Menu

21 Mei 2020, 09:00 WIB

Google Tunjukkan PSBB Diabaikan Jelang Lebaran, Epidemolog: Titik Krusial

Mall Ciledug diserbu pengunjung jelang Lebaran dan ditengah wabah Covid-19. | Sumber Foto:Instagram

SUKABUMIUPDATE.com - Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr Pandu Riono MPH, Ph.D upaya menghambat penyebaran Covid-19 di Indonesia akan mencapai titik krusial pada hari Lebaran mendatang, ketika publik semakin sukar untuk dikendalikan agar tidak bepergian.

Dilansir dari suara.com, hal itu dikatakan Pandu saat memaparkan data pergerakan publik di Indonesia selama masa wabah Covid-19 menggunakan data Google Mobility Index, Rabu (20/5/2020) kemarin.

Pandu mengatakan, berdasarkan pantauan Google, warga Indonesia mulai mengabaikan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjelang hari raya Lebaran, meski awalnya aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih dipatuhi.

Dia menyebut pergerakan penduduk masih terlihat banyak pada Februari dan mulai berkurang sedikit pada Maret 2020. Pergerakan penduduk kemudian jauh berkurang pada April 2020 di Pulau Jawa dan mulai kembali bertambah pada periode 1-10 Mei 2020.

"Di bulan puasa penduduk tidak lagi patuh, keluar mencari takjil, belanja di bulan Ramadhan, kembali terjadi kenaikan. Tapi ini titik krusialnya," katanya.

Pandu kemudian memperingatkan bahwa pada Hari Raya Idul Fitri menjadi titik yang harus ditingkatkan kewaspadaannya karena pergerakan penduduk tidak bisa dikendalikan saat orang-orang berlebaran.

Dia bersama tim epidemiolog FKM UI memanfaatkan data Google Mobility Index untuk mengorelasikan jumlah orang positif Covid-19 dengan pergerakan masyarakat yang dipantau dari fitur lokasi pada ponsel.

Pandu menjelaskan pihaknya menggunakan data dari Google karena tidak ada indikator yang jelas untuk memantau keberhasilan PSBB di lapangan.

Menurut dia, dengan membandingkan data pergerakan penduduk menggunakan Google Mobility Index dengan laporan kasus harian yang disampaikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menunjukkan penurunan kasus di DKI Jakarta.

Pandu menyebut sebanyak 60 persen warga DKI mengikuti anjuran diam di rumah dan hal tersebut berkorelasi dengan penurunan jumlah kasus di Ibu Kota.

Akan tetapi, jika melihat data secara nasional di seluruh Indonesia tidak mengalami penurunan dikarenakan hanya 50 persen penduduk yang membatasi pergerakannya.

Dia menyimpulkan bahwa dampak penurunan kasus bisa terjadi apabila penduduk yang mematuhi aturan PSBB dengan diam di rumah lebih dari 60 persen.

 

Sumber : suara.com

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Rabu, 27 Mei 2020, mengumumkan pembentukan sebuah yayasan yang akan menjadi sumber pendanaan baru, di mana uang yang terkumpul di yayasan...

SUKABUMIUPDATE.com - Presiden AS Donald Trump akan menandatangani perintah eksekutif pada perusahaan media sosial pada hari Kamis setelah Trump mengancam akan menutup situs web yang dituduhnya membungkam suara-suara konservatif. Dilansir...

SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah DKI Jakarta mensyaratkan mereka yang hendak masuk dan keluar wilayah Ibu Kota memiliki Surat Izin Keluar Masuk selama pandemi Covid-19. Dilansir dari tempo.co, jika tidak mengantongi...

SUKABUMIUPDATE.com - Lima mahasiswa terdakwa kasus meninggalnya Ipda Erwin dan terbakarnya tiga anggota Polres Cianjur dalam aksi unjuk rasa yang berujung ricuh diputuskan bersalah. Terdakwa utama dijatuhi hukuman 12...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya