Tragedi Brexit 2016: Kemacetan Mudik Lebaran Indonesia yang Menelan Korban

Sukabumiupdate.com
Kamis 03 Apr 2025, 13:30 WIB
Ilustrasi Macet. Tragedi Brexit 2016: Kemacetan Mudik Lebaran Indonesia yang Menelan Korban (Sumber : Pexels)

Ilustrasi Macet. Tragedi Brexit 2016: Kemacetan Mudik Lebaran Indonesia yang Menelan Korban (Sumber : Pexels)

SUKABUMIUPDATE.com - Tragedi Brexit 2016, yang merujuk pada "Brebes Exit," adalah salah satu insiden mudik paling mengerikan dalam sejarah Indonesia.

Peristiwa Tragedi Brexit 2016 terjadi di pintu keluar Tol Brebes Timur selama arus mudik Lebaran pada Juli 2016. Tragedi Brexit 2016 menjadi pelajaran penting tentang manajemen lalu lintas dan infrastruktur selama musim mudik, termasuk mudik Lebaran Idulfitri.

Menolak Lupa! Di momen Idulfitri ini, mari mengingat dan mengenang kembali Tragedi Brexit 2016 dalam Sejarah Mudik Lebaran di Indonesia, seperti dirangkum dari berbagai sumber:

Tragedi Brexit 2016 dalam Sejarah Mudik Lebaran Indonesia

Sekitar sembilan tahun lalu, tepatnya Juli 2016, masyarakat Indonesia beramai-ramai melakukan mudik Lebaran dengan antusiasme tinggi, terutama perantau yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Kala itu, Sejak 1 Juli 2016, arus pemudik mulai memenuhi ruas tol Trans Jawa. Pasalnya, Pembukaan tol Trans Jawa memungkinkan perjalanan Jakarta-Brebes hanya dalam waktu sekitar 4 jam, sehingga semakin banyak orang yang bersemangat untuk mudik yakni pulang ke kampung halaman.

Namun, dua hari kemudian, kemacetan parah terjadi. Ribuan kendaraan menumpuk di tol Palimanan-Kanci, dengan titik utama kepadatan berada di gerbang tol Brebes Timur. Kemacetann parah dalam Sejarah Mudik Lebaran di Indonesia ini kemudian dikenal dengan istilah “Brexit”, yang merupakan singkatan dari Brebes Exit.

Secara kebetulan, melansir NU Online, istilah yang sama juga digunakan dalam konteks global untuk merujuk pada keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britain Exit), sehingga Brexit memiliki dua makna yang berbeda di tingkat internasional dan nasional.

Baca Juga: 6 Penyebab Seseorang Tidak Bersikap Dewasa Meski Usia Sudah Tua

Dalam lingkup nasional (Indonesia), kemacetan ekstrem dalam Tragedi Brexit 2016 berlangsung selama berjam-jam, menyebabkan banyak pemudik terjebak tanpa pergerakan.

Bahu jalan dipenuhi oleh orang-orang yang beristirahat di tengah kebuntuan perjalanan. Bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, situasi kemacetan ekstrem dalam Tragedi Brexit 2016 menjadi sangat berbahaya.

Tragisnya, sebanyak 17 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan dan masalah kesehatan sepanjang arus mudik Lebaran yang berlangsung dari 29 Juni hingga 5 Juli 2016 di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Adapun data mengenai korban kemacetan ekstrem dalam Tragedi Brexit 2016 bersumber dari laporan resmi Dinas Kesehatan serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, yang kemudian dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho.

Kemacetan di pintu keluar Tol Brexit pada 2016 menjadi peristiwa yang mengakibatkan antrean kendaraan mengular hingga 16 kilometer. Penyebab utama kemacetan ini adalah lambatnya proses pembayaran tol, yang saat itu dikenakan tarif sebesar Rp146.500.

Situasi semakin memburuk karena banyak kendaraan kehabisan bahan bakar di tengah kemacetan, memicu munculnya penjual bahan bakar dadakan yang menawarkan harga hingga Rp50.000 per liter, jauh lebih mahal enam kali lipat dibandingkan harga resmi. Selain itu, keberadaan pasar tumpah dan pedagang di jalur arteri Pantura—khususnya di Indramayu dan Subang, Jawa Barat—, serta lampu lalu lintas dekat pintu keluar tol, semakin memperparah kepadatan lalu lintas.

Di sepanjang antrean, pengendara yang menyerobot di SPBU menambah kekacauan, sementara warga sekitar menyediakan toilet dadakan bagi pemudik yang terjebak. Kondisi ini juga mendorong banyak orang untuk salat di bahu jalan akibat ketidakmampuan bergerak dalam kemacetan panjang saat Tragedi Brexit 2016 lalu.

Sejak Tragedi Brexit 2016 tersebut, infrastruktur jalan tol di Indonesia terus mengalami perkembangan untuk mengurangi risiko kemacetan ekstrem saat mudik Lebaran. Meski arus kendaraan tetap meningkat drastis setiap tahunnya, kemacetan yang terjadi tidak lagi separah Tragedi Brexit 2016.

Menanggapi insiden Tragedi Brexit 2016, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang kembali. Dengan 17 korban jiwa akibat terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam, Brexit dikenang sebagai salah satu tragedi terburuk dalam sejarah mudik Lebaran di Indonesia.

"Pengalaman Brexit 2016 itu tidak boleh lagi terjadi. Semua kementerian dan lembaga sudah siap (mengantisipasi), tetapi masyarakat juga harus siap menghadapi situasi,” kata Moeldoko dalam konferensi pers Kesiapan Pemerintah Menghadapi Risiko Bencana Hidrometeorologi yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa 2 April 2024, seperti dikutip dari nu.or.id, Kamis (3/4/2025).

Intisari Tragedi Brexit 2016

  • Kemacetan Parah : Kemacetan mencapai panjang hingga 18 kilometer, dengan kendaraan terjebak selama berjam-jam tanpa bergerak.
  • Korban Jiwa : Sebanyak 17 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan, dehidrasi, dan kondisi medis lainnya selama kemacetan.
  • Penyebab : Lambatnya proses pembayaran di gerbang tol, banyaknya kendaraan yang kehabisan bahan bakar, dan pasar tumpah di sekitar jalur arteri menjadi faktor utama kemacetan dalam Tragedi Brexit 2016.

Sumber: berbagai sumber.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini