Menu

Senin, 24 Desember 2018, 18:12 WIB

Longsoran 64 Ha Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami Selat Sunda

Foto udara kerusakan akibat tsunami Selat Sunda di wilayah pesisir Pandeglang, Banten, Minggu 23 Desember 2018. | Sumber Foto:ANTARA FOTO/HO-Susi Air

SUKABUMIUPDATE.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memastikan penyebab tsunami Selat Sunda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, lalu dipicu longsoran akibat letusan Gunung Anak Krakatau pada 21 Desember.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan ada citra satelit yang menangkap longsoran di lereng Gunung Anak Krakatau itu. "Ada 64 hektare lereng gunung yang hilang,
itu tentunya membuat guncangan," ujarnya, Senin, 24 Desember 2018.

Menurutnya, sensor gempa BMKG di Banten dan Lampung mencatat adanya getaran. Namun, kata Rahmat, guncangan itu tidak diartikan sebagai gempa melainkan longsoran. Setelah dikonversi, besaran guncangan itu setara dengan gempa magnitude 3,4.

Berdasarkan data BMKG pusat sumber guncangan atau episenter itu berada di kaki lereng Gunung Anak Krakatau. "Apakah langsung ambles hilang (64 hektare) itu perlu riset. Tapi kalau sedikit-sedikit nggak mungkin juga," ujar Rahmat.

Sejumlah pakar dan peneliti gempa menyampaikan beragam faktor yang bisa membuat kejadian tsunami tanpa gempa di Selat Sunda terkait dengan letusan Gunung Anak Krakatau.

Pakar tsunami dari ITB, Hamzah Latief, mengatakan gelombang tinggi di Selat Sunda dipastikan tsunami. Soal penyebab pastinya, kata dia, ada beberapa faktor, khususnya yang terkait dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. “Kalau pembentukan tsunami akibat gunung api banyak sekali penyebabnya, ada 12,” kata Hamzah pada Minggu, 23 Desember 2018.

Faktornya seperti guguran lava, longsoran bawah gunung, runtuhan kaldera, perbedaan temperatur panas. Juga ada sebab tsunami lainnya seperti blasting atau ledakan. “Seperti menggoreng ikan ada minyak panas ketemu yang dingin lalu meledak,” ujarnya.

Sementara itu Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung dalam siaran pers menyebutkan kaitan tsunami dengan aktivitas letusan masih harus didalami. Untuk menimbulkan tsunami Selat Sunda seperti yang terjadi Sabtu malam, 22 Desember 2018, misalnya juga perlu ada runtuhan besar yang masuk ke dalam kolom air laut.

Untuk merontokkan bagian tubuh yang longsor ke bagian laut itu diperlukan energi yang cukup besar, dan ini tidak terdeksi oleh seismograph di pos pengamatan gunung api. PVMBG menyatakan masih memerlukan data-data untuk dikorelasikan antara letusan gunung api dengan tsunami Selat Sunda.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy K. Syahbana, mengatakan alat seismik yang disimpan PVMBG di Pulau Gunung Anak Krakatau mati...

SUKABUMIUPDATE.com - Tiga asteroid mendekati Bumi akhir pekan ini, dan salah satunya melintas ke planet kita lebih dekat daripada jarak bulan ke Bumi, sebagaimana dilaporkan Live Science, 9 November 2018. Pada Sabtu,...

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya