Menu

08 Peb 2020, 20:00 WIB

Trenggiling Diduga Perantara Virus Corona dari Kelelawar ke Orang

Seekor Trenggiling (Paramanis javanica) yang telah di bekukan saat akan dimusnahkan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Juanda, Surabaya, 8 Juli 2015. | Sumber Foto:FULLY HANDOKO

SUKABUMIUPDATE.com -  Virus corona yang diisolasi dari trenggiling memiliki 99 persen genetik yang sesuai dengan yang telah menewaskan lebih dari 600 orang sejak wabah dimulai di Cina tengah bulan lalu, menurut sebuah studi oleh tim ilmuwan sipil dan militer Cina, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post (SCMP), Sabtu, 8 Februari 2020.

Para ilmuwan telah melacak asal-usul virus corona 2019-nCoV pada kelelawar buah yang ditemukan di provinsi Yunnan beberapa tahun yang lalu, tetapi sekitar 4 persen gennya adalah baru. Ini membutuhkan perantara, dan beberapa penelitian telah mengusulkan berbagai kandidat seperti ular.

Tim yang dipimpin oleh Profesor Shen Yongyi di Universitas Pertanian Cina Selatan di Guangzhou, provinsi Guangdong, menganalisis lebih dari 1.000 sampel dan menemukan bahwa lebih dari 70 persen trenggiling yang mereka periksa membawa virus yang berasal dari keluarga yang sama dengan infeksi yang ditemukan di kota Wuhan, kata para ilmuwan pada hari Jumat, 7 Februari 2020.

Pada tingkat mikroskopis, para peneliti sipil dan rekan-rekan mereka dari Akademi Ilmu Kedokteran Militer di Beijing menemukan bahwa beberapa strain virus trenggiling tampak identik dengan virus corona baru pada manusia - dan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa mereka memiliki 99 persen gen yang sama.

"Trenggiling adalah host perantara potensial, tetapi mungkin ada beberapa host perantara," kata Shen. "Misalnya, dengan Sars [sindrom pernafasan akut] selain musang, predator kecil lainnya juga dapat menyebarkan virus itu."

Hasil tim belum melalui proses peer review dan makalah penelitian formal tidak tersedia. "Mengingat keseriusan epidemi saat ini, kami berharap untuk membuat hasil penelitian ini dipublikasikan secepat mungkin, bertujuan untuk membantu pencegahan dan pengendalian epidemi secara ilmiah dan memberikan referensi bagi lebih banyak ilmuwan untuk melakukan pekerjaan lebih lanjut," ujar Liu Yahong, presiden universitas, sebagaimana dikutip oleh situs berita Thepaper.cn.

Biasanya para ilmuwan menaruh temuan mereka di sebuah makalah untuk publikasi dalam jurnal akademik, maka peer review akan dipesan sebelum hasilnya diumumkan.

Ini membutuhkan waktu, dan para ilmuwan telah berada di bawah tekanan dari publik dan sesama peneliti untuk bekerja dengan cepat selama wabah virus corona.

Zheng Aihua, seorang ahli virologi Institut Zoologi di Akademi Ilmu Pengetahuan Cina di Beijing, mengatakan sebuah makalah dan data masih diperlukan bagi para peneliti di seluruh dunia untuk mengevaluasi dan memperluas karya tersebut.

"Banyak teori berlimpah," katanya. "Kita harus hati-hati dan tidak terburu-buru membuat kesimpulan."

Beberapa pertanyaan tentang kaitan dengan 2019-nCoV tetap ada. Misalnya, kelelawar dan trenggiling hidup di lingkungan yang berbeda. Meskipun keduanya mamalia malam hari, tidak jelas bagaimana virus melompat dari kelelawar ke trenggiling.

Trenggiling, satu-satunya mamalia bersisik di dunia, adalah salah satu spesies yang paling dicari dalam perdagangan hewan ilegal. Berbeda dengan kelelawar, trenggiling adalah bahan yang populer di restoran dan obat-obatan herbal.

Lebih dari 1 juta trenggiling telah terbunuh di seluruh dunia selama dekade terakhir untuk memenuhi permintaan pasar gelap untuk daging atau sisik mereka, dan sebagian besar berasal dari Cina, menurut perkiraan.

Akibatnya, trenggiling hampir punah di Cina. Lebih dari 95 persen dari mereka yang dikonsumsi di Tiongkok diselundupkan dari daerah lain termasuk Asia Tenggara dan Afrika, menurut sebuah studi Universitas Normal Tiongkok Selatan pada tahun 2017.

James Wood, seorang profesor kedokteran hewan di University of Cambridge, mengatakan kepada kantor berita Prancis bahwa lebih banyak data diperlukan dan menunjukkan kesamaan antara sekuens genom saja "tidak cukup."

"Anda hanya dapat menarik kesimpulan yang lebih pasti jika Anda membandingkan prevalensi (dari virus corona) antara spesies berbeda berdasarkan sampel yang representatif, yang ini hampir pasti tidak," kata Dirk Pfeiffer, profesor kedokteran hewan di Universitas Kota Hong Kong, kepada Reuters.

Sumber: Tempo.co

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Pandemi global ketiga yang disebabkan oleh virus corona baru membuat sebagian besar orang di seluruh dunia cemas. Dilansir dari suara.com, kecemasan ini membuat masyarakat melakukan panic buying, yakni...

SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah video singkat memperlihatkan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi bersama Wakil Wali Kota Sukabumi Andri Hamami dan Sekda Kota Sukabumi Dida Sembada melakukan video conference bersama jajaran...

SUKABUMIUPDATE.com - Merebaknya virus corona baru atau Covid-19 membuat masyarakat semakin memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Melansir dari tempo.co, anda bisa menggunakan air dan sabun sebagai senjata utama untuk...

SUKABUMIUPDATE.com - Status kegawatdaruratan Kota Sukabumi bakal meningkat setelah seorang warga terkonfirmasi positif Corona dari hasil swab. Hal ini diungkapkan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi pada konferensi pers di Kantor...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya