Menu

Jumat, 15 November 2019, 06:00 WIB

Ahli Penerbangan Sarankan Perakit Helikopter Bikin Gyrocopter, Apa Bedanya?

Jujun Junaedi menjelaskan komponen helikopternya kepada tim yang mewakili Google Indonesia dan YouTube, di halaman rumahnya Kampung Cibubuay, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Selasa (12/11/2019). | Sumber Foto:Syahrul Himawan.

SUKABUMIUPDATE.com - Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia (DI), Andi Alisjahbana, memberi saran pada Juju, pemuda Sukabumi yang tengah merakit helikopter, untuk membuat gyrocopter.

“Yang lebih mungkin dia bikin adalah gyrocopter,” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 11 November 2019.

Andi mengatakan gyrocopter jauh lebih mudah dibandingkan dengan helikopter. “Helikopter jauh lebih susah karena ada dynamic stability,” kata dia.

Dia menjelaskan, gaya angkat untuk menerbangkan helikopter berasal dari putaran baling-baling yang digerakkan mesin. Setelah terangkat ke udara, ada risiko badan helikopter justru juga ikut berputar. Untuk mencegahnya, helikopter memiliki baling-baling yang berada di ekornya atau rotor.

Putaran rotor ini yang mencegah badan helikopter ikut berputar saat di udara. “Menjaga stabilitas supaya (badan helikopter) gak ikut berputar itu susah sekali. Itu gak mudah,” kata Andi.

Andi menyarankan agar Juju membangun gyrocopter. Kendati sama memiliki baling-baling panjang di atasnya, tapi berbeda dengan helikopter, baling-baling utama pada gyrocopter justru tidak terhubung dengan mesin. Mesin gyrocopter justru untuk memutar baling-baling yang biasanya di pasang di bagian punggung tempat duduk pilot.

Baling-baling kecil yang diputar oleh mesin pada gyrocopter untuk membentuk gaya dorong maju ke depan. Gaya dorong ini yang justru memutar baling-baling utama yang berukuran lebih besar di bagian atas, yang selanjutnya akan memeri gaya angkat untuk terbang.

“Lebih sederhana. Propeler di atas tidak diputar pakai mesin. Dia hanya pakai propeler dorong,” kata Andi.

Kendati demikian, Andi wanti-wanti agar harus tetap dipelajari ilmunya. “Ini justru lebih mudah, tapi tetap butuh ilmu. Gak bisa sembarangan,” kata dia.

Penelusuran Tempo, gyrocopter dikenal dengan sejumlah istilah, di antaranya gyroplane dan autogyro. Lembaga Persiapan Industri Penerbangan sempat membangun Gyrocopter B8 yang dinamai Kolentang, alias Kuros Terbang. Teknologi gyrocopter diperkenalkan pertama kali oleh Juan de la Cierva tahun 1912. Gyrocopter saat ini populer di Eropa.

Sumber: Tempo.co

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com -  Produser MD Pictures, Manoj Punjabi menyuguhkan sneak peek film Habibie & Ainun 3 dalam acara ulang tahunnya yang ke-47 tahun. Hal itu sebagai bentuk dedikasinya epada almarhum...

SUKABUMIUPDATE.com -  Belum lama ini, publik digegerkan dengan berita seorang penumpang yang disengat oleh kalajengking ketika penerbangan tengah berlangsung. Dilansir Suara.com dari laman Fox News, Minggu (8/12/19) diketahui wanita tersebut...

SUKABUMIUPDATE.com -  Masih ingat karya seni pisang dilakban ke dinding yang dijual dengan harga US$ 120.000 atau Rp 1,7 miliar? Rupanya ada orang yang dari New York yang masuk...

SUKABUMIUPDATE.com -  Kontingen Indonesia sukses menambah 15 medali emas pada perhelatan SEA Games 2019 hari ini, Minggu (8/12/2019). Indonesia pun masih bertengger di peringkat kedua klasemen perolehan medali. Sampai berita...

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya