Menu

23 Mei 2019, 13:20 WIB

3 Risiko Buka Blokir WhatsApp dengan Aplikasi VPN

Logo WhatsApp. | Sumber Foto:Time.

SUKABUMIUPDATE.com - Upaya membuka blokir WhatsApp oleh masyarakat lewat aplikasi VPN alias virtual private network dinilai mengandung sejumlah risiko. "Risiko penggunaan VPN yang tidak aman adalah daya yang dilewatkan ke server VPN bisa disalahgunakan oleh penyelenggara VPN," ujar pengamat keamanan siber Alfons Tanujaya melalui pesan singkat kepada Tempo, Kamis, 23 Mei 2019.

Alfons menanggapi penggunaan aplikasi VPN oleh masyarakat setelah pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Informatika membatasi operasional WhatsApp hingga 2-3 hari ke depan. Pembatasan itu dilakukan karena banyak informasi yang viral, cepat menyebar, dan langsung berpengaruh pada kondisi psikologis masyarakat terkait demo 22 Mei 2019.

Berdasarkan pengalaman Tempo, VPN bisa diakses dengan menggunakan salah satu aplikasi penyelenggara VPN yang diunduh di Google Play. Setelah terhubung dengan jaringan melalui aplikasi tersebut, Tempo bisa kembali membagikan foto maupun video menggunakan WhatsApp.

Secara umum, Alfons menyebut ada tiga risiko penggunaan VPN bagi masyarakat.

1. Data bisa bocor

Alfons mengatakan berbagai data penting pengguna VPN bisa bocor dan dimiliki pihak lain. Terutama data-data yang perlindungannya kurang baik. "Data penting seperti kredensial akun, data kartu kredit, login internet banking yang tidak dilindungi dengan baik akan bocor," ujar dia. 

Sebab, kata Alfons, cara kerja VPN mirip dengan penggunaan hotspot di kafe atau server proxy di kantor. Bedanya server VPN ini ada di luar negeri atau di satu tempat antah berantah yang tidak ketahui.

2. Kebiasaan pengguna di media sosial bisa disalahgunakan 

Menurut Alfons, penyelenggara VPN bisa mengetahui profil dari pengguna VPN, meski data-data pribadinya sudah diamankan dengan baik. Profil itu misalnya riwayat browsing dari pengguna, hobinya apa, hingga kecenderungan politik yang terlihat dari situs-situs yang dikunjungi dan terekam dengan baik di server VPN.

"Ini bisa digunakan untuk kepentingan iklan atau lebih parahnya digunakan untuk mempengaruhi user," kata Alfons. "Misalnya saja diketahui orangnya masih bimbang memilih (konteks politik), lalu ditampilkan iklan-iklan yang miring ke salah satu paslon seperti yang terjadi di Cambridge Analytica.

3. Rentan disusupi iklan dan malware

Trafik VPN yang masuk ke user, ujar Alfons, dengan mudah bisa disusupi iklan atau malware. "Apabila digunakan untuk menginfeksi user dengan malware, risikonya tidak kalah bahaya dengan kasus Spyware Israel di Whatsapp kemarin," ujar dia.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Berakhirnya penyekatan akses masuk wisata Pantai Ujung Genteng dan Pantai Pangumbahan bukan berarti sejumlah destinasi wisata di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, dibuka bebas.  Camat Ciracap, Deden Sumpena mengatakan...

SUKABUMIUPDATE.com -  MotoGP Jepang tahun ini telah menjadi seri keenam yang secara resmi dibatalkan. Mulanya balapan di Sirkuit Motegi akan diadakan pada 18 Oktober, antara Thailand GP dan Malaysian...

SUKABUMIUPDATE.com - Pernah merasa kehilangan motivasi tentang pekerjaan Anda, lalu tak dapat menyelesaikannya dengan baik? Mungkin sekarang saatnya Anda mengganti pekerjaan.  Karier saat ini mungkin memberi Anda gaji yang layak,...

SUKABUMIUPDATE.com - Memasuki Juni 2020, sejumlah drama Korea baru siap hadir menyapa penonton. Tentunya menawarkan berbagai genre dan cerita menarik. Bukan hanya dari plotnya saja, tapi drama Korea yang bakal...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya