Menu

Rabu, 11 Juli 2018, 08:25 WIB

Peneliti ITB Tanam Stevia di Ciwidey, Bisa 12 Kali Panen Setahun

Tim ITB berhasil menanam stevia di Ciwidey dan mengolahnya menjadi pemanis alami. | Sumber Foto: Kredit: Medical News Today

SUKABUMIUPDATE.com - Tim dosen dan peneliti dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) telah berhasil menanam stevia di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Dalam setahun, tanaman Stevia bisa dua belas kali dipanen. Mereka mengolah senyawa glikosida steviol (GS) dari daun manis tanaman stevia menjadi gula jenis baru yang non-kalori. 

Tim peneliti berasal dari Sekolah Farmasi ITB, terdiri dari Rahmana Emran Kartasasmita, Elfahmi, Muhammad Insanu, dan As’ari Nawawi. Menurut Rahmana, rintisan riset di laboratorium sejak 2012 dan mulai 2015 di lapangan.

Tim peneliti menginginkan pemanis alami GS ini dapat diproduksi di Indonesia. Mengutip dari laman itb.ac.id, senyawa glikosida steviol merupakan pemanis intensitas tinggi. Sedikit saja sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.

"Tanaman stevia sebagai bahan bakunya cocok ditanam di Indonesia khususnya di daerah Ciwidey,” kata Emran di kampus ITB, Senin, 9 Juli 2018.

Menurut Emran, per hektare lahan bisa ditanami sekitar 50 ribu bibit tanaman stevia. Kapasitas produksinya menghasilkan 12 ton daun basah per tahun. Dengan 12 kali panen, mereka bisa mendapatkan 1,2 ton daun kering.

Berdasarkan hasil analisa, kandungan total GS dari dalam daun stevia kering minimal sekitar 10 persen. Dari 1,2 ton daun kering itu, dalam setahun bisa menghasilkan 120 kilogram gula non-kalori.

Kini perkiraan kebutuhan tahunan stevia di Indonesia sekitar 350 ton stevia per tahun. Pemenuhan 10 persen dari kebutuhan itu atau 35 ton pertahun memerlukan lahan seluas 292 hektar.

Emran mengatakan banyak lahan di daerah Ciwidey yang bisa disewa. Saat ini di sana sudah ada tanaman stevia. Namun karena belum ada industri yang membutuhkan tanaman stevia dalam kuantitas besar, petani belum tertarik untuk menanam pada lahan yang luas.

Daun stevia yang dihasilkan dari lahan yang ada saat ini, baru dikeringkan dan dijual sebagai daun stevia kering oleh petani. Tim mengolah daun kering stevia itu dengan cara ekstraksi agar menghasilkan senyawa gula super manis.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERKAIT

SUKABUMIUPDATE.com - Ilmuwan futurologist terkemuka, Ian Pearson, memprediksi bahwa kecerdasan manusia bisa disalin di memori eksternal. Hal itu, disampaikan melalui blog pribadinya. Dia memprediksi hal tersebut akan terjadi pada 2050. "Tidak diunggah,...

SUKABUMIUPDATE.com - Gerhana bulan Juli 2018 yang akan terjadi pada akhir pekan nanti ditandai dengan bulan purnama yang terlihat meredup. Menariknya, peristiwa tersebut akan menjadi sejarah, karena akan menjadi gerhana...

SUKABUMIUPDATE.com - Di posisi langit yang sama, hujan meteor mengiringi gerhana bulan total terlama di abad ke-21 pada 28 Juli 2018. Hujan meteor Delta Aquarid Selatan akan mencapai waktu puncaknya pada...

SUKABUMIUPDATE.com - Gerhana bulan total pada 28 Juli 2018 bakal jadi yang terlama pada abad ke-21 ini. Durasi total gerhana akan mencapai 103 menit atau lebih dari 1,5 jam. Hal itu...

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya