Light Dark

Jamban dan Tinja, Sejarah yang Tak Bisa Dipisahkan dari Manusia

Gaya Hidup | 20 Feb 2021, 22:25 WIB

Jamban dan Tinja, Sejarah yang Tak Bisa Dipisahkan dari Manusia

Gaya Hidup | 20 Feb 2021, 22:25 WIB
Jamban dan tinja merupakan dua hal penting dalam sejarah manusia | Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Jamban telah menjadi bagian sejarah yang tak bisa dipisahkan dari manusia karena mereka selalu menghasilkan tinja. Kotoran tersebut dianggap menjadi masalah sejak makhluk ini mulai hidup menetap.

Melansir dari laporan Discover Magazine, selama lebih dari 200 ribu tahun manusia merupakan makhluk pengembara alias nomaden dan hidup dalam kelompok kecil yang tersebar di tanah yang luas. Namun sekira 10 ribu tahun yang lalu, di sejumlah penjuru dunia, beberapa orang mulai menetap dan bertani. Desa-desa bermunculan dan tumbuh menjadi kota-kota padat penduduk.

Saat itulah kotoran menjadi masalah. Penduduk kota tidak dapat melakukan bisnis mereka di tempat-tempat terpisah atau tersebar di seluruh lanskap. Sebab, mereka harus buang air besar di tempat mereka makan, tidur, dan hidup bersama banyak orang lainnya. Ketika kepadatan penduduk terus meningkat, tinja pun semakin menumpuk dan menjadi sumber penyakit. Manusia akhirnya mencari solusi untuk membuang kotorannya itu.

Cikal bakal Jamban atau toilet modern sendiri baru ditemukan pada masa Ratu Elizabeth I di tengah periode Revolusi Industri. Jamban yang dibuat oleh anak baptis penguasa Inggris Raya tersebut telah dilengkapi dengan teknologi penyiram. Seperti kebanyakan teknologi kuno lainnya, toilet juga telah ditemukan di sejumlah budaya dan mengalami tahapan inovasi sebelum menjadi toilet yang kini dikenal.

Bicara soal toilet tertua, tentu tergantung pada bagaimana toilet didefinisikan. Kata ini bisa berarti lubang di mana kotoran dibuang menuju selokan, bisa juga berupa pot di dalam kamar yang dikosongkan secara berkala, atau bisa hanya berupa lubang yang dijadikan tempat buang air besar oleh manusia.

Arkeolog Universitas Pennsylvania, Jennifer Bates mengatakan bahwa temuan tumpukan kotoran kuno tidak cukup untuk disebut sebagai toilet. Misalnya, fosil feses Neanderthal dari sekitar 50 ribu tahun yang lalu. "Kita bisa menganggapnya sebagai toilet, tapi itu bukan tempat khusus mereka untuk buang air," kata Bates.

Jejak toilet kuno mungkin tidak bertahan selama berabad-abad karena hal itu bergantung pada bahan dan iklim di mana Jamban itu berada. Para arkeolog juga tidak selalu tertarik untuk menggalinya.

Jamban Kursi

Sekira 4.500 tahun yang lalu orang-orang di Mesopotamia telah membangun kursi di atas lubang pembuangan. Para arkeolog telah menemukan kursi dari bata yang dilapisi dengan aspal anti air di kota-kota kuno seperti Eshnunna dan Nuzi. Di kursi itu tinja akan jatuh melalui celah terbuka di pangkalnya dan mengalir melalui pipa tanah liat ke pembuangan.

Namun orang Mesopotamia tidak terlalu antusias dengan teknologi revolusioner tersebut. Sebab, keberadaan Jamban ini jarang ditemukan di kawasan itu. "Jumlah rumah yang memiliki toilet sangat sedikit, satu dari lima atau dua dari lima," kata arkeolog University of Cambridge, Inggris, Augusta McMahon. Saat itu orang-orang mungkin lebih memilih menggunakan pispot atau hanya akan berjongkok di ladang.

Jamban Elite dengan Penyiram

Sekira 500 tahun kemudian, orang Minoa di Pulau Kreta, Mediterania, mulai memperbaiki sistem kamar kecil dengan menambahkan kapasitas penyiraman. Namun fasilitas ini biasanya hanya dimiliki kaum elite.

Salah satu toilet siram paling awal ditemukan di Istana Knossos dari peradaban Minoan di Kreta. Berdasarkan hasil rekonstruksi, Jamban tersebut terdiri dari kursi kayu yang bertengger di atas saluran penyiram. Saluran ini berupa terowongan yang mengalirkan air dari sumber air di atap ke saluran pembuangan bawah tanah. Sementara Jamban Minoan lainnya yang dipelajari oleh para arkeolog kemungkinan besar disuplai dengan air dari kendi. 

Selain di Pulau Kreta, teknologi toilet siram serupa juga dikembangkan pada waktu yang sama oleh Peradaban Lembah Indus. Namun tidak semua orang dalam masyarakat ini mempunyai Jamban yang terhubung ke saluran pembuangan umum.  Ketersediaan Jamban tergantung pada kekayaan individu. Menemukan rumah dengan toilet menunjukkan siapa dia di Indus.

Jamban Umum

Sejak saat itu itu teknologi toilet berkembang pesat. Pada milenium pertama Sebelum Masehi, orang Yunani kuno dari periode Klasik dan, terutama, periode Helenistik berikutnya mengembangkan Jamban umum berskala besar. Teknologi ini berupa ruangan besar dengan bangku yang terhubung ke sistem drainase. Mereka juga menempatkan Jamban di rumah-rumah kelas menengah biasa. 

"Masyarakat menjadi lebih makmur dan mereka lebih banyak berurusan dengan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari," kata Georgios Antoniou, arsitek Yunani yang mempelajari sanitasi peradaban Yunani Kuno dilansir dari Historia.

Selama era Romawi, yakni sekira 200 SM hingga 500 M, umumnya pemandian juga menyediakan ruangan dengan banyak tempat duduk berlubang. Ini terdiri dari bangku-bangku batu panjang dengan lubang-lubang di atasnya dan jarak yang identik satu sama lain.

Bangku-bangku tersebut terletak di atas saluran air yang terus mengalir menuju saluran pembuangan. Sedangkan parit air lain mengalir di sepanjang kaki bangku toilet, yang menurut para peneliti digunakan untuk mencuci spons di ujung tongkat. Tongkat spons tersebut oleh orang Romawi digunakan laiknya tisu toilet.

Namun lubang toilet ini berjarak rapat, sehingga penggunanya jauh dari privasi. Tetapi teks-teks kuno dari masa itu menggambarkan bahwa Jamban adalah tempat bersosialisasi.

Di sisi lain, Jamban pribadi dapat ditemukan di sejumlah rumah tinggal. Namun Jamban semacam itu justru tidak higienis karena letaknya yang berada di dalam atau berdekatan dengan dapur. Hal itu disebabkan fungsi lubang pembuangan yang juga diperuntukkan bagi sampah dapur. 

Bagi bangsa Romawi Kuno, buang air sembarangan sangat dilarang. Para peneliti menemukan sejumlah coretan yang bertujuan mencegah masyarakat buang air di jalan umum. Salah satunya dalam sebuah prasasti dari Romawi Kuno yang berbunyi: "Dua belas dewa-dewi dan Jupiter, yang terbesar dan terbaik, akan marah kepada siapa pun yang buang air kecil atau besar di sini.". Bahkan tulisan yang ditemukan di Pompeii lebih blak-blakan: "Jika kamu buang air di tembok dan kami menangkapmu, kamu akan dihukum."

Jamban Modern

Jamban siram modern pertama kali dikembangkan pada 1596 oleh putra baptis Ratu Elizabeth I, Sir John Harington. Mengutip laporan History, untuk menyiram, Jamban Harington ini membutuhkan 7,5 galon air. Namun ketika kondisi air sulit, seseorang bisa memakai Jamban di tengah proses penyiraman. 

Harington mempublikasikan Jamban ciptaannya tersebut dalam pamflet berjudul "A New Discourse of a Stale Subject, Called the Metamorphosis of Ajax". Sebuah plesetan pada istilah "a jakes", yang merupakan istilah populer untuk jamban.

Meski Harington telah memasang model Jamban bagi Ratu Elizabeth di Istana Richmond, namun masih perlu beberapa abad dan revolusi industri untuk dapat memperbaiki manufaktur dan sistem pembuangan kotoran. Paten pertama untuk Jamban siram baru diberikan kepada penemu asal Inggris, Alexander Cumming pada 1775.

Inovasi terbesar Cumming adalah pipa berbentuk S di bawah jamban. Fungsinya untuk mencegah gas dari selokan naik melalui lubang jamban.

Jamban Kompos Moule

Pada 1859 pendeta Henry Moule dari Fordington menemukan toilet kompos pertama. Ia mendapati bahwa tanah kering yang bercampur kotoran manusia akan menghasilkan kompos bersih hanya dalam beberapa minggu.

Sebagai seorang yang religius, Moule tidak menyetujui sistem Jamban yang ada sebelumnya. Menurutnya Jamban semacam itu akan mencemari sungai dan laut milik Tuhan. Itu juga merupakan pemborosan nutrisi yang terkandung di dalam kotoran. Mestinya nutrisi itu dikembalikan ke tanah.

Melansir dari laporan BBC, pada 1873 Moule pun mengambil paten atas desainnya untuk Jamban tanah mekanis. Jamban versinya tersebut memungkinkan kotoran manusia disimpan untuk dikembalikan lagi ke tanah tanpa harus mencium bau.

Tanah kering atau gambut dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan di belakang jok. Kemudian ember yang bisa dilepas ditempatkan di bawah kursi. Ketika tuas ditarik, sedikit tanah akan ditaburkan di atas kotoran manusia untuk mengurangi bau dan membantunya membusuk. Saat ember telah penuh isinya maka akan dibawa ke kebun.

Selanjutnya pada akhir abad ke-19, seorang pebisnis dan tukang ledeng di London, Thomas Crapper membuat salah satu saluran toilet siram pertama. Crapper memang bukanlah penemu jamban, namun ia mengembangkan mekanisme pengisian tangki yang hingga saat ini masih digunakan di toilet.

Image

Admin SUpdate

Image

Oksa Bachtiar Camsyah

Redaktur