Menu

Minggu, 22 September 2019, 11:31 WIB

Menelusuri Penyebab Keracunan Massal yang Terjadi Beruntun di Kabupaten Sukabumi

Dinkes Kabupaten Sukabumi. | Sumber Foto:

SUKABUMIUPDATE.com - Kasus keracunan massal secara beruntun terjadi di Kabupaten Sukabumi. Dalam seminggu terdapat tiga peristiwa. Jumlah korban keracunan mencapai ratusan orang. Keracunan massal ini terjadi di Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Senin (16/9/2019), Sebelumnya di Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung, Selasa (10/9/2019) dan dialami ratusan buruh garmen di Parungkuda, Selasa (10/9/2019) siang. Kasus keracunan yang diduga dari makanan ini merenggut nyawa dua warga Desa Bojonggaling, Kecamatan Bantargadung.

Apa sebabnya? berikut wawancara dengan PLt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi Harun Alrasyid dan Kabid Yankes Dinkes Kabupaten Sukabumi Rika Mutiara Sukanda di acara Tamu Mang Koko.

Peristiwa keracunan makanan terjadi secara berurut-turut apa penyebabnya Pak Harun?

Tentunya sebelum kita menginjak kepada penyebab keracunan makanan. Harus dijelaskan dulu apa sih pengertian atau definisi keracunan makanan. Jadi yang disebut keracunan pangan atau makanan kalau kita berpedoman kepada Permenkes nomor 2 tahun 2013, yang disebut dengan keracunan pangan itu adalah orang bisa mengalami keracunan yang bersumber dari sumber hayati maupun air. Yang disebut air ataupun sumber hayati ini berarti yang sudah terpapar oleh bakteri Campylobacter, yang kedua ada yang disebut bakteri Staphylococcus, dan ada yang disebabkan oleh jamur biasanya Candida. Tentunya pada air juga ditemukan Ecoli.

Faktor lain yang bisa menimbulkan keracunan?

Tentunya untuk melihat kepada penyebab keracunan ini bisa dilihat dari empat hal. Pertama bagaimana si masyarakat cara mendapatkan makanannya, misalnya bumbu masaknya didapat dari mana, dilihat tidak masa kadaluarsanya. Kemudian dilihat bagaimana cara pengolahannya. Ini sangat penting, karena cara pengolahan yang terjadi pada kasus-kasus yang terjadi pada tiga tempat dalam dua pekan terakhir ini memang juga dilihat dari cara pengolahannya. Memasaknya mulai dari jam 7 malam. Kemudian disajikan pada (besoknya) pukul 11-12. Sudah lewat dari 12 jam, dari kondisi makanannya sudah tidak layak.

Selain pengolahan ada fakor lainnya Pak Harun?

Kemudian cara penyajiannya apakah sudah terbebas dari lalat ataupun dari kondisi-kondisi lain yang bisa mempengaruhi makanan tersebut. Dalam penyajiannya apakah sudah memenuhi syarat kesehatan apa tidak. Faktor yang paling mempengaruhi kondisi air,  terutama yang membagi sanitasi dasarnya. Kalau dilihat dari tiga tempat yang terjadi keracunan tersebut memang faktor sanitasi yang jelek. Didukung juga dengan faktor lingkungan, musim kemarau, itu juga berpengaruh. Kalau dilihat dari kasus Bantargadung ini bersumber (dari sanitasi) yang dicemari oleh hewan. Memasaknya juga di dapur berlantai tanah, hasil investigasi di lapangan juga ditemukan kotoran tikus di tempat masak dan pekarangan rumah.

Bu Rika kandungan apa yang mengkontaminasi makanan?

Pada kasus keracunan makanan ini memang bisa dua, bisa zat kimia atau biologi. Kalau misalkan zat kimia didapatkan dari air atau zat-zat yang memang merugikan kesehatan. Kalau biologi itu adanya bakteri, virus atau jamur yang masuk ke makanan. Kalau secara spesifik memang harus ada (hasil) dari laboratorium. Tapi terduganya seperti dari makanan-makanan karena (terkontaminasi) bakteri.

Kepada Pak Harun kalau hasil lab dari kasus-kasus keracunan kapan keluarnya?

Keracunan ini disebabkan bakteri yang bersumber dari hewan. Itu dugaan sementara, bukannya tidak ilmiah tapi diambil (sampel) dari tinja si korban keracunan. Dari hasil sementara yang didapat tentunya kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di provinsi (Bandung). Biasanya 7 sampai 10 hari (hasil keluar) setelah pengambilan sampel itu. Cuma dari hasil pemeriksaan sementara ternyata disana ditemukan bakteri yang sifatnya microaerophilic, jadi perkembangan si bakteri di dalam makanan akan lebih cepat dikala pada suhu panas. Otomatis kan kemarau ini akan sangat panas. Bakteri (yang ditemukan) Kampilobakter Jejuni bisa menimbulkan gejala Guilliain Barre Syndrome (GBS) Bisa memimbulkan sakit kepala yang sangat luar biasa, sakit badan, diare, muntah, pusing malah yang terakhir bisa menimbulkan kelumpuhan syaraf, yang akhirnya bisa menimbulkan kematian.

Untuk Bu Rika, Apa semua hal tersebut yang memicu terjadinya keracunan?

Kalau kami investigasi ke lokasi, memang semuanya sangat mendukung, dari mulai tempat pengolahan makanannya, dari cuaca panas kemudian berdebu dan sumber air yang memang tidak bagus, ada warnanya ada baunya ada banyak kotoran-kotoran hewan. Memang semua mendukung.

Ada temuan lain di lokasi keracunaan Pak Harun? 

Hasil wawancara dan identifikasi lapangan yang dilakukan juga hasil penyelidikan epidemiologi (pe) memang disitu ditemukan ada perubahan warna pada telurnya (pada kasus keracunan di Bantargadung). Terutama warna kuningnya berubah menjadi warna kemerahaan. Mungkin didapatkanya dari telur yang sudah pecah.

Bagaimana penanganan yang dilakukan Dinkes terhadap korban keracunan?

Kita di Dinkes, setiap kejadian apapun, setiap keluhan yang masuk sekecil apapun kita harus cepat tanggap. Terutama dalam kasus keracunan ini kita punya tim reaksi cepat. Kita menerjunkan tim ke lapangan untuk menangani korban keracunan tersebut. Karena rata-rata kalau yang keracunan makanan terganggunya keseimbangan cairan dalam tubuh, tentunya (kita) memenuhi (dulu) kebutuhan dasar manusianya. Kalau kekurangan cairan tubuh kita beri obat sesuai dengan takaran, itu penanganan yang menjadi prioritas kita. Setelah itu tertangani, yang paling pokok sebagai dasar rujukan keracunan ini berasal dari mana, kita melakukan penyelidikan epidemiologi (pe) selain identifikasi di lapangan. Dan yang perlu diamankan pengambilan sampel, makanan yang dikonsumsi atau muntahan si korban. Termasuk air yang digunakan sumbernya dari mana kita ambil untuk periksa.

Upaya apa yang dilakukan Dinkes agar keracunan tak terjadi lagi?

Pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan itu yang selalu dituntut masyarakat, disalahkan itu Dinkes. (Padahal) Dinkes pada program sanitasi bukan infrastrukturnya. Sasaran Dinkes adalah yang dikenal pemicuan yaitu merubah perilaku masyarakat. Untuk pemenuhan infrastruktur MCK, Sarana Air Bersih (SAB) ada di dinas yang lain misal di Distakimsih di PU. Tapi masyarakat menuntut semuanya ke Dinkes.

Kenapa hasil lab lama dan uji lab mesti ke Bandung?

Kalau untuk pemeriksaan yang sederhana ataupun pemeriksaan lain contohnya untuk pemeriksaan yang sifatnya kimia, pemeriksaan yang diambil dari sampel darah tentunya kita ada. Yang untuk sampel makanan ini, untuk menentukan apakah (sumber keracunan) terdapat pada daging ayam, daging sapi, telur dari hewan kenapa memerlukan waktu 7-10 hari karena itu memerlukan fermentasi. Nanti setelah (fermentasi) dalam tempo waktu misal 5 sampai 6 hari, akan kelihatan sumber makanan yang terpapar oleh bakteri dari ini. 

Kenapa di Bandung karena aturan dan prosedur harus di BPOM. Kita ada Lakesda untuk air dan pemeriksaan sederhana. Kemarin itu ketika kita menduga (keracunan akibat) bakteri kampilobakter jejuni sebenarnya itu diambil dari sampel tes-tes yang keracunan makanan dan kemudian dengan pewarnaan gram, itu yang cepat. 

Dari kejadian ini apa yang dilakukan Dinkes?

Setelah tiga titik kejadian keracunan makanan, kita merekomendasikan beberapa hal pertama merekomendasikan untuk mengeluarkan surat edaran bisa oleh kepala daerah, bisa dari kepala dinas untuk selalu waspada. Dan khususnya kepada jajaran kesehatan baik pada tingkat puskemas dan jaringan berikut Dinkes untuk selalu waspada dan melakukan deteksi dini terhadap KLB. Jadi jangan sampai selalu ada anggapan baik dari masyarakat, petugas kesehatan ataupun pejabat lainnya menyatakan setiap kejadian itu takdir. Memang musibah ini adalah takdir, tapi tentunya harus melihat sebab akibatnya. Minimal kita sudah maping area ke setiap wilayah apalagi musim kemarau yang sangat panjang. Yang kita harapkan ada masyarakat yang peduli kesehatan dengan petugas kesehatan melakukan maping area deteksi dini KLB. Misalkan di Bantargadung itu sudah berulang kali, minimal kita Dinkes, puskemas dengan Dinas perindustrian perdagangan (DPKUKM) melakukan operasi pasar untuk melihat apakah kondisi makanan sudah masih layak dikonsumsi, (dengan operasi pasar) kadaluarsanya (makanan) atau sudah jamuran kan bisa dilihat. 

Kepada Ibu Rika, rata-rata orang menggelar kegiatan selalu menggunakan bumbu jadi yang dijual di pasar, higeniskah? 

Itu lah yang dimaksud kenapa kita harus sinergis, harus koordinasi dengan OPD lain, karena untuk memeriksa bumbu-bumbu itu dari mulai cara mengolahnya, dari mulai mendapatkan cabai dan lainnya, itu Dinkes rasanya bukan tupoksi kami lagi. Makanya operasi pasar memang perlu dilakukan oleh OPD lain. Karena di pasar, bumbu berwarna warni itu apakah disitu pakai pewarna apakah natural, natural juga apakah sudah berapa hari penyimpannya.

 

Redaktur : ANDRI SOMANTRI
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.
    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya