SUKABUMIUPDATE.com - Rabeg memiliki akar sejarah yang menarik, konon berasal dari zaman Sultan Maulana Hasanuddin, penguasa Kesultanan Banten. Nama "rabeg" sendiri diambil dari kota Rabigh di Arab Saudi, tempat Sultan mencicipi hidangan serupa saat menunaikan ibadah haji.
Setelah kembali ke Banten, Sultan meminta juru masaknya untuk membuat hidangan yang mirip, dan lahirlah rabeg yang kini menjadi bagian dari warisan kuliner Banten.
Rabeg adalah kuliner khas Banten yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan Kesultanan Banten.
Baca Juga: Wabup Andreas Unggah Ajakan Ngopi di H+1 Lebaran Jadi Sorotan Warganet Sukabumi
Rabeg tidak hanya lezat, tetapi juga mencerminkan akulturasi budaya dan sejarah panjang Kesultanan Banten.
Berikut beberapa fakta menarik tentang asal-usul dan Sejarah Rabeg, sebagaimana dirangkum berbagai sumber:
Asal Usul Rabeg di Indonesia
Rabeg berasal dari kota Rabigh di Arab Saudi. Sultan Maulana Hasanuddin, penguasa Kesultanan Banten, mencicipi hidangan berbahan dasar daging kambing saat berkunjung ke Rabigh untuk menunaikan ibadah haji.
Setelah kembali ke Banten, Sultan meminta juru masak istana untuk membuat hidangan serupa, yang kemudian dikenal sebagai rabeg.
Meskipun terinspirasi dari masakan Arab, Rabeg diadaptasi dengan menggunakan rempah-rempah khas Nusantara seperti lengkuas, jahe, biji pala, lada, dan kayu manis, sehingga memiliki cita rasa yang unik.
Baca Juga: Pendakian TNGGP Ditutup Sementara Imbas Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Gede
Makna dan Popularitas Rabeg
- Hidangan Kerajaan
Rabeg awalnya menjadi hidangan istimewa di istana Kesultanan Banten dan disajikan dalam acara-acara khusus seperti perayaan adat dan keagamaan.
- Kuliner Tradisional
Seiring waktu, rabeg menjadi makanan yang populer di masyarakat Banten dan kini dapat ditemukan di berbagai warung makan di daerah Serang dan sekitarnya.
Sumber: berbagai sumber.