Menu

12 Peb 2020, 06:00 WIB

Kerokan Terkenal di Indonesia, tapi Waspadai 5 Hal Ini

Pemain asing Persib Bandung, Rene Mihelic, rasakan sensasi kerokan. | Sumber Foto:Instagram@renemihelic3

SUKABUMIUPDATE.com - Di Indonesia, bersama dengan teh hangat, kerokan seolah didapuk sebagai solusi dari segala penyakit. Dilansir dari tempo.co, masuk angin, pegal-pegal, hingga batuk dan pilek dianggap bisa diselesaikan dengan sebutir koin dan olesan minyak angin. Memang, metode ini bisa memberikan manfaat untuk kesehatan. Namun, bahaya kerokan juga nyata adanya.

Bahaya kerokan yang selama ini cukup ternama adalah angin duduk atau yang dalam bahasa medis, disebut sebagai angina pectoris. Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut. Sehingga, kerokan sebagai penyebab angin duduk sebenarnya hanyalah mitos.

Kerokan adalah metode pengobatan tradisional yang seringkali dijalankan oleh masyarakat di Asia tenggara, termasuk Indonesia. Secara umum, metode ini sebenarnya aman untuk dilakukan. Meski begitu, bahaya kerokan bisa saja muncul sebagai efek samping yang sulit dicegah, seperti berikut ini.

1. Menyebabkan memar dan bengkak di area yang dikerok

Proses kerokan membuat pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit yang disebut pembuluh darah kapiler, pecah. Hal ini membuat kulit jadi terlihat memar dan merah setelah terapi ini selesai dilakukan. Pada beberapa orang, pembengkakan juga bisa muncul di area kulit yang dikerok. Umumnya, memar dan pembengkakan yang terjadi akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu.

2. Berisiko menimbulkan perdarahan

Kerokan tidak seharusnya menyebabkan perdarahan. Namun, jika tekanan yang diberikan di kulit dilakukan secara berlebihan, maka pecahnya pembuluh darah kapiler tidak hanya akan menghasilkan memar, tapi juga perdarahan minor.

3. Berisiko memicu penularan penyakit

Keluarnya darah dari permukaan kulit, juga membuka kesempatan terjadinya infeksi yang bisa menular melalui darah. Risiko penularan penyakit melalui kerokan juga akan meningkat apabila koin atau alat lain yang digunakan untuk terapi ini tidak steril dan telah digunakan oleh lebih dari satu orang.

4. Mengakibatkan nyeri

Ada orang yang bisa menahan sakitnya dikerok, ada yang tidak. Apabila Anda termasuk yang tidak bisa menahan rasa sakitnya, sebaiknya jangan terlalu memaksakan untuk menjalani terapi ini.

5. Tidak semua orang cocok dikerok

Tidak semua orang cocok untuk dikerok. Sebab, terapi ini berhubungan dengan pecahnya pembuluh darah kapiler. Kelompok individu dengan kondisi berikut ini, sebaiknya menghindari kerokan:

a. Mempunyai riwayat gangguan medis yang menyerang kulit atau pembuluh vena

b. Mudah berdarah

c. Sedang mengonsumsi obat pengencer darah

d. Menderita deep vein thrombosis

e. Sedang mengalami infeksi, tumor, atau luka yang belum sembuh sempurna

f. Menggunakan implan di organ tubuh, sepergi alat pacu jantung dan defribilator internal

 

Sumber : tempo.co

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Dilansir dari tempo.co, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo menerbitkan surat edaran agar pegawai negeri sipil (PNS) di wilayah dengan status pembatasan sosial berskala...

SUKABUMIUPDATE.com - KNPI Kecamatan Surade, Komunitas Brutalla, Jampang Peduli (Jampe) dan para relawan di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi melaksanakan penyemprotan disinfektan, pembagian hand sanitizer serta masker.  Selama dua minggu dilaksanakan,...

SUKABUMIUPDATE.com - Selama pandemi virus corona, masyarakat diwajibkan untuk berdiam di rumah. Dilansir dari tempo.co, hal yang sama pun berlaku bagi pasangan suami istri. Sayangnya, kebersamaan yang ditambah dengan...

SUKABUMIUPDATE.com - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jabar memutuskan, pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) untuk SMA sederajat di rumah masing-masing kembali diperpanjang hingga 27 April 2020 mendatang.  Perpanjangan PBM ini merupakan...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya