Light Dark

Tessa Wijaya, Perempuan Sukabumi Dibalik Xendit: Unicorn Indonesia Bernilai US$1 Miliar

Inspirasi | 13 Aug 2022, 16:10 WIB
Nama Tessa Wijaya curi perhatian karena menjadi perempuan Indonesia pertama yang sukses memimpin startup Indonesia menjadi perusahaan bernilai US$1 miliar. Lahir di Sukabumi Jawa Barat, saat ini Tessa adalah Chief Operating Officer dan Co-Founder Xendit, | prestigeonline.com

SUKABUMIUPDATE.com - Nama Tessa Wijaya curi perhatian karena menjadi perempuan Indonesia pertama yang sukses memimpin startup Indonesia menjadi perusahaan bernilai US$1 miliar. Lahir di Sukabumi Jawa Barat, saat ini Tessa adalah Chief Operating Officer dan Co-Founder Xendit, perusahaan teknologi keuangan pembayaran digital di Asia Tenggara. 

"Iya bener saya lahir dan tinggal di sana (Sukabumi) sampai umur 7 tahun," ucap Tessa saat dihubungi sukabumiupdate.com melalui direct message akun instagramnya, Sabtu 13 Agustus 2022. 


Advertisement

"Saya tinggal di kota (Sukabumi), kebetulan seneng main ke Cimaja (Surfing)," lanjut perempuan yang banyak menshare kegiatan olahraga air di akun medsosnya, termasuk di Pantai Cimaja Kabupaten Sukabumi.

Melansir dari cnbcindonesia.com, Tessa Wijaya berhasil mengantarkan Xendit bergelar unicorn. Co-Founder and COO itu mengatakan dirinya menjadi wanita pertama yang membawa startup Indonesia menjadi perusahaan bernilai US$1 miliar.

"Kami sangat bangga menjadi, saya pikir, satu dari yang menjadi Unicorn di Indonesia. Dan saya pribadi sangat bangga karena saya adalah co-founder wanita pertama yang memimpin sebuah perusahaan di Indonesia menjadi unicorn. Saya pikir itu sangat luar biasa," kata Tessa dalam acara Women In Fintech, Jakarta, belum lama ini.

Dia menjelaskan dirinya tidak punya latar belakang keuangan, bahkan teknologi. Tessa juga mengatakan tidak berkuliah di kampus ternama di Amerika Serikat yang dikenal sebagai Ivy League. Namun, Tessa bilang itu bukan alasan untuk tidak bisa berpartisipasi atau ikut dalam gerakan fintech. 


Advertisement

"Anda hanya perlu mengambil lompatan," kata Tessa.

Dalam acara tersebut, dia menjelaskan soal dukungan pada wanita di dunia kerja. Kebijakan yang mendukung perempuan sangat penting, karena dia mengatakan wanita yang masuk ke dunia kerja tidak punya kekurangan.

photoTessa Wijaya, Chief Operating Officer dan Co-Founder Xendit - (dok Xendit)

Namun mereka harus berhenti bekerja saat memiliki keluarga. Sayangnya banyak perusahaan tidak menyediakan perangkat untuk membantu para wanita tersebut.

Tessa menjelaskan meski wanita bekerja di rumah, tetap memiliki pekerjaan lain yang harus dilakukan untuk rumah tangga. Salah satunya tetap mengajarkan dan mengawasi anak yang harus bersekolah dari rumah.

"Jadi kami mulai memiliki program masalah yang disebut Xendit Rantang pada dasarnya kami mulai mengirimkan makanan ke rumah-rumah orang sehingga meringankan beban itu bagi wanita karena Anda tahu harus melakukan pekerjaan ekstra sambil juga memiliki dua pekerjaan lainnya di rumah," ungkapnya.

Laman web resmi perusahaan menyebut Xendit adalah perusahaan fintech Indonesia yang menyediakan infrastruktur pembayaran. Layanan yang disediakan termasuk dalam memproses pembayaran, membantu marketplace menyederhanakan pembayaran, mengirimkan pembayaran dan pinjaman, mendeteksi penipuan dan membantu bisnis bertumbuh.

Xendit sendiri didirikan oleh oleh Moses Lo, Tessa Wijaya, Juan Gonzalez dan Bo Chen. Tessa yang merupakan warga negara Indonesia saat ini tercatat menjabat sebagai chief operating officer di perusahaan.

Mengutip femina.co.id edisi November 2021, sebelum fokus di Xendit sejak tahun 2016, Tessa sudah berpengalaman selama 7 tahun di industri keuangan swasta. Ia pertama kali berkenalan dengan Co-Founder Xendit lewat seorang teman. Punya latar belakang di industri finansial dan tertarik pada teknologi, Tessa akhirnya melakukan lompatan karir untuk mendirikan startup fintech. 

Setelah melewati beberapa kali diskusi dengan para pendiri, dengan percaya diri Tessa terjun memegang jabatan di Xendit sebagai Manajer Produk. Seiring berjalannya waktu, ia turut mengurus semua hal yang diperlukan; mulai dari pengembangan bisnis, kepuasan pelanggan, hingga manajemen keuangan. Pengalaman baru ini membuatnya semakin jatuh cinta pada angka, analisis berbasis data, serta kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.

Sempat gagal dalam mengembangkan salah satu produk pertamanya di Xendit, wanita berusia 40 tahun ini selalu bangkit, belajar dari pengalaman, dan terus berupaya untuk membangun produk yang diharapkan masyarakat.

“Saya rasa hal terpenting bukanlah tentang gelar dan peran yang kita punya, melainkan pengalaman dan pelajaran yang kita bisa dapatkan dari situ. Itulah pembelajaran yang paling berharga,” kata Tessa.

Pengetahuan dan keterampilan yang ia dapatkan berperan penting pada kesuksesannya membesarkan Xendit. Setelah dinobatkan sebagai startup Unicorn di Indonesia, Tessa resmi menjadi Co-Founder perempuan pertama di bidang pembayaran atau payment yang berhasil membawa startup-nya menjadi Unicorn seperti sekarang. 

photoTessa Wijaya saat menjadi pemateri dalam acara OJK - (dok OJK)

Sebagai Chief Operating Officer (COO) - posisi yang didudukinya sejak tahun 2018- Tessa saat ini menangani keseluruhan operasi bisnis perusahaan, termasuk layanan dan dukungan, kemitraan, pemerintahan, dan hubungan masyarakat, serta regulasi. Kemampuan Tessa untuk mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan (multitasking) membuatnya berhasil membawa Xendit ke level yang lebih tinggi. Karena kinerjanya yang agile dan cepat, Tessa dikenal sebagai pemimpin yang serba bisa.

Ia telah menyaksikan pertumbuhan perusahaan yang awalnya hanya terdiri dari 10 orang hingga sekarang memiliki lebih dari 700 karyawan. Dalam perjalanannya, Xendit telah menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga keuangan terbesar di Indonesia dan menarik brand-brand terkenal sebagai klien, termasuk perusahaan rintisan dan UKM yang sedang berkembang.

Bersama Xendit, sosok wanita yang mandiri dan senang berpetualang ini, berhasil membuktikan ia membuat keputusan yang tepat, keluar dari jalur karirnya yang dimulai dari ekuitas hingga beralih ke fintech. Jalur yang tidak dipilih banyak orang.

Semua itu tak lepas dari sosok orang tua yang berani memberikan kebebasan pada anaknya untuk mengeksplorasi banyak hal dalam hidup. Sang ayah yang seorang pengusaha mengajarkan untuk menjadi berani dan tidak kenal takut seperti melakukan tandem skydiving, scuba diving, dan menjelajahi kota-kota asing di usia muda. Keberaniannya juga didorong karena ia tumbuh besar dengan sosok ibu yang merupakan perempuan tangguh.

Meskipun telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya tumbuh di luar negeri, Tessa masih menganggap Indonesia sebagai rumah. “Indonesia adalah negara kontras yang memiliki banyak tantangan tapi juga peluang. Indonesia punya potensi untuk menjadi yang terkuat di Asia, dimana Indonesia telah memiliki banyak perusahaan Unicorn lokal, dan lebih banyak lagi kedepannya,” jelas Tessa. 

Di bidang finansial teknologi khususnya, Tessa percaya bahwa bidang ini menyimpan berbagai peluang yang bisa dimaksimalkan dengan teknologi. Kini semakin banyak orang Indonesia mulai melakukan transaksi di social commerce. 

Tidak seperti negara-negara maju lainnya, di mana pembayaran sebagian besar dilakukan menggunakan kartu kredit, cara pembayaran tradisional seperti uang tunai masih sering digunakan di Indonesia. Xendit hadir untuk melayani seluruh masyarakat, termasuk yang tidak memiliki rekening bank, agar dapat melakukan transaksi online melalui teknologi milik Xendit. 

“Kami melihat regulator semakin terbuka terhadap teknologi dan inovasi, sehingga infrastruktur digital pasti bisa bertumbuh cepat di Indonesia,” ungkap Tessa.

photoTessa Wijaya dan tim Xendit - (dok Xendit)

Namun, dengan pertumbuhan besar dan menarik di bidang teknologi, seringkali Tessa masih melihat kesenjangan gender dalam industri ini. Dengan latar belakangnya di private equity riyang juga menghadapi masalah serupa, Tessa memiliki keprihatinan tersendiri terkait kesenjangan ini dan tergerak untuk melakukan berbagai cara untuk mengatasinya.

Tessa sangat percaya bahwa Indonesia memiliki banyak perempuan yang kuat, namun belum banyak yang terekspos. Indonesia membutuhkan lebih banyak platform untuk perempuan, terutama yang bekerja di bidang teknologi, untuk menyuarakan pendapat mereka agar terdengar dan menginspirasi orang lain untuk berbuat lebih baik.

“Perempuan harus memiliki suara dan ada banyak kontribusi yang bisa mereka lakukan, khususnya di Asia dan industri teknologi, di mana para perempuan muda membutuhkan lebih banyak tokoh idola panutan untuk mendukung ekosistem ini agar bisa berkembang,” kata Tessa.

Atas semangat tersebut, sejak tahun 2020 lalu, Tessa meluncurkan inisiatif Women in Tech Indonesia untuk menyediakan platform bagi perempuan untuk saling belajar dan berbagi. Ia ingin menyatukan para perempuan yang bekerja sebagai technopreneur, developer, dan bahkan calon teknisi untuk bertukar wawasan serta pengalaman melalui serangkaian lokakarya dan forum sosial.

Tessa memiliki visi untuk memberdayakan dan mendorong generasi perempuan berikutnya di Indonesia dengan terus menyemangati mereka untuk mengejar semua impian mereka – misalnya menjadi seorang insinyur atau memulai sebuah startup. 

“Apapun yang kalian inginkan, lakukan saja. Kegagalan itu baik, Anda bisa belajar lebih banyak dari kegagalan daripada kesuksesan Anda. Anda akan selalu ingat saat pertama kali Anda gagal dan itu akan membuat Anda terus maju,” tutup Tessa. 

Image

Admin SUpdate

Image

Fit NW

Redaktur