Menu

08 Mar 2020, 08:45 WIB

Dinkes dan Imigrasi Sukabumi Bicara Corona, Bersama Cegah Covid-19

. | Sumber Foto:Budiono

SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah mengkonfirmasi kasus baru penyebaran virus corona Covid-19 di Indonesia. Jumat (6/3/2020), Kementerian Kesehatan mengonfirmasi 2 lagi WNI positif virus corona. Kini, jumlah pasien virus corona menjadi 4 orang.

Rangkaian peristiwa tersebut telah memicu kepanikan masyarakat dan terjadi panic buying, warga memborong bahan kebutuhan pokok sampai alat-alat medis tertentu. 

Di Sukabumi, ada pasangan suami istri yang beberapa hari pulang dari umroh masuk RSUD R Syamsudin SH, Minggu (1/3/2020). Dari riwayat perjalanan, dalam perjalanan umroh ini mereka sempat transit di Abu Dhabi yang merupakan daerah terjangkit.

Saat itu sang suami berinisial S datang dengan gejala batuk, pilek dan demam. Kemudian dari hasil konsultasi ditetapkan bahwa  S ini dalam kategori pemantauan. Sedangkan sang istri berinisial T mengeluhankan sesak napas, batuk, pilek. Dari hasil konsultasi akhirnya kita tetapkan dalam kategori pengawasan dan langsung dipindahkan ke ruang isolasi. Dalam isolasi ini T meninggal dunia pada Minggu (1/3/2020) sekitar pukul 24.00 WIB.

Bagaimana seharusnya kita meresponnya? apa saja tindakan yang sudah, sedang dan akan dilakukan pemerintah daerah untuk mencegah Virus Corona. Berikut wawancara dengan Kadinkes Kabupaten Sukabumi Harun Al Raysid, kemudian Plt Kadinkes Kota Sukabumi Rita Fitrianingsih dan Humas Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Sukabumi Adi Heryadi, dalam acara Tamu Mang Koko di Kantor Sukabumiupdate. com, Sabtu (7/3/2020).

Kepada ibu Rita, hingga saat ini apakah masih ada yang diisolasi di RSUD R Syamsudin SH?

Data yang ada di Dinkes. Kita mencatat dua orang dengan kondisi Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Satu sudah meninggal (pada Minggu 2 Maret 2020). Keduanya pasien berasal dari Kabupaten Sukabumi. Sampel (dari kedua pasien) sudah dikirim ke Balitbangkes di Jakarta. (sampel) yang pertama sudah kita kirim dan kita menunggu hasil karena yang kita kirim bukan swap tenggorokan tapi adalah sampel darah. Untuk (sampel) pasien yang kedua juga sudah dikirim oleh Dinkes Kabupaten Sukabumi. Karena kita (Dinkes Kota Sukabumi) sudah bargaining dengan Kabupaten, kalau pasiennya kabupaten yang ngirimnya (Dinkes) kabupaten walaupun yang pertama yang mengirim (sampel) adalah Kota Sukabumi. 

Infonya ada warga Cianjur yang juga diisolasi di RSUD R Syamsudin SH?

Pasien ini memang kemarin masuk (setelah) melakukan perjalanan umroh. Dan sudah dikonfrim melalui pemeriksaan radiologi ternyata tidak ada kelainan. Dan akhirnya pasien ini dipulangkan dengan status Orang Dalam Pemantauan (ODP). Selanjutnya yang memantau adalah Dinas Kesehatana Cianjur. 

Apa yang dilakukan Dinkes Kota Sukabumi ketika pemerintah menyatakan adanya positif Corona di Indonesia? 

Sejak dinyatakan bahwa Indonesia ada konfrim kasus (positif Corona) pada tanggal 2 Maret kemarin (yang disampaikan) Presiden Jokowi langsung. Kita pun langsung bergerak, walaupun sebenarnya sistem surveilans itu adalah sistem yang sudah bergerak tanpa ada kasus Covid-19 pun kita memiliki sistem surveilans untuk penyakit-penyakit yang terkait dengan warga. 

Hal apa lagi yang dipersiapakan pemerintah Sukabumi?

RSUD R Syamsudin SH adalah rumah sakit rujukan. Ada tujuh RS yang menjadi rujukan di Jabar. Terutama RSUD Syamsudin SH ini merupakan rumah sakit rujukan di wilayah Jabar selatan. 

Ada istilah PDP dan ODP apa itu? 

Yang satu ODP yaitu Orang Dalam Pemantauan dengan kriteria setelah melakukan perjalanan keluar negeri dan tidak ada gejala-gejala pneumonia. Pneumonia itu adalah radang paru-paru yang dikonfirmasinya dalam bentuk pemeriksaan radiologi. Satu lagi PDP yaitu Pasien Dalam Pengawasan. Kalau pasien itu sudah dirawat. 

Hal apa yang bisa menularkan Covid-19, karena saat itu beredar hoaks virus ini bisa menular melalui HP merk tertentu?

Covid-19 itu adalah penyakit yang transmisinya melalui droplet. Droplet itu percikan ludah atau ingus yang dipercikan oleh seorang penderita yang masuk ke saluran atau mukosa lapisan lendir. Tubuh kita yang ada lapisan lendir ada di wajah semua, lapisan lendir mata, hidung, mulut. Ini adalah entri poin.

Perkara HP, bisa saja menularkan (Covid-19) apabila (HP milik) seorang yang konfirm kasus Covid-19 dipinjam oleh kita. Karena di HP-nya ada percikan ludah. 

Ada virus lain yang lebih berbahaya dari Corona?

Ada kelompok virus lain lagi yang sejenis dengan Corona ini yang sebenarnya memberikan dampak kematian yang lebih tinggi. Kita mengenal SARS tahun 2012, kemudian kita juga mengenal MERS itu sama penyebabnya adalah kelompok virus Corona. Angka kematian SARS itu 10 persen dari yang menderita. Angka kematian dihitung dari jumlah yang menderita dibanding jumlah yang meninggal, jumlah yang meninggal dibanding jumlah yang menderita. 

MERS itu (angka) kematiannya lebih tinggi lagi, 30 persen. Covid-19 yang kita kenal sekarang ini angka kematiannya hanya 3,4 persen dari total sedunia. 

Soal masker yang kini menjadi langka, bagaimana tanggapannya?

Ini adalah suatu mispersepsi yang terlanjur diterima masyarakat dengan salah. Masker itu adalah alat pelindung yang sakit atau tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit. Jadi kalau kita merasa sehat tidak perlu menggunakan masker. Masker yang digunakan oleh orang sehat itu justru alat pencegahan bersifat semu, kenapa? karena prinsip pencegahan Covid-19 ini adalah mengurangi sebanyak mungkin menyentuh wajah. Ketika seseorang menggunakan masker, misalkan ketika mau makan mau tak mau tangan lebih sering menyentuh wajah. 

Apa yang harus dilakukan masyarakat untuk mencegah Corona?

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus itu dalam kategori kita disebut adalah self limited disease, penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya, kategorinya itu. Apa yang bisa mencegah virus tadi karena virus tadi tidak ada obatnya. Yaitu kita meningkatkan daya tahab tubuh dengan makan-makanan yang sehat, berolahraga. 

Mengenai istilah suspeck dan Corona itu apa gejalanya?

Seperti yang telah disampaikan oleh juru bicara presiden adalah diduga atau terduga nggak menggunakan istilah suspeck. Diduga atau terduga Covid-19, itu tadi dengan kategori panas 38 derajat, letih kemudian batuk, pilek, sesak, radiologis ada pneumonia ditambah pernah berkontak dengan yang penderita yang sudah konfirm. Kemudian pernah menangani di rumah sakit dengan penderita yang sudah konfirm. Atau mengunjungi negara dalam waktu kurun 1 sampai 14 hari dari negara yang sudah terjangkit. Naik lagi begitu dia termasuk kelompok diduga Covid-19 dia setelah dirontgen ada pneumonia atau radang paru-paru harus diambil swapnya. Karena pasien ini sudah masuk kategori PDP. Nah itu wajib diambil (sampel) apus tenggorokannya dikirim ke Balitbangkes. Hasilnya bisa jadi negatif, karena penyebab infeksi paru-paru, orang dengan sesak, pneumonia kan belum tentu penyebabnya Covid-19, kan tadi saya sudha bilang (bisa jadi) H5NI atau mungkin ada penyakit penyerta dan penyakit yang harus kita takutkan ada lah TB Paru. 95 ribu pertahun warga Indonesia meninggal karena TB. 

Kepada pak Harun, langkah Dinkes Kabupaten Sukabumi apa untuk menghadapi virus Corona?

Sebagai suatu langkah dan upaya kita dalam menindaklanjuti dari Gubernur Jabar yang telah membentuk crisis center Covid-19. Kita membentuk satgas, satgas ini yang paling utama adalah lebih ditujukan supaya masyarakat jangan terlalu cemas, gelisah ataupun diliputi rasa ketakutan berlebihan. Langkah-langkah yang akan kita lakukan lebih terarah kepada upaya yang sifatnya preventif dan promotif. Sebab preventif dan promotif mencegah rasa ketakutan masyarakat terhadap Corona ini. Karena Corona ini yang paling pokok penularannya bisa melalui tangan segala macam. Dan kenapa kita tidak perlu takut, karena negara Indonesia ini ada di Jambul Khatulistiwa yang paling kena sinar matahari.

Kenapa kita tidak perlu takut, karena Indonesia ini negara dengan sistem agraris, negara dengan pangan yang paling banyak. Dimana makanan dan rempah-rempah yang bisa mencegah Covid-19 itu pusatnya ada di Indonesia.

Tugas yang paling pokok pada Satgas virus Corona ini apa?

Yang paling pokok pada satgas ini melibatkan beberapa SKPD yang terkait. SKPD yang terkait bagaimana membangun satu sistem komunikasi dan informasi supaya informasi yang diterima baik oleh pengambil kebijakan maupun masyarakat tidak salah. Karena malah lebih besar bahayanya informasi yang salah daripada Covid-19. 

Ada sasaran, yang pertama Pasien Dengan Pengawasan (PDP) yang kedua Orang Dengan Pemantauan (ODP) dan itu memang tidak perlu dilakukan secara terbuka. Karena setiap pasien ataupun setiap masyarakat berhak mendapat perlindungan privasi. Karena baik dari undang-undang kesehatan, undang-undang kedokteran maupun undang-undang kebebasan publik itu tidak boleh menyebutkan diagnosa. Pertama yang boleh disebutkan itu jenis kelamin laki-laki atau perempuan dan nomor registrasi. Karena dengan menyebut by name bay adress otomatis masyarakat bisa menjustifikasi pertama menjustifikasi dari segi stigmanya dan bisa menimbulkan diskriminasi yang akhirnya timbul suatu kericuhan yang tidak diinginkan.

Karena kalau lihat data dari 64 negara (yang telah mengonfirmasi infeksi virus corona Covid-19) ada nilai positif dan negatifnya. Kasus yang ada baru tercatat 88.227 dari 64 (negara) termasuk empat (positif corona) di Indonesia. (Dari kasus-kasus infeksi yang terjadi) yang meninggal adalah diangka 3.006 jiwa. Dari (kasus positif infeksi virus corona Covid-19) ini sebenarnya 50 persen sudah dinyatakan sembuh dan ini adalah merupakan suatau yang bagus. Kalau kita mau jujur, kita masih ketakutan dengan yang TB MDR yang kedua kasus yang merebaknya sekarang difteri, malah itu lebih ganas sebenarnya. 

Yang penting dalam kasus ini bagaimana deteksi dini terhadap terjadinya Covid-19. Tentunya deteksi dini akan menjadi tanggungjawab kita. Baik tanggungjawab surveilans yang berbasis tenaga kesehatan maupun surveilans yang berbasis masyarakat.

Untuk Pak Harun, ketika merasa batuk hingga sesak apa mesti curiga Corona? 

Yang disebut dengan gejala penyakit, belum tentu penyakit. Setiap gejala yang timbul tadi ada panas, batuk sesak napas, ada pneumonia, belum tentu dijustifikasi menjadi tadi (Covid-19). Tapi sebagai satu kewaspadaan kita semua dikala dengan rentetan gejala tersebut maka kita harus curiga bahwa itu bisa Covid-19. 

