus konturnya. Pantainya memiliki gelombang yang cukup kencang dari Samudera Hindia. Di sekitar situ banyak populasi ikan langka yang sayangnya dibawa kuli ke Sukabumi dijual atau dibikin terasi. Ada juga jutaan tiram di situ, banyak yang belum dieksploitasi karena jalannya yang sulit. Jauh ke Selatan lagi ada kura-kura besar yang bersarang di pasir. Pantai Thiletoek atau sand bay ini paling bersih di Priangan. Dari ketinggian seribu kaki ada juga air terjun yang mengesankan. Di belakang salah satu air terjun itu ada cairan kuning mirip sulfur yang ditemukan oleh Junghuhn. Tempat ini semacam anugerah Neptunus kepada Pulau Jawa atas keindahannya," demikian bunyi laporan tersebut.

Dapat dibayangkan orang asing saat itu berupaya mendatangi Ciletuh dengan akses yang tidak mudah demi keindahan dan keunikan alamnya.

Pengunjung asing pertama yang datang ke kawasan Ciletuh sebenarnya adalah para pelaut dan kartografer yang membuat peta laut Selatan. Namun konon katanya, datang pula pengusaha tuak kelapa yang mencari sumber kelapa ke sekitar Palabuhanratu dan Ciletuh.

"Pada abad 19 para pengusaha mulai mengeksplorasi wilayah ini, maka munculah onderneming (perkebunan yang diusahakan secara besar-besaran dengan alat canggih) Ciletuh dan para pemilik penggilingan padi," kata Irman.

photoBatu di Ciletuh - (Docters Van Leeuwen via Soekaboemi Heritages)

Sementara penduduk asli di wilayah ini masih melanjutkan budaya huma atau tipar yang merupakan budaya asli sebelum Mataram masuk. Bahkan sebagian orang dari Utara yang menghindari tanam paksa memasuki Ciletuh dan ikut bermukim.

Selain itu, para penyebar Islam juga mulai memasuki kawasan ini. Itu dibuktikan dengan adanya makam yang konon adalah makam Mbah Durak, seorang penyebar agama Islam di wilayah Ciletuh. 

Ciletuh semakin menjadi tujuan para pelancong selepas dibentuknya organisasi Venatoria yang mengorganisir perburuan banteng di Cikepuh. Pada masa Perang Dunia II, kawasan ini menjadi tempat persinggahan kapal-kapal Belanda yang transit menuju Palabuhanratu atau Australia.

Kawasan ini memang telah dikenal sejak zaman Belanda. Bahkan Teluk Ciletuh telah disinggahi kapal-kapal Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC yang melakukan pemetaan pantai Selatan untuk pertama kali.

"Mereka menyebut Ciletuh sebagai pantai yang mempunyai batu-batu kristal tua, tak terkecuali Van Riebeeck," sambung Irman. Pada 1711 Abraham Van Riebeeck menurunkan sauh (jangkar) di Ciletuh sebelum mereka berangkat ke Palabuhanratu atau semula bernama Wijnkoopsbaai. 

Sebelum akhir 1930-an, lokasi yang terkenal di pantai Selatan Sukabumi hanya ada dua, Wijnkoopsbaai dan Sandbaai (Ciletuh).

Sedangkan Ujung Genteng (Gentengbaai) baru dibangun pada akhir 1930-an untuk mengantisipasi peperangan dengan Jepang. Meski konon, ini merupakan pelabuhan tertua di Sukabumi yang telah ada sejak masa kerajaan Tanjung Kidul (150 Masehi).

Palabuhanratu sendiri mulai menjadi pelabuhan semi modern ketika VOC mengalami kebangkrutan pada sekira 1799. Kala itu dibangun gudang-gudang VOC untuk evakuasi dan dari sana muncul dermaga sekoci awal di Gado Bangkong, sebelum pembangunan secara modern yang dimulai pada awal 1900-an.

Irman mengungkapkan, semula tidak ada yang berani memasuki Ciletuh melalui jalur darat, selalu dari laut. Namun ketika perkebunan mulai masuk dan orang-orang Belanda mendirikan penggilingan padi di kawasan ini, barulah dimulai perjalanan darat meski aksesnya masih sulit.

Sebagian orang, seperti Junghuhn pun mendatangi Ciletuh melalui jalur laut dari Palabuhanratu. Bahkan pada periode 1890-1923, kapal uap Koninklijke Paketvaart Maatschappij atau KPM melayani jalur Palabuhanratu-Ciletuh dengan kapal Speelman dalam waktu tempuh kurang lebih dua jam.

KPM sendiri adalah sebuah perusahaan pelayaran yang mempunyai kedudukan hukum di Amsterdam, Belanda. Namun kantor pusat operasinya berada di Batavia (kini disebut Jakarta) sejak zaman Hindia Belanda. Perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayaran ini beroperasi mulai tahun 1888.

Memasuki tahun 1900, lalu lintas menuju Ciletuh mulai cukup ramai karena adanya tempat berburu, yakni Cikepuh atau yang dulu disebut Cibanteng. Meski pada 1929 telah ada reservasi pemerintah, namun tempat tersebut masih tetap ramai karena peran organisasi berburu Venatoria yang dipimpin orang terhormat dari keluarga Kerkhoven.

Perusahaan paket KPM yang dipimpin Eekhout, tinggal di Pelabuhanratu sejak 1903, benar-benar menguasai jalur tersebut.

photoDeretan batu di laut Ciletuh - (KIT Colonial Library of Leiden University via Soekaboemi Heritages)

Sementara itu, munculnya perkebunan di sekitar Ciletuh, seperti Ciemas, sempat disambut dengan rencana pembangunan jalan kereta api yang lahir dari ide onderneming Ciletuh dan novelis Charles Edgar du Perron.

Rancangan jalan kereta api tersebut berasal dari dua arah, yakni Bandung Ciletuh melalui Pagelaran-Agrabinta dan dari Cicurug-Palabuhanratu bersambung melalui Jampang. Namun kedua rancangan ini pada akhirnya tidak terlaksana oleh sebab-sebab tertentu.

Meski begitu, bisnis di wilayah ini tetap berjalan, seperti perusahaan kelapa yang mulai bermunculan. Bahkan terdapat pengolahan batu yang membawa dinamit untuk mengambil batu-batuan di sana. Sementara keindahan kawasan ini masih menjadi destinasi para pengunjung.

Kala itu lokasi yang cukup terkenal adalah Bale Kambang karena letaknya berdekatan dengan Sungai Ciletuh. Kemudian ada pula taman bunga serta hamparan sawah dan air terjun.

"Seperti Cimarinjung. Selain itu, ada juga rumah-rumah asli terbuat dari batu yang cukup unik," papar Irman.

Pada awalnya, wilayah ini merupakan kawasan terpencil. Namun pada masa tanam paksa (zaman kolonial Hindia Belanda), Ciletuh menjadi tujuan para petani tipar atau huma yang dipaksa untuk bertani di wilayah utara. Mereka bergerak menuju Selatan dan meneruskan kebiasaan mereka berhuma, karena saat bertani mereka dipaksa untuk menanam komoditas internasional dan harus mengikuti seorang juragan. Jika menolak, mereka tidak dianggap penduduk dan tak punya hak dari sudut pandang pemerintah Hindia Belanda.

Orang Belanda awal yang semasuki Ciletuh setelah pelaut VOC diperkirakan adalah para ilmuwan, lalu pengusaha. Mereka tidak mengganggu keberadaan para petani huma, apalagi sejak tanam paksa dihapuskan. Keberadaan petani huma bebas dan aman, sehingga industri baru berjalan, beriringan dengan budaya ekonomi lama.

Ciletuh saat ini telah disahkan sebagai geopark baru di Sukabumi yang kemudian meluas menjadi Geo Area Jampang dan Geo Area Palabuhanratu.

