Light Dark

Indonesia dan Negara Asia Tenggara Lainnya Berburu Vaksin Covid-19

Internasional | 03 Dec 2020, 06:00 WIB

Indonesia dan Negara Asia Tenggara Lainnya Berburu Vaksin Covid-19

Internasional | 03 Dec 2020, 06:00 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. | [Shutterstock]

SUKABUMIUPDATE.com - Negara-negara Asia Tenggara, tak terkecuali Indonesia mulai mencari Vaksin Covid-19, menyusul Eropa dan Amerika.

Indonesia dengan tingkat infeksi Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara yang telah melewati 500.000 kasus. Negara terbesar di Asia Tenggara ini menargetkan 107,2 juta penduduknya untuk memperoleh vaksin demi mencapai kekebalan komunitas.

"Sebanyak 30 persen dari total target akan memperoleh vaksin gratis dari pemerintah," ujar Menteri Kesehatan Indonesia Terawan Agus Putranto, beberapa waktu lalu, dikutip dari Suara.com.

Indonesia membutuhkan 73,9 juta dosis vaksin untuk program vaksin gratis, dan 172,6 juta untuk program mandiri.

Sebanyak 143 juta dosis kebutuhan vaksin itu akan dipenuhi oleh Sinovac, perusahaan farmasi asal China, dan 30 juta lainnya dari Novavax, perusahaan obat Amerika.

Selain itu, Indonesia akan memperoleh 57,6 juta vaksin Merah Putih yang dibuat oleh ahli dari dalam negeri, dan 16 juta dosis lainnya dari kerja sama Covax Facility yang didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Mengutip keterangan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada awal November, total dana yang dianggarkan Indonesia untuk mendapatkan vaksin sebesar Rp34 triliun hingga 2021.

Dari dana itu, sebanyak Rp5 triliun dianggarkan untuk pengadaan vaksin pada tahun ini dan Rp29,23 triliun pada tahun depan.

Sementara itu, Malaysia akan memberikan vaksin gratis kepada 9,6 juta orang atau 30 persen penduduknya. Vaksin tersebut berasal dari perusahaan China dan perusahaan asal AS, Pfizer

"Malaysia memprioritaskan [pemberian vaksin] untuk kelompok berisiko tinggi, seperti mereka yang ada di garda terdepan, dan mereka yang memiliki penyakit tidak menular seperti jantung dan diabetes," ujar Perdana Menteri Muhyiddin Yassin Jumat lalu.

Pekan lalu, Malaysia meneken perjanjian pembelian 12,8 juta dosis vaksin Pfizer, sekaligus menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membuat kesepakatan dengan perusahaan farmasi asal AS itu.

Sejumlah negara Asia Tenggara lainnya tertarik dengan vaksin Pfizer namun tak mudah menyediakan tempat penyimpanan ultra-dingin di wilayah panas tropis demi menjaga keamanan kualitas vaksin tersebut.

Berdasarkan kesepakatan dengan Pfizer, Malaysia akan memberikan satu juta dosis vaksin untuk warganya di kuartal pertama 2021.

Menyusul kemudian 1,7 juta, 5,8 juta dan 4,3 juta dosis untuk kuartal-kuartal berikutnya.

Sementara untuk memenuhi kekurangan 6,4 juta dosis, Malaysia akan menggunakan vaksin dari kerjasama Covax Facility.

Belum terungkap berapa anggaran yang disediakan oleh Malaysia untuk mendapatkan jutaan vaksin tersebut.

Lain halnya dengan Thailand yang menganggarkan belanja vaksin hingga USD6 miliar dolar atau setara Rp85 triliun, menurut media lokal.

Thailand menargetkan 13 juta atau 19 persen warganya untuk memperoleh Vaksin Covid-19.

Jumat lalu, Thailand meneken kesepakatan senilai USD200 juta untuk memperoleh 26 juta dosis vaksin dari AstraZeneca, perusahaan farmasi Inggris, yang dikembangkan bersama dengan Universitas Oxford.

"Kami telah mengikuti produsen vaksin secara global, tapi perusahaan ini telah mencapai kemajuan yang sangat tinggi," ujar Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-o-cha.

Ketimbang Pfizer, vaksin produksi AstraZeneca diklaim lebih unggul karena tidak harus disimpan dalam suhu ultra-dingin, selain harganya lebih terjangkau.

Penandatangan kontrak itu dilakukan langsung Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha dan telah mendapatkan persetujuan kabinet pada 17 November lalu.

"Pengadaan vaksin tersebut akan dilakukan mulai pertengahan 2021," ujar juru bicara pemerintah Thailand, Traisuree Taisaranakul.

Seperti Thailand, Filipina yang menargetkan dapat memvaksin 60 juta orang dalam dua tahun ke depan juga menjalin kerja sama pengadaan 2,6 juta dosis vaksin dengan AstraZeneca.

Jumat lalu, 30 perusahaan Filipina meneken kerja sama pembelian vaksin dengan AstraZeneca.Puluhan perusahaan itu akan menyumbangkan sebagian besar dosis vaksin kepada negara, demi berakhirnya pandemi dan pemulihan ekonomi.

Sementara Singapura akan memperoleh vaksin ARCT-021 yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi AS Arcturus Therapeutics Holdings Inc pada kuartal pertama tahun depan.

Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB) telah meneken perjanjian kerja sama dengan perusahaan tersebut senilai UGD220 juta.

Negara-negara ASEAN berharap jutaan dosis vaksin yang telah dipesan itu dapat mempercepat pemulihan kondisi kesehatan dan ekonomi masyarakat akibat virus yang berasal dari kota Wuhan, China tersebut.

Sumber: Suara.com

Image

Herlan Heryadie

Redaktur