Menu

30 Jun 2020, 01:00 WIB

NASA dan ESA Latih Kecerdasan Buatan untuk Cari Kehidupan Alien

Logo Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA. | Sumber Foto:NASA

SUKABUMIUPDATE.com - Dua lembaga antariksa, NASA (Amerika Serikat) dan ESA (Eropa) telah melatih sistem kecerdasan buatan (AI) untuk mencari tanda kehidupan makhluk asing alien di Mars.

Dilansir dari tempo.co, wahana Rosalind Franklin (ExoMars) milik ESA akan menjadi yang pertama memiliki sistem kecerdasan buatan baru itu ketika berangkat ke Planet Merah.

Dengan menggunakan sistem cerdas ini, ilmuwan bisa memiliki apa yang akan dianalisis untuk mengatasi batasan tentang bagaimana informasi ditransmisikan dari jarak yang sangat jauh dalam mencari kehidupan dari planet lain. Sistem ini sedang diuji di Mars, tapi dirancang untuk misi masa depan ke Jupiter dan Saturnus di mana jarak lebih menjadi masalah.

Ketua peneliti Victoria Da Poian dari NASA mengatakan ini adalah langkah visioner dalam eksplorasi ruang angkasa. "Ini berarti, seiring berjalannya waktu kita akan beralih dari gagasan bahwa manusia terlibat dengan hampir semua hal di ruang angkasa, ke gagasan bahwa komputer dilengkapi dengan sistem cerdas," kata Da Poian, seperti dikutip laman Daily Mail, 26 Juni 2020.

Dengan kemampuan AI, ilmuwan bisa memutuskan di mana dan kapan untuk mencari tanda-tanda kehidupan dan informasi paling mendesak akan dikirim kembali ke Bumi dengan menghemat waktu dan sumber daya. Komputer ini dilatih untuk membuat beberapa keputusan dan dapat mengirimkan informasi yang paling menarik dan prioritas.

Eric Lyness, pemimpin perangkat lunak di Planetary Environments Lab di NASA Goddard Space Flight Center, mengatakan instrumen cerdas sangat penting untuk eksplorasi planet. "Dibutuhkan banyak waktu dan uang untuk mengirim data kembali ke Bumi yang berarti para ilmuwan tidak dapat menjalankan banyak eksperimen atau menganalisis banyak sampel," kata dia.

Dengan menggunakan AI untuk melakukan analisis awal data setelah dikumpulkan dan sebelum dikirim kembali ke Bumi, NASA dapat mengoptimalkan apa yang diterima, yang sangat meningkatkan nilai ilmiah misi luar angkasa. Da Poian dan Lyness telah bekerja untuk melatih sistem kecerdasan buatan untuk menganalisis ratusan sampel batuan dan ribuan titik data lainnya.

Poin-poin informasi ini berasal dari Mars Organic Molecule Analyzer (MOMA), sebuah instrumen yang akan mendarat di Mars dalam wahana Rosalind Franklin. MOMA adalah instrumen berbasis spektrometer massa yang mampu menganalisis dan mengidentifikasi molekul organik dalam sampel batuan.

Ini akan mencari kehidupan masa lalu atau masa kini di permukaan dan di bawah permukaan Mars melalui analisis sampel-sampel tersebut yang dipilih untuk dipelajari oleh sistem AI. Wahana ExoMars akan mengirimkan sebagian besar data kembali ke Bumi, kemudian sistem tata surya luar akan diberikan otonomi untuk memutuskan informasi apa yang akan dikembalikan.

Hasil pertama menunjukkan bahwa ketika algoritma jaringan saraf sistem memproses spektrum dari senyawa yang tidak diketahui, ini dapat dikategorikan dengan akurasi hingga 94 persen dan dicocokkan dengan sampel yang terlihat sebelumnya dengan akurasi 87 persen. Ini akan disempurnakan lebih lanjut sampai dimasukkan ke dalam misi 2022-2023.

Da Poian mengatakan bahwa misi nirawak ini melibatkan banyak data dan mengirimkan data melalui ratusan juta mil yang bisa menjadi tantangan dan mahal. "Kita perlu memprioritaskan volume data yang kita kirim kembali ke Bumi, tapi kita juga perlu memastikan bahwa dalam melakukan itu kita tidak membuang informasi penting," katanya.

 

Menurut Da Poian, ini telah mengarahkan para ilmuwan untuk mulai mengembangkan algoritma pintar yang saat ini bisa membantu menganalisis sampel dan proses pengambilan keputusan terkait operasi selanjutnya. Sebagai tujuan jangka panjang, algoritma akan menganalisis data itu sendiri, menyesuaikan dan menyetel instrumen untuk menjalankan operasi berikutnya.

Tim menggunakan data mentah dari tes laboratorium awal dengan instrumen MOMA berbasis Bumi untuk melatih komputer mengenali pola yang sudah dikenal. Ketika data mentah baru diterima, perangkat lunak memberi tahu para ilmuwan apakah sampel yang sebelumnya ditemukan cocok dengan data baru.

"Ketika kami akan beroperasi di Mars, sampel hanya akan tetap berada paling lama beberapa minggu sebelum wahana itu membuangnya," kata Lyness. "Jadi, jika kita perlu menguji ulang sampel, kita perlu melakukannya dengan cepat, kadang-kadang dalam waktu 24 jam."

sumber: tempo.co

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Setiap kali keluar dari kamar mandi, ada perasaan segar, aroma tubuh wangi, dan kulit terasa kencang. Tapi kadang-kadang ada beberapa hal salah yang dilakukan orang saat mandi,...

SUKABUMIUPDATE.com - Saat ini, marak penyanyi yang membawakan ulang lagu yang sudah pernah dibawakan penyanyi lain alias melakukan cover lagu di sejumlah platform media sosial seperti YouTube. Mengutip Tempo.co, terkait...

SUKABUMIUPDATE.com - Pemain dan staf pelatih Persiraja Banda Aceh menyepakati pemotongan gaji 50 persen ketika kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2020 kembali digelar. Mengutip Tempo.co, pelatih Persiraja Hendri Susilo di...

SUKABUMIUPDATE.com - Pohon nangka belasan meter di Jalan Kenari, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi tumbang pada Kamis (9/7/2020) tengah malam sekitar pukul 00.15 WIB.  BACA JUGA: Tiga Pohon Tumbang Sekaligus,...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya