Pendakian TNGGP Ditutup Sementara Imbas Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Gede

Sukabumiupdate.com
Rabu 02 Apr 2025, 17:08 WIB
Gunung Gede Pangrango. | Foto: gunungbagging.com

Gunung Gede Pangrango. | Foto: gunungbagging.com

SUKABUMIUPDATE.com - Pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mengumumkan penutupan sementara aktivitas pendakian pasca mendapat informasi adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Gede.

Berdasarkan surat edaran yang diteken Kepala Balai Besar TNGGP, Adhi Nurul Hadi, penutupan ini berlaku mulai 3-7 April 2025 dan atau sampai informasi lebih lanjut dari Badan Geologi Kementerian ESDM.

Keputusan menutup pendakian tersebut diambil sebagai respons dari siaran pers Badan Geologi Kementerian ESDM tentang peningkatan gempa vulkanik Gunung Gede.

“Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tulis akun Instagram resmi TNGGP dikutip sukabumiupdate.com pada Rabu (2/4/2025).

Baca Juga: Aktivitas Vulkanik Gunung Gede Meningkat, Ini Imbauan Badan Geologi

Pihak TNGGP kemudian meminta kepada calon pendaki yang sudah melakukan pendaftaran pada 3 April 2025 dan seterusnya agar dapat melakukan reschedule atau perubahan jadwal.

Sebelumnya diberitakan, Badan Geologi Kementerian ESDM atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat peningkatan gempa vulkanik dalam di Gunung Gede sejak pukul 00.00 sampai 06.00 WIB, pada Selasa, 1 April 2025.

Badan Geologi kemudian mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi letusan freatik dan hembusan gas beracun di sekitar kawah.

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menyampaikan bahwa lonjakan aktivitas kegempaan ini cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.

“Pada tanggal 1 April 2024, dalam rentang pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, terjadi peningkatan gempa Vulkanik Dalam (VA) hingga mencapai 21 kejadian. Sebagai perbandingan, rata-rata kejadian Gempa Vulkanik Dalam di Gunung Gede selama periode 1-31 Maret 2024 hanya berkisar 0-1 kali per hari," kata Wafid dikutip sukabumiupdate.com dalam siaran persnya, Rabu (2/4/2025).

Lonjakan gempa vulkanik dalam Gunung Gede ini menurut Wafid mengindikasikan peningkatan tekanan di tubuh gunung tersebut. Peningkatan tekanan berisiko memicu letusan freatik dan hembusan gas gunung api di sekitar kawah.

“Dapat membahayakan jiwa jika konsentrasi yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman,” kata Wafid.

Badan Geologi masih menetapkan status Normal untuk Gunung Gede. Namun, masyarakat dan pengunjung diminta tidak mendekati dan berdiam di area dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon.

Wafid memastikan petugas Pos Pengamatan Gunung Gede di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, masih aktif meninjau aktivitas vulkanik gunung setinggi 2.958 mdpl tersebut.

“Tingkat aktivitas Gunung Gede akan segera ditinjau kembali jika terdapat perubahan visual dan kegempaan yang signifikan,” tandasnya.

Erupsi terakhir Gunung Gede terjadi pada 1957 dari Kawah Ratu, dengan kolom letusan mencapai 3.000 meter di atas puncak. Saat ini, PVMBG menyebut aktivitas hembusan terpantau berasal dari Kawah Wadon, dengan ketinggian asap berkisar antara 50 hingga 100 meter selama Maret 2024.

Gunung Gede sendiri diketahui merupakan gunungapi tipe strato yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Cianjur, Sukabumi, dan Bogor.

Berita Terkait
Berita Terkini