SUKABUMIUPDATE.com - Buruh perempuan berinisial PS (28 tahun) ditemukan meninggal dunia di sebuah kosan di Sukabumi, tepatnya Kamar Kos Nomor 10 lantai 2 Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Senin (2/10/2023).
Kapolsek Sukalarang Mapolres Sukabumi Kota, AKP Asep Jenal Abidin mengatakan perempuan yang meninggal di kosan Sukabumi tersebut adalah karyawan pabrik asal Cianjur. Hal itu berdasarkan keterangan dari kedua kakak korban TH (42 tahun) dan AM (34 tahun) yang sempat merasa khawatir dengan keadaan PS karena sudah beberapa hari tidak masuk kerja.
Saat saksi TH dan Adiknya AM datang berkunjung ke kontrakan/kosan korban, kata Kapolsek Sukalarang, bau menyengat sudah tercium dari dalam kamar No 10 di lantai 2. Ketika kamar kosan dibuka, korban yang merupakan buruh Cianjur yang meninggal dunia dengan posisi telentang, sehingga saksi langsung melaporkan kepada warga dan pihak kepolisian Sektor Sukalarang Sukabumi.
Hingga artikel ini ditayangkan, dugaan kematian buruh Cianjur yang meninggal di kosan Sukabumi, masih didalami oleh pihak kepolisian.
Baca Juga: 10 Ciri Anak Laki-laki Kurang Kasih Sayang Orang Tua, Ada Masalah Emosional
Berkaitan dengan bau menyengat dari jenazah seorang buruh Cianjur yang meninggal di kosan Sukabumi, maka menjadi wawasan soal mengapa aroma mayat memiliki bau menyengat.
Mengutip tempo.co, para peneliti mengungkapkan bahwa tubuh manusia mati yang telah membusuk memiliki aroma yang unik yang membedakannya dengan bau mayat makhluk hidup lain, terutama hewan.
Para ilmuwan dari Universitas Leuven di Belgia telah menemukan cairan dari lima senyawa kimia yang dilepaskan oleh daging manusia yang membusuk, tapi tidak oleh hewan mati.
Para peneliti tersebut percaya bahwa temuan, yang diterbitkan dalam Plos sebagaimana dilansir dari laman The Week, dapat lebih baik tercium oleh anjing pelacak. Anjing pelacak sendiri biasa digunakan oleh polisi dan tim penyelamat untuk mencari mayat, bahkan setelah bencana alam.
Baca Juga: 10 Ciri-Ciri Orang Tidak Senang Melihat Kita Bahagia, Bersikap Iri Hati
Eva Cuypers, seorang ahli forensik toksikologi dan penulis utama studi tentang aroma mayat manusia mengatakan, tim penelitian bisa membantu mengembangkan perangkat portabel yang dapat mendeteksi mayat.
"Para peneliti telah mencoba untuk memahami 'bau kematian' untuk lebih dari satu dekade," katanya pada Elizabeth Pennisi dari Majalah Sains, dikutip via Tempo.co, Selasa (2/10/2023).
"Selama waktu itu (kematian), daftar organik, senyawa-senyawa yang dilepaskan selama pembusukan telah berkembang cukup lama, tetapi sudah ada laporan yang bertentangan tentang mana yang dikeluarkan hanya oleh manusia", tambahnya.
Baca Juga: 10 Ciri-Ciri Orang yang Sedang Berbohong, Lihat Ekspresi Wajahnya
Di penelitian Belgia tentang aroma mayat manusia, dikatakan tak hanya harus menganalisis gas yang dipancarkan dari jaringan dan sampel organ dari manusia. Tetapi juga analisis pada sejumlah hewan lain termasuk babi, tikus, kelinci, katak dan burung.
Para ahli forensik toksikologi mampu mengidentifikasi lima senyawa. Lima senyawa tersebut dikenal sebagai ester (suatu senyawa organik yang terbentuk melalui penggantian satu atau lebih atom hidrogen pada gugus karboksil dengan suatu gugus organik).
Terlebih, lima senyawa dalam penelitian aroma mayat manusia itu dikaitkan dengan kerusakan otot, lemak, dan karbohidrat dan sepenuhnya yang unik untuk manusia.
Baca Juga: 10 Ciri Orang yang Pura-pura Kuat Padahal Sedang Menyembunyikan Kesedihan
Namun John Sagebiel, seorang ahli analis kimia di Universitas Nevada, ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan bahwa penelitian terkait aroma mayat manusia lebih lanjut terlalu terbatas.
"Saya tidak berpikir ada satu hal tertentu yang menunjukan (bau tertentu) adalah milik manusia." tutur John.
Cuypers mengakui bahwa penelitian tentang aroma mayat manusia memiliki keterbatasan tertentu, yang akan dibahas dalam penelitian selanjutnya.
"Langkah berikutnya dalam penelitian kami adalah untuk melihat apakah senyawa yang sama ditemukan di dikubur, atau mayat yang membusuk di lapangan dan untuk melihat apakah anjing terlatih merespon pada campuran lebih spesifik dari tubuh manusia yang membusuk," katanya.
SUMBER: TEMPO.CO | THE WEEK.CO.UK | MECHOS DE LAROCHA