Light Dark

Departement Store asal Inggris Tutup Permanen Akibat Pandemi, 25.000 Karyawan Terdampak

Internasional | 03 Dec 2020, 11:00 WIB

Departement Store asal Inggris Tutup Permanen Akibat Pandemi, 25.000 Karyawan Terdampak

Internasional | 03 Dec 2020, 11:00 WIB
Department Store Debenhams menggelar program Black Friday yang menawarkan potongan harga hingga 80 persen di Senayan City Jakarta, 25 November 2017. | Tempo/Hendartyo Hanggi

SUKABUMIUPDATE.com - Debenhams, department store asal London, Inggris menutup permanen gerainya setelah Arcadia Group mengajukan perlindungan keBangkrutan pada Senin lalu. Arcadia Group sendiri tercatat memiliki lebih dari 2.500 gerai di Inggris, konsesi di department store seperti Debenhams dan ratusan waralaba di negara lain. 

Dilansir dari Tempo.co, Debenhams sebelumnya pada awal April 2020 lalu telah resmi mengajukan permohonan Bangkrut kepada kurator pengadilan untuk memenuhi prosedur kepailitan Inggris. Hal ini dilakukan usai Debenhams menutup sebagian besar cabangnya.

Debenhams dan Arcadia Group akhirnya menyerah terhadap tekanan pandemi Covid-19 dan berubahnya gaya konsumsi masyarakat di tengah masifnya perkembangan teknologi.

Department store asal Inggris yang telah berdiri di Negeri Ratu Elizabeth sejak 242 tahun lalu memulai bisnisnya dari Jalan Wigmore, pusat Kota London. Pada Selasa (2/12/2020), Debenhams harus bertekuk lutut dari era keemasan e-commerce.

Setelah lebih dari satu tahun melakukan restrukturisasi dan mencari pembeli, akhirnya Debenhams memutuskan untuk menutup tokonya.

Jika biasanya menjelang hari raya Natal di pusat kota Inggris, London, menjadi periode tersibuk di kawasan perbelanjaan, penutupan dua retail terbesar tersebut menjadi syok tersendiri. Penutupan bisnis kedua perusahaan ini juga berdampak kepada sekitar 25.000 karyawannya, apalagi di tengah tertekannya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Tak sedikit perusahaan yang mengajukan keBangkrutan setelah lockdown memaksa masyarakat berbelanja dari rumah. "Para peretail harus berhadapan dengan risiko kebangkrutan saat ini," kata analis Hargreaves Lansdown, Susannah Streeer, dikutip dari New York Times, Rabu, 2 Desember 2020.

Sebelumnya peretail fesyen di Inggris menikmati masa keemasan dan seringkali dianggap sebagai kebanggaan nasional. Debenhams dulu adalah destinasi masyarakat kelas menengah Inggris.

Marks & Spencer yang juga mengumumkan pemangkasan hampir 8.000 tenaga kerjanya pada musim panas lalu juga dikenal sebagai destinasi belanja untuk mencari barang-barang berkualitas di Inggris. Bahkan, pada tahun 2000-an, Topshop sempat diasosiasikan sebagai asset berharga Arcadia Group berkat kolaborasinya dengan model terkenal Kate Moss yang sukses diminati oleh konsumen.

Namun, masa keemasan tersebut tampaknya tak bertahan lama. Peretail besar dari Zara (Spanyol) hingga H&M (Swedia) mulai menjual barang-barangnya lebih murah untuk tetap bertahan dari bergesernya gaya hidup masyarakat.

Sumber: Tempo.co

Image

Herlan Heryadie

Redaktur