Light Dark

Sri Mulyani Jelaskan Risiko Besar yang Dihadapi Dunia Selain Pandemi Covid-19

Nasional | 02 Nov 2020, 15:00 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani menunjukkan lokasi di peta disela-sela Kemenkeu Mengajar di SDN Kenari 1 Jakarta, Senin, 4 November 2019. | ANTARA

SUKABUMIUPDATE.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dunia sekarang tengah menghadapi dua risiko yang sangat besar. Risiko global tersebut itu bukan hanya berdampak pada ekonomi, namun juga terhadap populasi.

"Pertama adalah Pandemi Covid-19 dan kedua adalah perubahan iklim," ujar dia dalam konferensi video, Senin, 2 November 2020. Dua risiko tersebut, kata dia, sama pentingnya untuk diperhatikan oleh pemerintah.


Advertisement

Saat ini, ujar dia, pemerintah tengah berupaya mengambil kebijakan untuk menjawab dua tantangan tersebut. "Sementara kami fokus menangani masalah risiko Covid-19 ini, bukan berarti pemerintah Indonesia menempatkan Perubahan Iklim pada urutan kedua."

Untuk menangani Covid-19, Sri Mulyani mengatakan pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan di bidang kesehatan, sosial, ekonomi, hingga keuangan. Pemerintah juga telah meningkatkan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin di masa Pandemi ini.

"Kami juga meningkatkan dukungan kami untuk Usaha Kecil Menengah termasuk juga pengusaha secara umum, karena mereka semua tanpa pandang bulu telah terpengaruh parah oleh Covid-19," ujar dia.

Sementara itu, dalam menghadapi perubahan iklim, dia mengatakan pemerintah terus berkomitmen menggunakan kebijakan dan instrumennya untuk menangani persoalan tersebut. Dalam konteks ini, tentunya pemerintah Indonesia juga berkomitmen penuh dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.


Advertisement

"Faktanya, SDG dan Perubahan Iklim telah menjadi arus utama dalam kebijakan pemerintah. baik itu mengenai anggaran, perencanaan pembangunan, serta kemudian dijabarkan ke dalam kebijakan dan instrumen yang diadopsi. Jadi untuk Indonesia, komitmen kami terhadap Perubahan Iklim sudah dituangkan melalui perjanjian Paris," ujar dia.

Dia mengatakan pemerintah berkomitmen untuk mengurangi karbondioksida dengan berbagai kebijakan. Misalnya melalui penggunaan energi terbarukan, yang direncanakan mencapai 23 persen atau 45 gigawatt dalam Bauran Energi Nasional 2020.

Namun demikian, pada 2019, jumlah energi terbarukan dalam bauran energi baru mencapai 9,15 persen. Sementara, dari total pelistrikan, peran energi terbarukan baru 11 persen di 2019.

"Jadi ini tantangan besar bagi kita untuk bisa mencapai bahkan 23 persen bauran energi terbarukan dalam energi nasional kita. Indonesia bukannya kekurangan potensi. Kita memiliki potensi energi terbarukan sebesar 442 gigawatt, namun saat ini kami hanya menggunakan 10,4 gigawatt atau 2,4 persen," ujar Sri Mulyani.

Sumber: Tempo.co

Image

Koko Muhamad

Image

Koko Muhamad

Redaktur

Image

Reporter