Untuk diketahui, pengkondisian Ciletuh, termasuk pembukaan akses jalan menuju Puncak Darma, dirintis pertama kali oleh keluarga H Ahmad Sopandi atau H Opan dan anaknya, Dedi Suhendra.

"Kang Dedi dikenal sebagai sesepuh komunitas pelestari dan pengembangan Ciletuh. Beliau juga dikenal sebagai pendiri dan pengelola grup Facebook terbesar di Sukabumi, Sukabumi Facebook," jelas Irman.

Ciletuh Menjadi Geopark

Dihubungi sukabumiupdate.com, Dedi Suhendra turut berbagi informasi ihwal bagaimana kawasan Ciletuh ini dapat ditetapkan sebagai geopark atau taman bumi.

Geopark sendiri merupakan konsep pengelolaan pembangunan kawasan berkelanjutan yang menyelaraskan keanekaragaman geologi, hayati, serta budaya melalui kaidah konservasi dan tata ruang yang ada.

Geopark juga adalah kawasan geografis yang memiliki situs warisan geologi yang menonjol dan merupakan bagian dari konsep holistik perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Demi mewujudkan Ciletuh menjadi geopark, kata Dedi, perlu dukungan infrastruktur, sarana, regulasi, kebijakan pemerintah, dan program pemberdayaan masyarakat. Sebab, geopark memiliki motto "Memuliakan Bumi, Memakmurkan Masyarakat". 

Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan geopark dikembangkan melalui paket-paket pariwisata seperti geowisata, bahari, petualangan, budaya, belanja, kuliner, dan wisata buatan.

Penjelasan soal geopark juga mendapat penguatan lebih rinci dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark).

Di aturan itu disebutkan, geopark adalah wilayah geografi tunggal atau gabungan yang memiliki situs warisan geologi (geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait dengan aspek warisan geologi (geoheritage), keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (culturediversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya.

photoLanskap amfiteater dilihat dari Panenjoan - (Iman Firmansyah)

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Badan Pengelola Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark, perjalanan kawasan ini hingga ditetapkan sebagai global geopark oleh Unesco, bermula pada sebelum tahun 2013.

Saat itu terdapat penelitian geologi dari Universitas Padjadjaran serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Barat untuk penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi yang akan dituangkan dalam peraturan daerah soal kawasan lindung.

Kemudian pada 2013 dilakukan sosialisasi oleh Badan Geologi tentang geopark Jawa Barat di Sukabumi. Setahun berikutnya, kawasan ini ditetapkan sebagai calon geopark melalui Surat Keputusan Bupati Sukabumi.

Setahun berselang atau 2015, ditetapkan Geopark Nasional Ciletuh oleh Komite Geopark Nasional Indonesia bersama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco yang meliputi dua kecamatan, yakni Ciemas dan Ciracap.

Selanjutnya, pada 2016 dilakukan kajian terkait geodiversity, biodiversity, dan culturediversity untuk deliniasi kawasan menjadi delapan kecamatan. Sehingga terbit Surat Keputusan Gubernur untuk penetapan kembali sebagai Geopark Nasional Ciletuh Palabuhanratu dengan delapan kecamatan.

Pada tahun yang sama juga dilakukan usulan agar wilayah ini menjadi Unesco Global Geopark. Hingga pada tahun selanjutnya atau 2017, tim dari Unesco melakukan kunjungan dan penilaian. Baru pada 2018, tepatnya 17 April, kawasan ini ditetapkan sebagai Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark di Paris, Prancis.

Dedi menjelaskan, inisiasi pembentukan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark didasarkan pada lima komponen penting, antara lain akademisi yang mewakili unsur perguruan tinggi dan lembaga penelitian, komunitas mewakili orang-orang yang tinggal dan bertempat tinggal di daerah tersebut, pemerintah meliputi unsur pemerintahan dari tingkat paling bawah di desa hingga gubernur dan pemerintah pusat di bawah kementerian, pengusaha yang mewakili Badan Usaha Milik Negara atau BUMN serta swasta, dan media massa sebagai media promosi.

Kelima komponen tersebut memiliki kesamaan visi dan misi dalam melestarikan sumber daya alam dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. 

Pengembangan program Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dilakukan secara terintegrasi antara masyarakat sekitar, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Badan Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA, Universitas Padjadjaran, Badan Geologi, dan PT Bio Farma.

Dedi menuturkan, BUMN Bio Farma memiliki keterlibatan yang cukup aktif dalam melakukan pendampingan percepatan, dari kawasan Geopark Nasional menjadi Unesco Global Geopark.

Selain itu, ada pula kontribusi dari berbagai komunitas di Sukabumi dalam proses penetapan kawasan ini menjadi taman bumi global. Mereka antara lain komunitas FOTOKAMI, Backpacker Sukabumi, Soekaboemi Heritages, Iket Sunda, dan lain-lain.

"Cuma karena tidak berada di kawasan geopark, komunitas ini lebih bersifat supporting dari luar. Tanpa supporting awal seperti itu, susah untuk komunitas lokal berkembang," jelasnya

Sementara itu, Kepala Divisi Pengelolaan Lingkungan dan Sosial PT Bio Farma Herry menambahkan, pihaknya memiliki komitmen untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Sehingga saat itu perusahaan plat merah ini turut mendorong pengembangan kawasan Ciletuh menjadi Global Geopark.

Hal pertama yang dilakukan Bio Farma adalah menguatkan kapasitas lokal. Sebab, untuk mengembangkan kawasan ini menjadi Global Geopark, diperlukan keterlibatan warga sekitar. "Sehingga mulai bangkit dan memunculkan substitusi pekerjaan untuk menjadi pemandu wisata," katanya.

Bio Farma menjadi contoh partnership pengembangan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark. Bahkan ada cerita menarik di mana saat itu Bio Farma menyewa helikopter untuk membawa penilai dari Unesco, Guy Martini, karena akses darat yang belum memungkinkan.

Helikopter berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan mendarat di Pantai Palangpang. " Beliau juga waktunya sangat sempit. Saya ingin memperlihatkan area geosite-nya di wilayah Ciletuh.Tapi pulangnya lewat darat ke Palabuhanratu," jelas Herry.

Keunggulan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark

Kepala Seksi Pengelola Geosite Badan Pengelola Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark Muhamad Teguh mengatakan, keunggulan geologi kawasan ini diangkat dalam tiga tema.

Pertama, bukti adanya tumbukan lempeng benua Eurasia dan lempeng Samudera Indo-Australia pada zaman kapur 60-70 Juta tahun yang lalu (Fossil Subduksi Purba).

Kedua, proses pengangkatan dasar lautan menjadi daratan akibat subduksi (Plato Jampang) dan proses geologi selanjutnya berupa amfiteater alam di Kecamatan Ciemas.

Ketiga, pergeseran jalur magmatik purba dari selatan ke utara, ditandai dengan adanya geyser (air mancur panas) di wilayah Cisolok dan pegunungan api muda.

Teguh menuturkan, ketiga tema tersebut menjadi daya tarik utama sekaligus keunggulan yang dimiliki Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark.

"Branding internasional yang telah disematkan kepada Ciletuh-Palabuhanratu sebagai anggota Unesco Global Geopark merupakan stimulan yang harus dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan pola pariwisata yang berkualitas," ucap Teguh.

1. Fossil Subduksi Purba

Dalam tema ini Anda dapat menyingkap jejak bukti palung laut dalam akibat penunjaman lempeng samudera pada akhir zaman kapur (50-65 juta tahun yang lalu).

Batuannya sangat bervariasi dan tergolong langka (Melange Ciletuh). Morfologi yang terbentuk dari struktur geologi dan batuan tersebut juga menciptakan panorama yang begitu menarik dan mengundang jiwa-jiwa petualangan.

Anda juga bisa mengeksplorasi kawasan Melange Ciletuh (kompleks batuan tertua di Pulau Jawa) dan mengunjungi pulau-pulau kecil yang tersebar di Teluk Ciletuh. Termasuk mengeksplorasi keindahan lanskap Pantai Cikepuh, Goa Laut Sodong Parat, dan morfologi bebatuan sedimen benua nan unik.

photoPantai Cikepuh - (Iman Firmansyah)

Tidak hanya itu, pada tema ini juga bisa dinikmati keindahan lanskap Pantai Ombak Tujuh dengan deburan ombaknya yang terkenal di kalangan surfer dunia. Juga keindahan pohon cantigi yang tumbuh di antara batu karang.

Fossil Subduksi menyediakan wahana pelepasan tukik (anak penyu, red) sambil menikmati suasana matahari terbenam di pesisir Pantai Pasir Putih Pangumbahan Ujung Genteng.

photoPelepasan tukik di Pantai Pangumbahan - (Iman Firmansyah)

2. Plato Jampang

Kawasan ini merupakan bentang alam berupa dataran tinggi Jampang yang terbentuk dari proses pengangkatan kala Oligocene-Plitocene (28-1,8 juta tahun yang lalu). Dalam terminologi phisiographic, morfologi ini dinamakan Jampang Plateau atau Plato Jampang. 

Di Plato Jampang ini Anda dapat mengunjungi kemegahan Curug Cimarinjung dan Curug Sodong. Kemudian Anda bisa mengenali proses endogen bagaimana curug-curug tersebut bisa terbentuk.

photoCurug Cimarinjung - (Iman Firmansyah)

Selanjutnya, kunjungi juga situs budaya makam Mbah Durak di kampung lama Cikalong yang merupakan cikal bakal perkampungan di Ciletuh. 

Yang paling menarik dari tema kawasan ini adalah lanskap bentang alam amfiteater raksasa yang merupakan nilai penting dari Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark. Ini menjadi bukti adanya pergerakan tanah dan batuan pada kerak samudera. Wilayah ini dapat dilihat dari bukit Panenjoan.

Daerah Aliran Sungai hulu Sungai Cikarang (Leuwi kenit) pun menjadi titik yang bisa menguji seberapa indah pesona alam Indonesia. Anda bisa menemukan apa yang dinamakan earth sculpture.

photoCurug Sodong - (Iman Firmansyah)

3. Pergeseran Jalur Magmatik Purba

Dalam tema kawasan ini Anda bisa menelusuri jejak pergeseran magmatik purba. Termasuk menemukan keselarasan ketika alam bertemu dengan budaya.

Pergeseran jalur magmatik purba menyediakan fenomena geologi langka, yakni Geyser Cisolok, yang hanya satu-satunya di Indonesia. Sebagai pembuktiannya, ditemukan pergeseran jalur magmatik dari Selatan ke Utara.

photoGeyser Cisolok - (Iman Firmansyah)

Selanjutnya ada situs Cengkuk di Kecamatan Cikakak yang pernah menjadi pusat kebudayaan pada zaman Megalitik dan terus berlanjut hingga zaman logam. Termasuk Anda juga dapat mengunjungi Pantai Karanghawu dan temukan hamparan abu vulkanik yang terendapkan hingga menjadi lanskap pantai yang unik.

photoSitus Cengkuk - (Iman Firmansyah)

Akses Menuju Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark

Titik pertama yang harus didatangi wisatawan saat akan berkunjung ke Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark adalah Geopark Information Center yang berlokasi di Jalan Raya Citepus Palabuhanratu. Ini menjadi layanan pusat informasi geopark dan sekaligus sebagai pusat informasi pariwisata.

Setelah cukup mendapatkan informasi mengenai Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark di Geopark Information Center, Anda bisa langsung memilih jalur geowisata yang tersedia, mulai dari objek yang ada di wilayah Palabuhanratu-Cisolok hingga menuju kawasan inti di Ciletuh.

Untuk menuju kawasan inti, dari Geopark Information Center Anda dapat memasuki jalur sabuk Loji yang membentang di sepanjang wilayah Palabuhanratu-Simpenan-Pantai Loji-Girimukti-Tamanjaya-Ciracap atau Ujung Genteng.

Fasilitas di Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark

Jika Anda berniat menginap di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark, maka tersedia beragam jenis penginapan, mulai dari hotel di wilayah Palabuhanratu hingga homestay di kawasan inti alias Ciletuh. Homestay ini merupakan rumah-rumah milik masyarakat yang telah direkomendasikan sebagai Geo Homestay.

Di Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark pun Anda bisa menemukan berbagai jenis makanan lokal yang telah dikemas menjadi produk geo kuliner, antara lain opak geopark, aneka penganan dari hanjeli, buah mangga Ciwaru atau keripik manga, kopi Jampang, beras hitam dan olahannya, aneka olahan ikan laut, sup marlin khas Palabuhanratu, ikan teri Palangpang, dan lain-lain.

Peran budaya lokal dalam pilar pengembangan Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark menjadi sangat penting keberadaannya.

Pengelompokkan budaya dalam geopark ini dibagi menjadi dua bagian (budaya benda dan budaya tak benda), termasuk dongeng dan legenda masyarakat lokal seperti Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan), budaya ngabungbang, serta kearifan lokal masyarakat adat kasepuhan dalam menjaga kelestarian alam dan pola bercocok tanam yang menggunakan rasi bintang (astronomi).

Terdapat pula kesenian-kesenian tradisional asli setempat, di antaranya pencak silat, gondang, dogdog lojor, laes, debus, dan sebagainya, maupun hasil akulturasi dengan budaya lain seperti tarian cepet (kuda lumping) yang merupakan akulturasi dengan masyarakat pesisir Selatan Jawa.

Baca Juga :

Kini Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark kembali menjalani revalidasi. Pelaksanaan revalidasi untuk tahun 2021 akan dilakukan pada bulan Juli nanti dengan ketentuan seluruh aplikasi dan persyaratan penilaian harus disetorkan ke Unesco. Revalidasi ini dilakukan dalam jangka waktu empat tahun sekali dengan 13 rekomendasi yang harus diselesaikan.

Rekomendasi tersebut antara lain master plan Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu tahun 2017-2025 yang disusun Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang harus didukung oleh bukti administrasi dan anggaran dari seluruh mitra.

Kemudian perjanjian kemitraan yang telah ditandatangani Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark harus dilanjutkan dan diperkuat dengan aktivitas spesifik yang sesuai dan terintegrasi. Selanjutnya perlu ada pengembangan dan peningkatan infrastruktur bagi pengunjung, memperluas program pendidikan, mengembangkan modul-modul training untuk pemandu lokal, dan melakukan riset-riset yang lebih spesifik.

Selain itu, rekomendasi lain yang juga harus dilakukan adalah menginventarisasi warisan tak berwujud, memperbaiki panel informasi ilmiah dan interpretasi materi yang mudah dipahami, membangun kerja sama kemitraan, mengembangkan seluruh kawasan dengan kualitas yang sama, mengembangkan kerja sama internasional dan pertukaran pengalaman, menghindari pengulangan penggunaan terminologi Geo Area dan memperkuat jejaring dengan Unesco Global Geopark yang lain.

"Semua aplikasi dan persyaratan penilaian harus masuk dan kunjungan akan dilakukan tiga bulan setelah aplikasi masuk. Terkait jadwal dan waktu kunjungan penilaian, menunggu sidang council di Paris, Prancis," pungkas Kepala Seksi Pengelola Geosite Badan Pengelola Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark Muhamad Teguh.

Image

Admin SUpdate

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur