Menu

17 Mei 2019, 09:16 WIB

Dampak Badai Matahari Siang Ini: Aurora sampai Gangguan Navigasi

Aurora Borealis terlihat menari di atas Arctic Snowhotel di Rovaniemi, Finlandia, Kamis, 28 Februari 2019. Finlandia menjadi salah satu negara yang menjadikan keindahan fenomena alam ini sebagai daya tarik wisatanya. | Sumber Foto:REUTERS/Alexander Kuznetsov.

SUKABUMIUPDATE.com - Dampak  badai matahari, yang terjadi pada 12-13 Mei 2019, akan sampai ke Bumi hari ini, Jumat, 17 Mei 2019.  Peramal cuaca luar angkasa di Pusat Prediksi Cuaca Antariksa AS (SWPC) telah melacak tiga gelombang energi matahari yang menyasar ke Bumi.

Energi matahari yang disebut Coronal Mass Ejections (CMEs) bisa memicu gangguan di magnetosfer planet ini. CME adalah semburan kuat partikel dan plasma yang diarahkan ke Bumi.

Namun SPWC menyatakan, badai geomagnetik atau badai Matahari berkekuatan moderat atau lemah, sehingga tidak berdampak merusak. "Badai G2 hari ini diperkirakan akan menghasilkan efek aurora yang memukau di seluruh bagian utara belahan bumi utara.
Di Amerika Utara, SWPC memprediksi aurora atau Cahaya Utara terlihat di selatan seperti Montana, North Dakota, dan Minnesota."

Indonesia dan bagian bumi di sekitar Khatulistiwa tidak terkena dampak Badai Matahari ini. Badai Matahari akan berdampak di wilayah belahan utara dan selatan Bumi, demikian dinyatakan BMKG.

Namun karena kekuatan badai lemah, maka dampak mengganggu sinyal atau navigasi kemungkinan tidak akan terjadi. Sebaliknya, pemandangan menakjubkan aurora akan terlihat di wilayah-wilayah Rusia tengah, Finlandia, Swedia dan Norwegia. Beberapa aurora bahkan mungkin terlihat di ujung paling utara Skotlandia.

Cahaya Utara dipicu oleh partikel-partikel oksigen dan nitrogen yang menarik angin di atmosfer. Partikel-partikel  bergetar pada berbagai frekuensi dan bercahaya dalam warna biru, hijau, kuning, merah dan ungu.

Meski begitu, masyarakat diminta untuk tetap waspada karena Badai G2 moderat juga bisa berdampak mengganggu atmosfer bumi. Sementara badai menciptakan aurora yang indah, mereka juga dapat mengganggu sistem navigasi, jaringan listrik bertegangan tinggi.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Setengah dari populasi Indonesia diperkirakan akan terinfeksi virus corona di Indonesia jika tak kunjung diberlakukan lockdown. Dilansir dari suara.com, hingga Jumat (27/3/2020), tercatat ada 893 kasus virus corona...

SUKABUMIUPDATE.com - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukabumi merilis data lonjakan Orang Dalam Pemantauan (ODP) per hari ini, Sabtu (28/3/2020). Tercatat ODP yang sehari sebelumnya berjumlah 202 orang,...

SUKABUMIUPDATE.com - Juru Bicara Pemerintah untuk Penangananan Covid-19 Achmad Yurianto dianggap melontarkan kalimat kontroversial ketika memberikan keterangan pers soal perkembangan kasus corona di Indonesia. Dilansir dari suara.com, dalam pernyataan...

SUKABUMIUPDATE.com - Hujan deras disertai angin kencang melanda Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (28/3/2020). Akibatnya, belasan rumah porak-poranda. Atap berterbangan dan pohon tumbang di Kampung Pasisangan RT 18/05 Desa Pondokkaso...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya