Light Dark

Pembelajaran Daring Pada Pelajaran PAI di Masa Pandemi Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

Opini | 22 Feb 2021, 12:00 WIB

Pembelajaran Daring Pada Pelajaran PAI di Masa Pandemi Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

Opini | 22 Feb 2021, 12:00 WIB
Eli Maymunah | Istimewa

Oleh: Eli Maymunah, S.Ag, M.Pd

(Guru PAI di SMAN 1 Sagaranten,Sukabumi)

Pendidikan adalah sebuah cara yang tepat untuk menempatkan manusia pada tempatnya yang sesuai, dengan mengembangkan sikap saling menghormati yang dilandasi prinsip equality atau persamaan terhadap sesamanya. Dalam Pelaksanaan pendidikan maka apa yang dikerjakan adalah hal yang penting karena didalamnya terdapat aktifitas mutualisme diantara komponen-komponen tersebut. Interaksi saling membutuhkan ini tidak dapat dipahami secara ekonomis saja, namun harus dilihat dari segi intelektual dan investasi kemanusiaannya. 

Dalam proses pendidikan terdapat  kerjasama yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini pendidik, peserta didik ,orangtua dan pemerintah  saling bekerjasama dalam mencapai tujuan masing-masing. Dalam hal ini orangtua tidak dapat begitu saja menyerahkan anaknya kepada guru, tentu ada konsekuensi yang yang harus ditanggung oleh masing-masing komponen sehingga akan menghasilkan kerja sama yang akan mengantarkan pada tujuan yang telah ditetapkan.

Di era covid-19 dalam pendidikan dikenal dengan istilah daring yaitu pembelajaran dengan menggunakan media berupa internet untuk saling berhubungan antara pendidik dengan peserta didik atau antara pendidik dengan orangtua siswa. Fasilitas daring identik dengan literasi yaitu mengamati, membaca dan melakukan pekerjaan baik mengajar ataupun mengerjakan tugas dengan alat digital yang tidak terlepas dari fasilitas yang digunakan. Tentu saja kebiasaan yang baru ini menimbulkan adanya pengetahuan yang bertambah dan juga skill yang bertambah. Yang pada mulanya guru terbiasa mengajar didepan kelas kemudian mau tidak mau guru harus mempelajari bagaimana agar bisa memberikan pembelajaran secara jarak jauh. Selain menambah skill guru, kemampuan untuk menggunakan alat-alat digital juga menjadi pengalaman tersendiri yang terpaksa kemudian menjadi terbiasa. Apabila awalnya merasa tidak yakin dengan pembelajaran menggunakan fasilitas seperti zoom atau googlemeet namun pada saat ini itulah fasilitas yang dapat digunakan untuk menyampaikan tujuan pembelajaran. Dengan keterpaksaan ini maka secara tidak langsung guru akan menguasai media belajar yang pada awalnya adalah merupakan sesuatu yang sangat asing yang tentu saja tidak biasa untuk digunakan.

Tujuan dalam Pendidikan khususnya Islam  di peroleh dengan mempelajari sumber hukum Islam yang dikaji.   Sebagai pokok ilmu dalam  Islam Al Qur’an dan Al Hadis  yang keduanya merupakan materi ajaran Islam yang menyentuh mengenai kepercayaan atau keyakinan(akidah) manusia kepada Allah yang merupakan landasan spiritual keagamaan. Bentuk keyakinan mahluk  kepada Allah itu, yang menjadikan manusia tunduk untuk melaksanakan semua aturan syar’iat yang ada dengan tingkah laku, akhlak yang baik dan benar dalam hidupannya. Kepercayaan kepada Allah, hukum  dan akidah yang digunakan manusia dalam hidupnya berjalan  sepanjang kehidupan itu sendiri.

Filsafat pendidikan Islam pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan masalah pendidikan. filsafat suatu Negara akan berpengaruh terhadap pendidikan yang berlangsung dinegara tersebut. filsafat juga tidak dapat dilepaskan dari Yunani sebagai tempat yang dianggap melahirkan para filsuf-filsuf terkenal. Namun demikian Islam Pun tidak dapat dilepaskan dari filsafat dan filsafat Islam sering disandingkan sebagai penerjemah filsafat Yunani.  Filsafat Pendidikan Islam merupakan kajian filosofis mengenai berbagai masalah pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam. Kajian filosofis digunakan dalam Filsafat Pendidikan Islam artinya merupakan pemikiran secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam mencari kebenaran, inti atau hakikat pendidikan Islam. Filsafat berupaya menguraikan landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi Filsafat Pendidikan Islam, yang diinterelasikan dengan pandangan dunia Islam tentang pendidikan. 

Pendidikan Islam secara fungsional merupakan upaya umat Islam merekayasa pembentukan manusia yang sempurna melalui penciptaan situasi interaksi edukatif yang kondusif. Dalam posisinya yang demikian, pendidikan Islam adalah model rekayasa individual dan sosial yang sangat efektif untuk menyiapkan dan menciptakan masyarakat ideal di masa depan. Sejalan dengan konsep perekayasaan masa depan umat, pendidikan Islam harus memiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditransformasikan kepada peserta didik agar menjadi milik dan kepribadiannya sesuai dengan idealisme Islam. Untuk itu, perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan Islam yang sepenuhnya mengacu pada nilai-nilai asasi manusia. Dalam kaitan inilah diharapkan filsafat kurikulum pendidikan Islam mampu memberikan arah bagi pembentukan kurikulum pendidikan Islam yang Islami. Pembelajaran pada dasarnya merupakan rekayasa agar peserta didik agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pencitraannya. Dalam upaya ini maka segala upaya merupakan proses belajar baik di dalam sekolah, lingkungan maupun pada proses itu sendiri. 

1. Materi/Kurikulum

Materi atau kurikulum sebagai suatu substansi, yakni bahwa kurikulum adalah sebuah rencana kegiatan belajar para siswa di sekolah, yang mencakup rumusan-rumusan tujuan, bahan ajar, proses kegiatan pembelajaran, jadwal dan evaluasi hasil belajar. Materi-materi dan metode-metode pendidikan Islam yang dimuat dalam kurikulum, untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan budaya, perlu ditinjau untuk disesuaikan dengan semangat pengembangan budaya dan ajaran-ajaran Islam yang menyangkut berbagai aspek kebutuhan seperti: ekonomi, teknologi, sosial, dan lain-lainnya. Sementara yang tampak dilakukan oleh sekelompok  umat adalah mengupayakan untuk menjadikan proses pengetahuan, ilmu, ketrampilan dan nilai-nilai kebudayaan Barat untuk menjadi bagian utama dari kurikulum pendidikan Islam, tanpa memandang perlu untuk melakukan proses internalisasi yang lebih dalam dari sisi ajaran-ajaran Islam. 

2. Tujuan

Pakar-pakar pendidikan Islam, mengelompokkan tujuan umum pendidikan Islam menjadi beberapa bagian , yaitu:

a. Membentuk akhlak yang mulia.

b. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan dunia dan akhirat.

c. Mempersiapkan peserta didik dalam dunia usaha (mencari rizki) yang professional.

d. Menumbuhkan semangat ilmiah kepada peserta didik untuk selalu belajar dan mengkaji ilmu.

3.Hakikat

Filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber kepada ajaran-ajaran Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Sehingga dalam pendidikan Islam yang menjiwai dan menjadi ruh adalah ajaran-ajaran Islam yang mendasar yaitu Al qur’an dan Al Hadis. Hakikat pendidikan Islam adalah mutlak beban yang di berikan kepada seluruh mat bahkan kewajiban untuk mencari ilmu dari sejak lahir hingga meninggal.

a. Hakikat guru

Adalah figur yang diharapkan menjadi panutan serta suri tauladan yang baik dalam pembelajaran dikelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.

b. Hakikat peserta didik

Adalah peserta didik yang merupakan individu dan kelompok yang mencari ilmu untuk kemajuan dunia dan akhirat.

Al ghazali berpendapat bahwa tauhid atau keimanan adalah yang terpenting dan utama dalam mencari ilmu. Siswa yang bertauhid dan beriman maka akan berhati-hati dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga amatlah penting bagi seorang siswa untuk meningkatkan ilmu dan tauhidnya.  Sedangkan menurut Ibnu Khaldun semua ilmu wajib dipelajari karena semua ilmu saling berkaitan dan  selama bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadis maka akan membawa kepada keselamatan dan keberkahan. 

elimaymunah@yahoo.com

Image

Admin SUpdate

Image

Andri Somantri

Redaktur