Tentunya Covid-19 yang didukung oleh gejala-gejala tadi tentunya harus ada alasan yang mendasar, misalkan pernah kontak dengan orang yang dari luar negeri atau pun sudah berpergian. 

Kepada pak Adi, potensi masuknya Covid-19 itu dari WNA yang datang dari negara terjangkit kemudian WNI yang punya riwayat perjalanan dari negara terjangkit, yang ketiga WNA yang tinggal di Sukabumi kemudian pergi ke negara terjangkit dan kembali lagi. Bagaimana antisipasi dari Imigrasi soal ini?

Kalau imigrasi Sukabumi itu tidak membawahi tempat pemeriksaan imigrasi. Tentunya yang benar-benar terkait adalah bandara-bandara atau imigrasi yang membawahi bandara atau pelabuhan laut. Pasti disana Dirjen Imigrasi sendiri pada awal-awal yang terjadi di Wuhan, Cina, itu langsung menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 memberhentikan bebas visa, izin kunjungan kemudian izin tinggal dari negara yang sumber itu (Corona). Setelah istilahnya diblokade itu artinya tidak ada yang masuk lagi. Kalau WNA atau WNI yang memiliki riwayat perjalanan ke negara terjangkit diskrining di bandara. 

Ketika terjadi penyebaran, pemerintah atau dalam hal ini Dirjen Imigrasi langsung mengeluarkan kebijakan langsung memberhentikan izin tinggal bebas visa, izin kunjungan dari negara Republik Rakyat Tiongkok. Dan peraturan itu berakhir tanggal 28 Februari 2020 langsung diperbaharui lagi dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 7 Tahun 2020 bahkan diperluas lagi karena seiring dengan penyebaran (virus Corona). Kalaupun ada (dari Tiongkok) masuk ke Indonesia (sebelumnya) harus mengajukan KBRI (lalu) harus ada surat keterangan bebas virus Corona kemudian mengisi pernyataan bersedia untuk isolasi selama 14 hari. Bukan hanya orang Tiongkok (saja), orang asing yang sudah berkunjung dari negara Tiongkok tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan. 

Di Sukabumi kan banyak WNA yang bekerja, apa upaya yang dilakukan Imigrasi? 

Kantor Imigrasi Sukabumi pada 18 Februari 2020 kita mengundang 60 perusahaan di Kota dan Kabupaten Sukabumi yang menggunakan tenaga kerja asing. Kemudian kita undang narasumber dari Dinkes Kabupaten Sukabumi dan dokter spesialis RSUD Sekarwangi disitu disosialisasikan bagaimana mencegah penyebaran virus Corona.

Ada WNA yang mengajukan izin tinggal keadaan terpaksa? 

Di Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 kemudian yang sekarang diubah nomor 7 2020, memang ada namanya izin tinggal keadaan terpaksa karena mungkin tidak ada alat angkut ke negara tersebut sehingga diberikan izin tinggal dalam keadaan terpaksa. Dan di Imigrasi Sukabumi sendiri itu baru satu orang WNA yang mengajukan. Baru satu.

Redaktur : ANDRI SOMANTRI
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Pandemi global ketiga yang disebabkan oleh virus corona baru membuat sebagian besar orang di seluruh dunia cemas. Dilansir dari suara.com, kecemasan ini membuat masyarakat melakukan panic buying, yakni...

SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah video singkat memperlihatkan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi bersama Wakil Wali Kota Sukabumi Andri Hamami dan Sekda Kota Sukabumi Dida Sembada melakukan video conference bersama jajaran...

SUKABUMIUPDATE.com - Merebaknya virus corona baru atau Covid-19 membuat masyarakat semakin memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Melansir dari tempo.co, anda bisa menggunakan air dan sabun sebagai senjata utama untuk...

SUKABUMIUPDATE.com - Status kegawatdaruratan Kota Sukabumi bakal meningkat setelah seorang warga terkonfirmasi positif Corona dari hasil swab. Hal ini diungkapkan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi pada konferensi pers di Kantor...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya