Light Dark

Ponsel Halal ala Komunitas Yahudi, Bagaimana Kerjanya?

Gadget | 12 Mar 2021, 09:00 WIB
Komunitas Yahudi Orthodox Heredi memperkenalkan ponsel halal | Times of Israel

SUKABUMIUPDATE.com - Komunitas Yahudi Orthodox Heredi memperkenalkan Ponsel halal (kosher) untuk mengatasi masalah Fear of Missing Out atau FOMO. FOMO sendiri merupakan penyakit kejiwaan takut kehilangan atau ketinggalan pesan, postingan, dan notifikasi.

FOMO dapat menyebabkan rasa sakit fisik sungguhan. Bahkan Dr Pessia Friedman-Rubin, dari sekolah kedokteran gigi Universitas Tel Aviv mengatakan, peneliti menemukan korelasi langsung antara ketergantungan perangkat dengan penanda stres dan kecemasan.

"Penanda itu adalah gigi gemeretak dan nyeri rahang," kata Pessia seperti dikutip dari Times of Israel, Jumat, 12 Maret 2021. "Orang-orang yang kurang terikat pada Ponsel tidur lebih nyenyak, dengan tidak terlalu mengalami gangguan mata."

Orang-orang terus menggunakan Ponsel karena khawatir melewatkan sesuatu. Mereka akan selalu memeriksa WhatsApp, Facebook, dan aplikasi lain, setiap saat. Semua ini menciptakan siklus ketergantungan semakin besar pada ponsel.

"Ketergantungan semakin besar akan mengarah pada stres dan kecemasaan, serta perasaan bahwa seseorang akan menulis sesuatu di media sosial dan merindukannya," sambung Pessia.

Baca Juga :

photo(Ilustrasi) Ponsel halal ala komunitas Yahudi Orthodox Heredi tidak menginstal semua aplikasi media sosial - (Pixabay)

Bersama timnya, Pessia memanfaatkan karakteristik unik penggunaan Ponsel di masyarakat Israel ini.

Hal terbalik justru terjadi di kalangan komunitas Yahudi Orthodox Heredi, di mana peneliti tidak menemukan kasus FOMO. Ternyata, komunitas ini telah memperkenalkan Ponsel halal.

"Komunitas Heredi menghindari Ponsel biasa dan memperkenalkan Ponsel halal," kata Pessia. "Ponsel halal adalah smartphone yang tidak menginstal semua aplikasi media sosial."

Ponsel halal diperkenalkan para rabbi, ulama Yahudi, di kalangan komunitas. Hasilnya, hanya 22 persen yang merasa terikat dengan ponsel, serta 20 persen mengaku mengalami stres berat dan sakit fisik.

Sementara di sisi lain, ada sebanyak 50 persen mengaku pernah mengalami stres tingkat sedang dan tinggi, lalu beralih ke Ponsel halal dengan mencopot semua aplikasi.

Image

Teguh Setiawan

Reporter

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur