Light Dark

Petinju Top Indonesia Daud Yordan Siap Kembali ke Atas Ring

Arena | 23 Jun 2022, 16:45 WIB
Petinju Indonesia Daud Yordan akan berduel lawan petinju Thailand, Panya Uthok, demi mempertahankan gelar WBC Asian Boxing Council Silver Super Lightweight (63,5 kg) | Instagram/@realdaudyordan

SUKABUMIUPDATE.com - Daud Yordan merupakan salah satu petinju top Indonesia yang menjadi juara dunia dua kali versi badan tinju IBO. Daud dijuluki ‘Cino’, nama itu diberikan oleh mantan pelatihnya semasa amatir, Carlos Jesus Renate Tores. Kini Daud Yordan siap kembali ke atas ring.

Melansir dari Suara.com, seri ketiga event tinju MPRO Evolution Fight Series siap berlangsung awal Juli nanti, dengan partai utama akan melibatkan petinju top Tanah Air, Daud Yordan.


Advertisement

Daud akan berduel lawan petinju Thailand, Panya Uthok, demi mempertahankan gelar WBC Asian Boxing Council Silver Super Lightweight (63,5 kg).

Baca Juga :

Partai Daud Yordan vs Panya Uthok dijadwalkan berlangsung di Balai Sarbini, Jakarta pada 1 Juli 2022.

Pertarungan kedua petinju ini semula dijadwalkan pada 4 Maret lalu di Siam World Stadium, Bangkok, Thailand. Akan tetapi, laga terpaksa ditunda karena Daud terinfeksi COVID-19 dua hari jelang pertandingan.


Advertisement

Adapun laga ini sangat dinantikan sebagai lanjutan dua event sebelumnya di Bangkok.

Pada gelaran MPRO Evolution Fight Series, 19 November 2021, Daud menang technical knockout (TKO) di ronde keempat melawan Rachata Khaophimai.

Kemenangan tersebut sekaligus menandai kembalinya Daud ke ring tinju setelah dua tahun tanpa pertandingan akibat pandemi COVID-19.

Dan kini setelah setengah tahun lebih, petinju ortodoks berusia 35 tahun itu akan kembali naik ring.

Jelang partai bergengsi di Balai Sarbini, Daud baru-baru ini berkesempatan menyambangi redaksi Suara.com di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Berikut petikan wawancara Suara.com dengan boxer berjuluk 'Cino' tersebut.

photoPetinju kelas ringan Indonesia, Daud Yordan (tengah) saat berkunjung ke Kantor Suara.com di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2022) lalu. - (Suara.com/@Alfian Winanto)

Bagaimana persiapan Anda sejauh ini untuk menghadapi Panya Uthok?

Yang pasti, persiapan sampai jelang hari H nanti akan sangat maksimal, dan memang sudah maksimal saya kira sejauh ini.

Bagaimana detailnya? Apa ada persiapan khusus?

Saya sudah melakukan persiapan di Kayong Utara (Kalimantan Barat; kampung halaman Daud --Red) selama dua bulan. Ini persiapan saya masuk sebulan terakhir jelang duel.

Saya berlatih bersama rekan-rekan di Daud Yordan Boxing Club. Saya mempersiapkan semuanya; mental, fisik, teknik. Saya berlatih secara spartan dan kontinu. Intinya semuanya, mencakup training dan sparring juga.

Soal sparring atau latih tanding itu, kira-kira berapa ronde yang sudah Anda lahap?

Sejauh ini persiapan dapat 60 ronde. Masuk sebulan terakhir jelang laga, saya tentunya menargetkan dapat total 120 ronde sebagai persiapan.

Banyak yang menilai Anda punya fighting style yang mirip dengan Panya Uthok, kalau tak mau dibilang sama. Menurut Anda ini sebuah keuntungan atau kerugian?

Bagi saya ini malah keuntungan ya. Kami suka bertarung dengan jarak yang lebih dekat. Ya, saya dan Uthok memang satu gaya, satu karakter, satu metode.

Jadi Anda optimis ini bisa menguntungkan?

Karena mirip itu, situasi ini justru menguntungkan saya. Saya tidak perlu keluar banyak keringat atau usaha untuk lawan yang satu ini, tak perlu mengeluarkan energi yang semestinya tak perlu saya keluarkan.

Soal strategi Anda melawan petinju Thailand ini, ada strategi khusus?

Kalau untuk ini, saya pikir fleksibel dan adaptif saja. Lihat situasinya di ring bagaimana nanti.

Intinya saya dan tim kepelatihan sudah menyiapkan plan A, plan B, plan C. Tinggal bagaimana kepintaran kita, bagaimana power kita, kekuatan tubuh kita, bagaimana kebesaran hati kita, bagaimana konsistensi kita. Lawan juga pasti berpikir sama.

Anda terakhir kali menang knockout (KO) pada April 2018 saat mengkanvaskan Pavel Malikov di Rusia untuk gelar WBO Inter-Continental Lightweight. Apa target Anda kali ini? KO, atau hanya menang TKO saja?

Target saya, jujur saja saya merindukan kemenangan KO. Inginnya sih di bawah 10 ronde (dari pertandingan 12 ronde), mudah-mudahan bisa ya. Saya minta doanya.

Sebegitu pedenya Anda bisa menang KO?

Saya tahu reputasi dia, sangat-sangat baik, bahkan lebih baik dari saya. Tapi saya ingin menunjukkan kekuatan saya, sebagaimana persiapan saya juga, saya kira maksimal. Ya, walaupun belum ada jaminan tentunya saya bisa menang atau menang KO.

Tapi sekali lagi, dengan kerja keras dan profesionalitas saya sebagai atlet, saya optimis bisa menang.

Anda beberapa waktu lalu terpapar COVID-19, adakah pengaruhnya pada kondisi Anda saat ini?

Saat ini saya merasa sangat baik. Soal COVID, nggak ada efeknya sama sekali ya, sekarang ini, termasuk juga waktu itu. Saya sendiri bingung bisa terpapar.

Saya tidak merasakan apa-apa, saya termasuk OTG (orang tanpa gejala). Tidak ada efek sama sekali, termasuk untuk stamina saya. Semua oke-oke saja.

Sekarang bicara venue, Anda punya memori manis saat terakhir kali tampil di Balai Sarbini pada awal 2016, saat mengalahkan petinju Jepang Yoshitaka Kato. Antusias kembali tampil di sini?

Tentu sangat senang tampil di venue ini lagi. Saya rindu tampil di sini, tampil di depan publik sendiri.

Setelah menang lawan Kato, saya selalu tanding di luar (negeri), mulai dari Uruguay, Rusia, Singapura, Inggris, Thailand.

Di tengah-tengah itu, saya sempat kembali bertanding di Indonesia lawan (Michael) Mokoena dari Afrika Selatan. Namun, duelnya bukan di Jakarta, tapi di Jawa Timur.

Apa yang membuat tampil di Balai Sarbini begitu spesial?

Ini adalah venue yang sangat-sangat elite, penuh prestise. Ketika sebuah laga tinju ada di sana, ini tentu sangat-sangat prestisius. Ini jadi bukti olahraga tinju punya prestise dan gengsi tersendiri.

Publik Indonesia tentu merindukan anak bangsa kembali tampil. Saya pun sudah tak sabar untuk naik ring lagi. Ini tentu sebuah harapan besar bagi saya untuk memenangkan laga sekaligus mempertahankan gelar (WBC Asian Boxing Council Silver).

Sempat beredar kabar bahwa Daud Yordan sama sekali belum memikirkan soal pensiun, benarkah? Sudah ada gambaran soal kapan Anda akan gantung sarung tinju?

Saya bercita-cita untuk berhenti bertinju itu di 2030. Saat itu umur saya 42 atau 43, baru itu mungkin saya akan gantung sarung tinju. Kita lihat saja. Tapi saya bisa pastikan karier saya masih panjang dan fokus utama saya tetap boxing.

Sekarang beralih ke dunia politik. Sudah jadi rahasia umum jika Anda akan terjun politik pada 2024 mendatang. Anda juga memastikan bakal kembali menggunakan atribut tagar #DY2024 pada laga nanti. Seberapa serius Anda soal karier politik ini?

Memang serius ya (maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau DPD RI). Tertarik masuk dunia politik untuk melayani masyarakat sepenuh hati, dan politik merupakan saluran utama untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Politik merupakan pelayanan bagi masyarakat secara luas dan merupakan pintu masuk untuk kita merubah suatu tatanan menjadi lebih baik.

Saya merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi pada masyarakat, khususnya daerah Kalimantan Barat.

Tapi ini bukan aji mumpung ya, karena saya terkenal atau gimana, tapi saya tahu kapasitas saya sampai saya yakin masuk ke politik.

Pada duel terakhir saya November tahun lalu (lawan Rachata Khaophimai), saya memakai ikat kepala bertuliskan tagar #DY2024. Di bagian punggung juga, serta celana. Atribut itu akan saya pakai lagi di laga Juli nanti.

Apakah pas pertandingan di sekeliling saya nanti juga dipasang banner atau baliho, nah itu juga nanti akan saya lakukan.

Soal ikut 'nyaleg' ini, apakah Anda terinspirasi dari sederet petinju dunia? Sebelumnya ada Vitali Klitschko, Manny Pacquiao, hingga Chris John yang masuk hingar-bingar politik.

Tidak! Saya masuk politik ini bukan karena ikut-ikutan. Saya berpolitik karena saya melihat persoalan-persoalan di daerah. Hati saya pun terpanggil. Jadi, tidak ada itu ikut-ikutan karena melihat si A, si B, si C.

Saya melihat masyarakat harus dibantu dengan cara berpolitik ini. Mungkin tidak dalam skala besar, tapi paling tidak, dengan politik, nanti muaranya saya mampu mengubah suatu kebijakan. Saya bisa memberikan kebijakan-kebijakan yang meringankan masyarakat.

Jadi, prioritas utama Daud Yordan ke depan itu boxing atau politik?

Boxing! Apa pun yang terjadi, misalkan saya ada jalan ke sana (politik), fokus utama saya tetap bertinju. Saya akan tetap fokus bertanding, berlatih. Seperti yang saya bilang, kalau bisa saya baru berhenti di 2030 nanti.

SUMBER: SUARA.COM

Image

Admin SUpdate

Image

Dede Imran