Menu

Kamis, 04 Oktober 2018, 08:13 WIB

Kenapa Gempa, Tsunami, Likuifaksi Bisa Terjadi Bersamaan di Palu?

Foto udara kawasan yang terkena dampak likuifaksi akibat gempa Palu Donggala berkekuatan 7,4 SR di Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 1 Oktober 2018. | Sumber Foto:ANTARA/Irwansyah Putra

SUKABUMIUPDATE.com - Ada tiga fenomena bencana terjadi secara bersamaan di Palu dan Donggala yakni gampa, tsunami dan likuifaksi. Peneliti geofisika dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto menjelaskan kenapa peristiwa tersebut terjadi bersamaan.

"Jadi gini, gempa kan menggetarkan struktur bawah permukaan, apabila di sana materialnya berupa sedimen lunak dan pasir maka seperti diaduk saja, menjadi lumpur. Nah inilah likuifaksi itu," ujar Nugroho, saat dihubungi melalui pesan singkat pada Selasa, 2 Oktober 2018.

Likuifaksi merupakan pencairan tanah yang disebabkan oleh gempa bumi. Dalam mekanika tanah, istilah "mencair" pertama kali digunakan oleh Allen Hazen mengacu pada kegagalan Bendungan Calaveras di California tahun 1918. Hazen menjelaskan mekanisme aliran pencairan tanggul tersebut, dalam jurnal Transactions of the American Society of Civil Engineers edisi tahun 1920.

Fenomena likuifaksi terlihat dalam sebuah video yang diunggah oleh Kepala Pusat Data dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPPB) Sutopo Purwo Nugroho pada Ahad, 30 September 2018, di akun Twitternya, @Sutopo_PN. Video berdurasi 38 detik itu menggambarkan proses terjadinya gempa yang disertai runtuhnya tanah saat terjadi gempa di Palu pada, Jumat, 28 September 2018.

Detik-detik saat rumah-rumah bergerak dan roboh disebabkan proses likuifaksi dan amblesan akibat gempa 7,4 SR di Kota Palu. Permukaan tanah bergerak dan ambles sehingga semua bangunan hancur. Proses geologi yang sangat mengerikan. Diperkirakan korban terjebak di daerah ini. pic.twitter.com/Vf5McUaaSG

— Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_PN) September 30, 2018

"Peristiwa itu hanya terjadi pada wilayah yang struktur bagian bawahnya terdapat material sedimen lunak saja," tambah Nugroho. "Gempa yang menyebabkan likuifaksi dan gempa juga mungkin mengakibatkan longsor dan gempa mungkin menyebabkan tsunami."

Sedangkan tsunami, kata dia, terjadi apabila saat gempa terjadi deformasi vertikal dari dasar laut. Hal itu, Nugroho menjelaskan, berbarengan dengan bentuk dasar laut dan pesisir yang bisa menimbulkan tsunami.

"Kalau ciri wilayah secara umum kadangkala sulit dilihat, kan biasanya kelihatannya bagus tapi ternyata rawan likuifaksi. Namun, badan geologi sudah memetakan sepertinya," lanjut Nugroho.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Letusan Gunung Anak Krakatau telah memasuki tahap akhir erupsi tahun ini. Gunung Anak Krakatau mulai tumbuh pada 20 Januari 1930 hasil dari letusan Gunung Krakatau. Menurut laman Kementerian Energi dan...

SUKABUMIUPDATE.com - Informasi hoax selalu muncul, meski dalam kondisi bencana sekalipun. Setidaknya ada delapan informasi hoax terkait tsunami Palu, mulai dari jumlah korban hingga gempa susulan yang lebih besar. Manusia memang mudah...

SUKABUMIUPDATE.com - Gunung Gamalama di Maluku Utara mengalami erupsi. Erupsi yang menghaslkan kolom abu setinggi 250 meter itu terjadi pada pukul 11.52 WITA. Akun Twitter resmi Magma Indonesia, @id_magma, mengunggah foto...

SUKABUMIUPDATE.com - Balaroa dan Petobo, Kota Palu, menjadi dua daerah yang terdampak likuifaksi paling parah. Dua kelurahan ini hampir rata dengan tanah karena fenomena geologi yang ditimbulkan gempa bermagnitudo 7,4...

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya