Light Dark

Buat Kerajinan Bambu, Semangat Warga Ciambar Sukabumi Cari Nafkah di Kursi Roda

Inspirasi | 04 Aug 2022, 18:46 WIB
Rahmat (52 tahun), warga Kampung Neglasari RT 03/03, Desa Wangunjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi menunjukan saringan bambu dan tampah bambu yang dibuatnya. | Billie

SUKABUMIUPDATE.com - Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat Rahmat (52 tahun), warga Kampung Neglasari RT 03/03, Desa Wangunjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Dia mencari nafkah dengan menjadi pembuat barang berbahan bambu.

Baca Juga :

Pada awalnya, Rahmat adalah seorang pemetik kelapa. Puluhan tahun dia menggeluti pekerjaan tersebut, namun musibah terjadi pada 15 Oktober 2020 lalu. 


Advertisement

Ia jatuh dari pohon kelapa setinggi sekitar 5-6 meter menyebabkan salah satu tulangnya bergeser. Akibat kejadian ini, jangankan berjalan, untuk berdiri saja sudah sulit sehingga Rahmat harus beraktivitas menggunakan kursi roda.

Setelah pulih dari kejadian itu, dia pun beralih menjadi pembuat kerajinan bambu. Barang yang dibuatnya yaitu tampah dan ayakan. Rahmat juga membuat parutan dari kaleng

Menurut Rahmat, keahlian membuat produk anyaman Bambu dimilikinya dari orang tuanya. Bahkan ketika masih bekerja sebagai pemetik buah kelapa, Rahmat sudah membuat kerajinan anyaman Bambu apabila ada pesanan. 

"Sebenarnya ini pekerjaan turun-temurun dulu dari abah, dulu itu bikin kalau lagi ada pesenan aja," jelas Rahmat pada sukabumiupdate.com, Kamis (4/8/2022). 


Advertisement

Rahmat biasa mendapatkan Bambu untuk bahan pembuatan kerajinannya dari warga setempat.

Harga yang dijual untuk sebuah produk yang dihasilkannya pun cukup terjangkau. Ia menjualnya dengan harga Rp 5 ribu - 65 ribu, tergantung besar-kecilnya produk tersebut. Selama ini pun pembelinya masih terbatas pada warga-warga sekitar rumahnya. 

Dari sebuah produk yang dijual itu ia hanya mengambil untung Rp 1.000- 10 ribu. Hasil dari situlah yang biasa ia pakai untuk menghidupi keluarga dibantu oleh penghasilan sang istri, Lilim (37 tahun) yang bekerja sebagai buruh serabutan,

"Mudah-mudahan ada bantuan atau dorongan dari pemerintah untuk modal dan pemasarannya, karena sekarang juga kelihatannya sudah jarang ada pengrajin Bambu itu ya," Pungkas Rahmat.

Image

Billie

Reporter

Image

Andri Somantri

Redaktur