Menu

Rabu, 17 Januari 2018, 09:00 WIB

Sancai, Gembong Narkotika The Next Freddy Budiman?

Christian Wijaya Kusuma alias Sancai. | Sumber Foto:TEMPO/Fitria Rahmawati

SUKABUMIUPDATE.com - Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah Ajun Komisaris Besar Suprinarto membandingkan jaringan narkoba Christian Adhi Wijaya Kusuma alias Sancai, 33 tahun, dengan terpidana mati yang telah dieksekusi pada 2016, Freddy Budiman.

"Kalau dibilang the next Freddy Budiman ya mungkin belum. Namun bisa jadi iya ketika berkembang penyidikannya. Tapi menurut saya kalau Sancai ini kelasnya masih di bawahnya Freddy, karena Freddy menurut saya sudah kelas kartel. Sancai masih kelas kakap," ungkap Suprinarto di kantornya di Jalan Madukoro, Selasa 16 Januari 2018.
Sancai merupakan narapidana kasus narkoba kelas kakap asal Kalimantan yang sudah mengendalikan narkoba jenis sabu. Jaringan Sancai berulang kali ditangkap berdasar hasil pengembangan BNN. Meski ditahan di Lapas Kota Pekalongan, Sancai masih bisa dengan leluasa mengendalikan narkoba.

Pengendalian narkoba dari balik jeruji besi yang dilakukan Sancai melibatkan banyak pejabat kelas atas. Pada Senin lalu, Kepala Rumah Tahanan IIB Purworejo Cahyo Adhi Satriyanto ditangkap. Sebelumnya anggota Direskrim Narkoba Polda Jawa Tengah Ajun Komisaris Koko Wahyudi ditangkap terkait jaringan Sancai.

Adapun Freddy dalam penanganan kasus narkoba pun memiliki jaringan yang kuat dari Tiongkok seperti melibatkan pejabat. Serupa tapi tak sama, jaringan Sancai bisa menggerakkan perwira polisi dan pejabat Lapas.

Dalam penyelidikan BNN terungkap Sancai memiliki dua rekan lagi yang ditangkap di Kalimantan yakni Charles Cahyadi (33) dan anakbuahnya, Saniran (23). Charles merupakan teman sepermainan Sancai sejak kecil. Mereka terpisah saat Sancai melanjutkan pendidikan menengah di Surabaya. Peran Charles dan Saniran adalah mengurus sirkulasi keuangan yang dikendalikan dari Kalimantan.

Saat ditangkap BNN di Kalimantan, Charles dan Saniran kedapatan membawa uang senilai Rp 400 miliar dalam safety box Bank Panin Kalimantan Selatan. Selain uang, juga diamankan 2 batang emas seberat 500 gram dan 850 gram. Mereka langsung digelandang di sel tahanan BNNP Jateng, guna penyidikan sementara, dan penyidikan lanjutan di Jakarta.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkumham Jawa Tengah, Djoni Priyanto mengatakan, Cahyo Adhi selama menjalankan tugasnya di Rutan Purworejo berkelakuan baik. Ia saat itu memeriksa secara internal Chayo Adhi di Kantor BNNP Jateng untuk dimintai keterangan.

"Kita selalu memantau (Lapas). Kita akan kembangan terus kasus ini, soal Sancai. Sementara, CAS menjalankan proses hukum dan di-non-aktifkan sementara, sementara diganti pelaksana tugas (Plt)," ujar Djoni.

Adapun kuasa hukum Sancai, Musrito, sempat mengingatkan kemungkinan vonis berat yang akan dijatuhkan kepada kliennya. Musrito mengatakan, Sancai sempat diberitahu mengenai temuan barang bukti yang mungkin bisa memberatkannya.

"Ketika Sancai menunjuk saya untuk menjadi pengacaranya, saya mengatakan "kamu jangan bermimpi dihukum di bawah 10 tahun untuk kejahatan yang kedua kalinya ini"," ucap Musrito saat dihubungi, Selasa.

Sancai kali ini terjerat 2 kasus yakni pengendalian narkoba dalam tahanan, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Sancai bersama tiga tersangka lainnya dibawa ke BNN di Jakarta.

Sumber: Tempo

Sumber : TEMPO/Fitria Rahmawati
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.
    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved