Kekayaan Orang Terkaya di Dunia Anjlok Rp3.486 Triliun Pasca Pengumuman Tarif Trump

Sukabumiupdate.com
Jumat 04 Apr 2025, 21:24 WIB
Kebijakan tarif Trump telah menimbulkan gejolak besar di pasar saham global, terutama bagi para miliarder di Dunia. (Sumber : Forbes).

Kebijakan tarif Trump telah menimbulkan gejolak besar di pasar saham global, terutama bagi para miliarder di Dunia. (Sumber : Forbes).

SUKABUMIUPDATE.com - Para miliarder dunia mengalami penurunan kekayaan gabungan sebesar $208 miliar atau sekitar Rp3.486 triliun dalam waktu 24 jam setelah pengumuman yang disampaikan oleh Donald Trump pada Kamis (3/4/2025).

Penurunan ini menjadi yang terbesar keempat dalam sejarah 13 tahun berdirinya Bloomberg Billionaires Index dan merupakan yang paling signifikan sejak puncak pandemi Covid-19.

Lebih dari separuh individu yang dilacak oleh Bloomberg Billionaires Index (BBI) mengalami penyusutan kekayaan, dengan rata-rata penurunan sebesar 3,3%. 

Mengutip laman Bloomberg, miliarder asal Amerika Serikat menjadi yang paling terdampak, dengan Mark Zuckerberg (Meta) dan Jeff Bezos (Amazon) mengalami kerugian terbesar.

Miliarder yang Paling Terkena Dampak Tarif Trump

1. Mark Zuckerberg

Pendiri Meta Platforms Inc. menjadi miliarder yang paling dirugikan akibat kebijakan ini. Saham perusahaannya turun 9%, menyebabkan kekayaannya anjlok sebesar $17,9 miliar atau sekitar Rp300 triliun hanya dalam 24 jam.

Meta sebelumnya menjadi salah satu saham Magnificent Seven, dengan kenaikan signifikan sejak awal tahun hingga pertengahan Februari. Namun, sejak saat itu, sahamnya telah merosot 28%.

2. Jeff Bezos

Saham Amazon jatuh 9% pada hari Kamis, menjadi penurunan terbesar sejak April 2022. Hal ini menyebabkan Jeff Bezos kehilangan $15,9 miliar atau sekitar Rp267 triliun dari total kekayaannya.

Secara keseluruhan, saham Amazon telah turun lebih dari 25% sejak mencapai puncaknya pada Februari 2025.

3. Elon Musk

CEO Tesla, Elon Musk, mengalami penurunan kekayaan sebesar $11 miliar atau sekitar Rp184 triliun dalam satu hari. Secara keseluruhan, sepanjang tahun ini, kekayaannya telah berkurang $110 miliar akibat berbagai faktor, termasuk penundaan pengiriman kendaraan dan perannya yang kontroversial sebagai kepala efisiensi dalam pemerintahan Trump.

Pada hari Kamis, saham Tesla turun 5,5%, semakin memperburuk tren penurunan perusahaan dalam beberapa bulan terakhir.

Trump Umumkan Kenaikan Tarif Impor 10% untuk Semua Negara

Presiden AS, Donald Trump, pada Rabu, 2 April 2025, mengumumkan rencana penerapan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, puluhan negara yang dianggap memiliki hubungan dagang paling tidak adil dengan AS akan dikenakan tarif lebih tinggi.

Dalam pidatonya di Rose Garden, Gedung Putih, yang dihadiri oleh sebagian besar anggota kabinetnya, Trump menegaskan bahwa selama puluhan tahun, Amerika telah dieksploitasi oleh berbagai negara, baik sekutu maupun rival. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan dibiarkan terjadi lagi.

Alasan Trump Menaikkan Tarif Impor

Mengutip Tempo.co, penerapan tarif impor bertujuan untuk meningkatkan harga barang impor di dalam negeri, sehingga mendorong pertumbuhan produksi domestik dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Tarif ini juga bertindak sebagai perlindungan bagi industri lokal dari persaingan dengan produk impor yang lebih murah.

Trump meyakini bahwa dengan tarif yang lebih tinggi, produsen akan terdorong untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Ia berusaha meyakinkan masyarakat Amerika bahwa meskipun dalam jangka pendek kebijakan ini dapat menyebabkan kenaikan harga, manfaat jangka panjang berupa peningkatan produksi dalam negeri akan lebih besar.

Selama ini, tarif impor AS yang relatif rendah serta pasar domestiknya yang besar dan kaya telah menjadikannya target utama bagi eksportir asing. Meski konsumen AS mendapat keuntungan dari barang impor yang lebih murah, masuknya produk asing meningkatkan persaingan bagi produsen dalam negeri. Hal ini berkontribusi pada ketidakseimbangan perdagangan, yang menjadi salah satu fokus utama Trump untuk diperbaiki.




Berita Terkait
Berita Terkini