Menu

21 Jun 2017, 01:02 WIB

Demi Baju Lebaran, Kakak Adik Asal Cibeurem Kota Sukabumi Rela Jadi Pemulung

Iyan (10) dan Rani Nuraeni (8) pemulung cilik. | Sumber Foto:Garis Nurbogarullah

SUKABUMIUPDATE.com - Anak adalah harta yang tak ternilai. Apapun keinginan anak, akan selalu diupayakan agar terpenuhi oleh orang tuanya. Tetapi hal itu mungkin sulit menjadi kenyataan bagi kakak beradik Iyan (10) dan Rani Nuraeni (8), warga Kecamatan Cibeurem, Kota Sukabumi.

Iyan dan Rani memilih menjadi pemulung, diakui keduanya, semata demi membeli baju baru. Mirisnya, sebagai pemulung cilik, keduanya masih duduk di bangku salah satu sekolah dasar (SD) di bilangan Kota Sukabumi.

Pasalnya, kata Iyan, kedua orangtuanya bukan orang berada. Bapaknya pun sama pemulung jua. Sedangkan ibunya perajin bilik bambu. Hanya sayangnya, saat ditanya alamat rumah dan nama kampungnya, keduanya mengaku tidak tahu persis.

BACA JUGA: Selalu Ada Alasan Orang Tua Bawa Anak ke Jalanan Kota Sukabumi

“Nuju ngantosan bapak milarian botol plastik sareng kardus, biasana beres Dzuhur abdi sareng rai ngantosan di dieu dugi tabuh tilu, tuluy uih ka bumi. Terang ari jalan uih mah, tapi teu terang nami alamat bumina,” ujar Iyan saat bertemu sukabumiupdate.com di arah Jalan Pembangunan, Kampung Selakaso Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum, Selasa (20/6).

Ia mengatakan, menjadi pemulung dilakoni atas seizin kedua orang tuanya. Kedua kakak beradik ini rela menjadi pemulung, hanya ingin mendapatkan sebuah baju baru untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah.

Kegiatan memulung dilakukan Iyan dan adiknya, biasanya setelah pulang dari sekolah. Mereka mengaku tidak minder meskipun menjadi pemulung dan mengenakan baju lusuh.

BACA JUGA: Kota Sukabumi Belum Punya Rumah Singgah untuk Warga Jalanan

“Sekarang kan libur. Jadi bisa mencari barang bekas dari pagi sampai sore. Lebaran nanti pengen beli baju baru, seperti teman-teman dan tetangga,” lirihnya.

Iyan mengatakan, tak memikirkan waktu bermain. Yang ada dalam benak mereka, membantu orang tua mencari barang bekas agar bisa menjadi uang dan menutupi kebutuhan sehari-hari. Modal mereka hanya dua karung bekas berwarna putih lusuh.

Dari hasil memulung pun, terang Iyan, tak banyak uang yang dihasilkan. Sebahagian dipergunakan untuk jajan, dan sebahagian disisihkan dalam tabungan.

BACA JUGA: Ada 30 Pengamen Cilik di Cibadak Kabupaten Sukabumi, Masih Ingin Sekolah

"Biasanya bapak ngasih dua ribu buat kita. Kalau sekolah seribu buat bekal dan seribu lagi untuk menabung,"ungkap Iyan seraya menundukan pandangannya.

Dengan keadaan seperti itu, Iyan menuturkan, ibunya turut serta membantu mencari tambahan dengan cara membuat bilik bambu. "Ibu tidak melarang kami untuk ikut bapak menjadi pemulung,” katanya.

Bagi anda yang merasa penasaran atau ingin membantu, kedua bocah ini bisa ditemukan setiap harinya di arah Jalan Selakaso, Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi. Kedua bocah ini sering menunggu bapaknya hingga pukul tiga diantara trotoar. 

Reporter : GARIS NURBOGARULLAH
Redaktur : RONY M SAMOSIR
Sumber : Garis Nurbogarullah
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PAN, Heri Antoni melangsungkan Reses III tahun 2020 di tiga lokasi berbeda, di Daerah Pemilihan (Dapil IV). Lokasi pertama di Kampung...

SUKABUMIUPDATE.com - Mandalika Racing Team Indonesia yang disiapkan untuk mewakili Tanah Air di ajang Moto2 tahun depan juga bakal merintis akademi pembalap untuk program pembinaan atlet balap sejak dini. "Dunia...

SUKABUMIUPDATE.com - Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Rendy Rakasiwi melaksanakan reses ketiga tahun 2020 di Desa Ciparay, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi. Dalam resesnya Rendy...

SUKABUMIUPDATE.com - Platform media sosial Facebook memiliki standar komunitas yang ketat. Kendati ada kebebasan berbicara sebagai konsekuensi demokrasi. Standar komunitas ini juga menyeleksi berita-berita yang diunggah pengguna di Facebook. Melansir...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya