SUKABUMIUPDATE.com - China telah mengumumkan rangkaian tindakan balasan terhadap tarif yang dikenakan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Salah satu tindakan tersebut adalah penerapan tarif tambahan sebesar 34 persen pada semua barang impor dari AS, yang akan diberlakukan mulai tanggal 10 April 2025, seperti dikutip dari Al Jazeera oleh Kementerian Keuangan China pada hari Jumat (4/4).
Langkah ini merupakan respons atas pungutan tarif yang dikenakan Washington, yang sebelumnya memaksa Beijing untuk memberlakukan tarif 15 persen pada impor batu bara dan gas alam cair (LNG) dari AS.
Selain itu, China juga mengumumkan pengendalian ekspor yang ketat terhadap mineral dan bisnis utama, membatasi pertukaran barang-barang strategis dengan Amerika Serikat.
“Tujuan penerapan kontrol ekspor oleh pemerintah China terhadap barang-barang relevan sesuai dengan hukum adalah untuk lebih menjaga keamanan dan kepentingan nasional, dan untuk memenuhi kewajiban internasional seperti nonproliferasi,” kata Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan.
Di sisi lain, pada Jumat pagi Presiden Trump membalas tindakan tersebut melalui postingan di Truth Social dengan huruf kapital, menyatakan:
“CHINA BERMAIN DENGAN SALAH, MEREKA PANIK – SATU HAL YANG TIDAK MAMPU MEREKA LAKUKAN!” tulis Trump di Truth Social.
Presiden AS, Donald Trump. | Instagram/@realdonaldtrump
Sementara itu, menurut laporan CGTN, pengumuman China ini muncul setelah AS memutuskan untuk mengenakan "tarif timbal balik" pada ekspor China ke Amerika Serikat.
Tarif tersebut mencapai 34 persen, ditambahkan pada tarif 20 persen yang telah diberlakukan oleh pemerintahan Trump awal tahun ini, sehingga total pungutan baru mencapai 54 persen, dengan bea masuk baru mulai berlaku pada tanggal 9 April.
Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara China menyatakan bahwa tindakan AS tersebut tidak sesuai dengan aturan perdagangan internasional dan secara serius merugikan hak serta kepentingan sah China.
Komisi itu menilai bahwa kebijakan tarif sepihak tersebut merupakan bentuk intimidasi dan tidak hanya merugikan Amerika Serikat, tetapi juga mengancam pembangunan ekonomi global serta stabilitas rantai industri dan pasokan.
China mendesak AS untuk segera mencabut kebijakan tarif sepihaknya dan menyelesaikan sengketa perdagangan melalui konsultasi yang didasarkan pada prinsip kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan.
Komisi tersebut juga mencatat bahwa kebijakan obligasi dan pengurangan serta pembebasan pajak yang ada tidak akan berubah, dan tarif tambahan baru tersebut tidak akan dikurangi atau dibebaskan.