Menu

24 Agu 2016, 15:11 WIB

10 Alasan Jalur Utara Sukabumi Nampak Kumuh dan Semrawut

PKL berjualan di atas trotoar. | Sumber Foto:BAGEA AWI/Kontributor

SUKABUMIUPDATE.COM - Berdasarkan pendapat warga di wilayah utara Kabupaten Sukabumi, hingga saat ini, semua lapisan masyarakat dinilai berkontribusi nyata dalam menjadikan jalur utama di wilayah utara Sukabumi nampak kumuh. Berikut adalah 10 alasannya:
1. Bangunan Kosong
Terdapat banyak bangunan kosong di sepanjang jalan Bogor-Sukabumi, baik semi permanen ataupun permanen yang dibiarkan kosong oleh pemiliknya. Entah, apakah semua bangunan tersebut memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) atau tidak. Yang jelas jari jemari kita tidak akan cukup untuk menghitungnya.

2. Baligo Kadaluarsa
Di beberapa titik kita kerap masih menemui Baligo ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 2015 M/1437 H milik salah satu operator seluler.

3. Coretan Dinding
Tawuran dan tindakan anarkis sudah sangat jelas bukan perbuatan dari kelompok masyarakat yang maju dan modern. Dan coretan-coretan nakal di dinding atau pagar gedung, semakin membuat jalur utama di wilayah utara Sukabumi nampak kumuh.

4. Tidak Tertib Lalu Lintas 
Berhenti, menerobos kemacetan, dan berputar seenaknya adalah pemandangan yang biasa dipertontonkan para pengendara angkutan umum. Ironisnya, banyak juga kendaraan pribadi yang menyerobot jalan di tengah kemacetan. 

5. Jualan di Trotoar
Kesulitan mencari pekerjaan, dan mahalnya membeli tempat untuk berjualan yang representatif, membuat sebagian warga memilih salah satu cara paling mudah dalam mencari nafkah, dengan menjadi pedagang kaki lima (PKL) yang menjual kebutuhan sehari-hari. Tak penting tempatnya di trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.

6. Mencari Nafkah di Lokasi Sempit  
Berjualan pasir dan membuka usaha tambal ban lazim dilakukan di sudut sempit pinggir jalan. Di mana ada tempat memungkinkan menampung pasir, dan usaha tambal ban, di situlah keduanya ada.

7. Sampah dan Rumput Liar
Kalau untuk urusan membuang sampah sembarangan, sepertinya hampir semua warga Sukabumi melakukannya secara ‘berjamaah’ setiap hari. Sadar ataupun tidak, sekecil apapun sampah yang kita buang, dan rumput liar di sepanjang jalan turut memberikan kontribusi dalam menjadikan Sukabumi yang kotor.

8. Mangkal di Trotoar
Ketika lahan parkir habis dipakai berjualan, maka pilihan para Ojekers pun adalah mangkal menunggu penumpang di atas trotoar atau bahkan badan jalan.

9. Pemasangan baligo di sembarang tempat 
Pemasangan baligo di sembarang tempat kerap kali memberi kesan Sukabumi nampak semrawut. Sebagian besar baligo tersebut dibuat oleh instansi pemerintah, anggota legislatif, hingga korporasi. Miris, jika para pemimpin mengomunikasikan kebijakan-kebijakan dengan warganya di jalanan.

10. Pencitraan di Pohon
Dari mulai anggota legislatif, gubernur, bupati, hingga calon kepala desa, harus memelihara popularitas dan elektabilitas (keter­pilihan). Jika tidak, para pemilih tidak akan lagi memilih mereka. Sayangnya, selain di jalanan, pohon-pohon di pinggiran jalan pun menjadi sasaran empuk mereka.

Reporter : BAGEA AWI/Kontributor
Redaktur : AA ROHMAN
Sumber : BAGEA AWI/Kontributor
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jabar memutuskan, pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) untuk SMA sederajat di rumah masing-masing kembali diperpanjang hingga 27 April 2020 mendatang.  Perpanjangan PBM ini merupakan...

SUKABUMIUPDATE.com - Melansir dari tempo.co, DPR RI membentuk Satuan Tugas (Satgas) Lawan Covid-19. Tim ini akan membantu pemerintah dalam mempercepat penanganan penyebaran virus Corona di setiap daerah. "Tujuan dibentuknya satgas...

SUKABUMIUPDATE.com - DPD Partai NasDem (Nasional Demokrat) Kota Sukabumi, ikut bergerak dan terjun langsung ke jalan untuk memerangi penyebaran wabah Virus Corona atau Covid-19. Baik melalui penyemprotan cairan disinfektan...

SUKABUMIUPDATE.com - Melansir dari tempo.co, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Safrizal menjelaskan mekanisme pengajuan pembatasan sosial berskala besar atau status PSBB untuk daerah yang...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya