SUKABUMIUPDATE.com - Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di kawasan Keraton Kasepuhan Cirebon dikenal dengan tradisi azan Pitu, atau azan yang dikumandangkan oleh tujuh muadzin secara bersamaan. Saat ini, tradisi ini masih dilakukan dalam shalat Jumat pada azan pertama.
Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak masjid berdiri dan memiliki latar belakang sejarah yang fenomenal. Ada berbagai versi mengenai asal-muasalnya, tetapi pada umumnya kisahnya memiliki inti yang sama, yaitu berkaitan dengan peristiwa besar yang meresahkan masyarakat Cirebon pada masa itu.
Latar Belakang Sejarah azan Pitu
Salah satu versi yang populer menyebutkan bahwa tradisi azan Pitu bermula pada zaman Sunan Gunung Jati, ketika Cirebon dilanda wabah yang meresahkan.
Wabah ini diyakini berasal dari seorang pendekar sakti aliran hitam bernama Menjangan Wulung, yang menentang syiar Islam yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati.
Menjangan Wulung menyebarkan guna-guna dan wabah penyakit kepada masyarakat, terutama para pengikut Sunan Gunung Jati. Dengan kesaktiannya, ia dapat mengubah bentuk dan menjadi tak terlihat. Tujuan utamanya adalah menghentikan dakwah Islam di Cirebon.
Untuk melancarkan aksinya, Menjangan Wulung berdiam di kubah Masjid Sang Cipta Rasa dan menyerang siapa pun yang mengumandangkan azan. Akibat serangannya, setiap muadzin yang mengumandangkan azan meninggal dunia secara misterius.
Peristiwa ini membuat panik para jamaah dan pihak Keraton, yang awalnya tidak mengetahui penyebab kematian para muadzin.
Sunan Gunung Jati Mengatasi Ancaman Menjangan Wulung
Berita tentang kejadian ini akhirnya sampai ke Sunan Gunung Jati, yang kemudian melakukan tirakat dan memohon petunjuk Allah SWT. Setelah mendapat ilham, beliau menyadari bahwa peristiwa ini adalah ulah Menjangan Wulung.
Untuk mengatasinya, Sunan Gunung Jati mengumpulkan tujuh orang muadzin dan meminta mereka mengumandangkan azan secara bersamaan, dengan dirinya mendampingi langsung.
Ketika azan dikumandangkan, terdengar suara gemuruh di atas kubah masjid, dan sosok Menjangan Wulung mulai tampak. Ia kemudian mencoba menyerang para muadzin dengan ilmu hitamnya. Serangannya begitu kuat hingga para muadzin nyaris tak mampu menyelesaikan azan.
Namun, berkat khusyuknya doa serta perlindungan dari Sunan Gunung Jati, azan tetap bisa diselesaikan. Menjangan Wulung semakin melemah karena tidak sanggup menahan energi spiritual yang terpancar dari azan tujuh dan karomah Sunan Gunung Jati.
Saat azan selesai, terdengar suara ledakan keras dari bagian atas masjid. Ledakan itu berasal dari kekalahan ilmu Menjangan Wulung, yang membuatnya terluka parah. Dikisahkan bahwa ia akhirnya mati dan tubuhnya terpental jauh hingga darahnya berceceran.
Kubah Masjid yang Terpindah ke Banten
Konon, ketika Menjangan Wulung terpental, kubah Masjid Sang Cipta Rasa ikut terbawa dan jatuh di Banten, tepat di atas kubah Masjid Agung Banten. Itulah sebabnya Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki kubah, sedangkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah yang bertumpuk.
Peristiwa ini juga dikaitkan dengan Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati yang berkuasa di Banten. Sebelum kejadian tersebut, beliau sudah mengetahui musibah yang terjadi di Cirebon. Atas permintaan Sunan Gunung Jati, ia turut membantu memusnahkan ilmu hitam Menjangan Wulung dari kejauhan.
Dalam peristiwa ini, energi dari Cirebon dengan azan Pitu dan Banten dengan kesaktian Sultan Maulana Hasanuddin bersatu atas komando Sunan Gunung Jati untuk menghancurkan kekuatan gaib Menjangan Wulung. Akhirnya, wabah dan musibah yang ditimbulkan pun berakhir atas izin Allah SWT.
Tradisi azan Pitu sebagai Tolak Bala
Hingga kini, tradisi azan Pitu terus dilakukan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon, sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah. Selain sebagai syiar Islam, azan ini juga diyakini memiliki fungsi sebagai penghalau wabah atau tolak bala.
Meskipun ada berbagai versi cerita mengenai asal-usulnya, inti dari tradisi ini tetap sama, yaitu sebagai bentuk perlindungan dan keberkahan bagi masyarakat Cirebon.
Sumber: Berbagai Sumber