SUKABUMIUPDATE.com - Menghadapi anak yang suka dibantah adalah tantangan alami yang hampir semua orang tua. Anak sering berkata “tidak” ketika diminta mandi, makan, atau melakukan tugas sederhana lainnya. Meski mengganggu, sifat membantah sebenarnya adalah bagian dari tumbuh kembang anak. Jadi, bagaimana cara menghadapinya tanpa emosi? Simak langkah-langkah berikut ini untuk mendidik anak agar menjadi lebih patuh dan santun.
Sifat Membantah Bagian dari Tumbuh Kembang Anak
Melawan dan membantah biasanya terjadi ketika anak mulai mengembangkan kemandirian dan keberanian, umumnya dimulai sejak balita hingga remaja. Menurut Very Well Family, perilaku ini merupakan bentuk perlindungan diri anak terhadap situasi yang menurutnya mengancam atau tidak menyenangkan.
Contohnya, ketika Anda meminta anak untuk tidur siang, ia mungkin menolak karena sedang asyik bermain. Penolakan ini bukan berarti anak menjadi pembangkang, melainkan karena ia fokus pada aktivitasnya. Jika Anda meminta pada waktu yang lebih tepat, seperti setelah selesai bermain, kemungkinan besar anak akan lebih percaya tanpa perlu menonton drama.
Namun, sifat ini juga bisa menunjukkan bahwa anak sedang membutuhkan perhatian ekstra. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menangani sikap berdebat ini dengan penuh kesabaran dan pengertian.
Baca Juga: 5 Cara Efektif Meningkatkan Daya Ingat Secara Alami
5 Cara Mendidik Anak yang Suka Membantah
1. Pahami Kemauan Anak
Anak membantah bukan tanpa alasan. Bisa jadi ia merasa lelah, bosan, atau ingin melakukan hal lain yang lebih menarik. Daripada langsung memarahi, cobalah bertanya dengan lembut, “Kenapa kamu tidak mau membantu Mama?” atau “Apa kamu sedang capek?” Dengan bertanya secara baik-baik, anak akan merasa didengar dan lebih terbuka untuk menyampaikan perasaannya.
Pastikan juga Anda tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan kemampuan anak. Misalnya, untuk anak usia 5-6 tahun, berikan tugas sederhana seperti menyimpan mainan alih-alih meminta mereka membersihkan seluruh kamar sendiri.
2. Pilih Waktu yang Tepat
Meminta anak melakukan sesuatu pada waktu yang salah hanya akan memicu penolakan. Misalnya, jika Anda tahu anak menjadi sulit diatur ketika lapar, biarkan ia makan terlebih dahulu sebelum memberi perintah. Setelah anak merasa kenyang dan lebih rileks, ia akan lebih kooperatif.
Demikian pula saat anak baru pulang sekolah, beri waktu sejenak untuk beristirahat sebelum meminta bantuan. Momen yang tepat akan memudahkan komunikasi Anda dengan si kecil.
3. Berikan Contoh Yang Baik
Anak adalah peniru ulung. Jika Anda sering berbicara dengan nada tinggi atau memerintah tanpa sopan, jangan heran jika anak akan membalas dengan perilaku yang sama. Sebaliknya, gambaran perilaku sopan saat berbicara dengannya.
Baca Juga: Harga Tiket Masuknya Terjangkau! Ini 5 Aktivitas Seru di Wisata Pondok Halimun Sukabumi
Misalnya, katakan, “Tolong bantu Mama membereskan mainan ya,” daripada berteriak, “Cepat bereskan mainanmu!” Nada yang lembut akan membuat anak merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk percaya.
4. Buat Kesepakatan Bersama
Pastikan anak memahami aturan dan konsekuensi di rumah. Misalnya, jika ia berbicara kasar atau melawan perintah, ajarkan untuk meminta maaf terlebih dahulu. Kemudian dibuat kesepakatan tentang konsekuensi jika perilaku itu terulang, seperti time-out selama 10 menit atau kehilangan waktu bermain.
Sebagai motivasi, beri penghargaan jika anak berhasil mematuhi aturan. Misalnya, pujilah anak jika ia menyelesaikannya dengan baik. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa perilaku positif membawa hasil yang menyenangkan.
5. Berikan Pilihan kepada Anak
Anak sering dibantah karena ingin merasa memiliki kendali atas hidupnya. Berikan pilihan agar ia merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Contohnya, jika anak sibuk bermain tetapi harus mengerjakan PR, katakan, “Kamu mau bermain dulu selama 15 menit baru mengerjakan PR, atau mengerjakan PR sekarang supaya bisa bermain lebih lama nanti?”
Dengan memberikan pilihan, anak belajar tanggung jawab dan berpikir logis. Jangan lupa untuk menjelaskan konsekuensi dari setiap pilihan agar anak dapat mengambil keputusan yang bijak.
Menghadapi anak yang suka dibantah memang tidak mudah. Namun, dengan komunikasi yang baik, sikap sabar, dan kasih sayang, Anda bisa membantu anak menjadi lebih patuh tanpa merusak hubungan emosionalnya. Ingat, setiap anak adalah individu yang unik dan membutuhkan pendekatan yang berbeda-beda. bertujuan untuk memahami kebutuhannya, memberi contoh yang baik, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosinya.
Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang santun, penuh rasa hormat, dan percaya diri.
Sumber: verywellfamily